LPG 3 Kg Terancam Tergeser Diganti CNG yang Murah Tapi Risiko Ledakan Tinggi

10 hours ago 8
Pabrik semenBupati Wonogiri Setyo Sukarno menimbang elpiji melon di SPBE Ngadirojo, Selasa (11/3/2025). Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pemerintah mulai serius menyiapkan skenario besar yang bisa mengubah cara masyarakat Indonesia memasak di rumah. Setelah bertahun-tahun bergantung pada LPG 3 kg subsidi, kini muncul rencana baru: mengganti sebagian penggunaan elpiji dengan Compressed Natural Gas (CNG). Uji coba bahkan ditargetkan mulai berjalan pada 2026 dan fokus awal diarahkan ke kota-kota besar di Pulau Jawa.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun. Masalahnya, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Artinya, lebih dari 80 persen kebutuhan LPG Indonesia masih bergantung pada impor. Efeknya langsung menghantam anggaran negara karena subsidi LPG 3 kg sudah menembus Rp87 triliun per tahun.

Situasi itu membuat pemerintah mulai mencari opsi yang dianggap lebih murah dan lebih stabil untuk jangka panjang. Salah satu yang kini dipilih adalah CNG, gas berbasis metana yang berasal dari gas bumi domestik Indonesia.

Kalau rencana ini benar-benar berjalan masif, bukan tidak mungkin tabung hijau LPG 3 kg perlahan mulai tergeser. Apalagi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah menyebut pengembangan tabung CNG 3 kg sedang diuji coba dan dipersiapkan untuk masyarakat rumah tangga.

CNG sendiri sebenarnya bukan barang baru. Selama ini gas jenis tersebut lebih dikenal untuk bahan bakar kendaraan atau industri tertentu. Bedanya, sekarang pemerintah ingin membawanya masuk ke dapur masyarakat.

Secara teknis, CNG berbeda jauh dengan LPG. LPG disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan tertentu, sedangkan CNG tetap berbentuk gas namun dipadatkan menggunakan tekanan sangat tinggi. Kandungan utama CNG adalah metana hingga sekitar 95 persen.

Karena berasal dari gas bumi, pemerintah melihat CNG punya peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Indonesia disebut memiliki cadangan gas bumi yang jauh lebih besar dibanding cadangan minyak.

Selain itu, distribusi CNG dinilai lebih fleksibel. Gas ini bisa dikirim ke daerah yang belum memiliki jaringan pipa gas rumah tangga. Model distribusinya bahkan disebut bisa memakai sistem klaster seperti yang sudah diterapkan di beberapa wilayah Yogyakarta dan Sleman.

Ada juga faktor teknologi yang membuat proyek ini makin didorong. Tabung CNG terbaru mulai menggunakan material komposit atau karbon yang lebih ringan namun lebih kuat dibanding tabung besi konvensional.

Meski terlihat menjanjikan, rencana peralihan LPG ke CNG tetap memunculkan kekhawatiran besar di tengah masyarakat. Sebab, penggunaan gas bertekanan tinggi otomatis membawa risiko baru yang tidak bisa dianggap remeh.

Namun risiko terbesar penggunaan CNG justru datang dari sistem infrastruktur dan kualitas keamanan. Salah desain stasiun pengisian, tabung berkualitas buruk, hingga pengawasan keselamatan yang lemah bisa memicu kebakaran maupun ledakan.

Masalah ini menjadi perhatian serius karena pembangunan infrastruktur CNG juga tidak murah. Biaya pembangunan stasiun pengisian bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan dolar. Dalam banyak kasus di negara berkembang, pengurangan biaya keselamatan demi menekan pengeluaran justru menjadi pemicu kecelakaan fatal.

Risiko lain datang dari human error atau kesalahan manusia. Hal sederhana seperti merokok di dekat area pengisian CNG bisa berujung bencana karena gas ini sangat mudah terbakar ketika konsentrasinya di udara berada pada kisaran tertentu.

Kualitas tabung juga jadi titik paling krusial. Jika standar produksi dan pengawasan longgar, ancaman ledakan bisa meningkat drastis. Karena itulah penggunaan CNG untuk rumah tangga diprediksi bakal memunculkan perdebatan baru soal keamanan, kesiapan teknologi, hingga kesiapan masyarakat.

Di sisi lain, ada pula kekhawatiran soal distribusi. Jika pasokan CNG tersendat atau infrastruktur belum merata, masyarakat bisa menghadapi masalah baru seperti kelangkaan gas untuk memasak. Risiko ini bahkan disebut menjadi salah satu poin ekonomi paling tinggi dalam kajian penggunaan CNG.

Namun pendukung program ini menilai CNG tetap punya keunggulan besar. Selain dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan racun udara sebanyak bahan bakar lain, harga gas bumi domestik juga dinilai lebih stabil dibanding LPG impor yang sangat dipengaruhi harga global dan kurs dolar.

Perdebatan LPG versus CNG kini mulai memanas karena dampaknya bisa langsung menyentuh dapur jutaan warga Indonesia. Jika uji coba berhasil, perubahan besar pola konsumsi energi rumah tangga tinggal menunggu waktu.

✓ LPG selama ini dominan karena praktis dan infrastrukturnya sudah luas
✓ CNG dinilai lebih murah karena memanfaatkan gas bumi domestik
✓ Risiko kebakaran dan ledakan tetap jadi perhatian utama
✓ Infrastruktur pengisian dan distribusi masih jadi tantangan besar
✓ Kota-kota besar di Jawa diprediksi jadi lokasi awal penerapan
✓ Nasib LPG subsidi 3 kg berpotensi berubah jika proyek berjalan masif

Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|