SENTANI- Jika selama ini sosok ondoafi lebih banyak berbicara tentang persoalan adat dan hak ulayat. Menjadi penengah dari persoalan-persoalan masyarakat adat di wilayahnya, ternyata di Sentani, Kabupaten Jayapura ada sosok Ondoafi yang bisa menjadi contoh konkrit bagaimana membangun diri dan berkembang mengikut perkembangan saat ini.
Adalah Agustinus Marweri,Ondofolo Phongkoware, Doyo Lama, yang tidak sekedar mengurus masyarakat adat namun kini menjadi pengusaha perumahan. Dari kegigihannya, ia memulai dari pembangunan 1 rumah dan kini menjadi ribuan rumah. Menolak menyerah, terus belajar, dan tetap bersabar menjadi kunci ia sampai dititik ini. Ini terungkap dalam kegiatan diskusi peningkatan kapasitas bersama Kaka Jose yang dilakukan di Obhe Doyo Lama, Sabtu (17/7).
Dihadapan warganya yang berjumlah sekitar 200 orang ini, malam itu Ondoafi Marweri meminta anak-anak muda untuk terus belajar dan dimulai dengan mendengar apa yang disampaikan dari isi diskusi. “Saya bilang penting karena kita dulu hanya 14 marga di Doyo Lama tapi dengan adanya pmbangunan sekarang sudah ada penambahan marga lain. Kita sudah memberikan tempat untuk marga lain makanya penting agar bisa beradaptasi,” ungkapnya.
Ondoafi Marweri tak menampik jika selama ini orang Papua lebih banyak berjalan di tempat padahal seharusnya apa yang terjadi hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan esok juga harus lebih baik dari hari ini. “Orang Papua banyak juga yang sudah sarjana tapi belum bisa menolong juga untuk kita maju bersama,” bebernya.
Ia melihat bahwa ada persoalan mental tanding yang memang harus terus diasah, diingatkan dan diuji. “Kami bisa namun kadang kami merasa tidak bisa lebih dulu jadi seperti sudah minder, sudah kalah sebelum bertanding. Dari diskusi ini kami sadar kami harus bergerak, tak boleh berdiam,” tegasnya. Ondoafi Agustinus menyatakan bahwa keberhasilan tak jatuh dari langit dan tidak diberikan di telapak tangan melainkan akan diperoleh dari buah kerja keras.
“Motivasi Kaka Jose membangun kita lebih maju lagi. Orang lain datang tidak punya tanah tapi lebih sukses sedangkan kita yang punya tanah mengapa tidak bisa sukses, mengapa sulit sekali untuk sukses. Jadi kalau sudah mengerti silahkan jalan,” pintanya. “Lalu kita harus bersatu, ini juga jadi soal. Mengapa saat membayar mas kawin kita bisa duduk bersama dan kumpul semua yang diperlukan. Seharusnya cara ini juga diterapkan dalam membangun usaha. Harus sama – sama dan jangan ada iri hati,” pungkasnya.
Sementara Kaka Jose menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan adalah rangkaian agenda membangun kapasitas di wilayah Sentani. Dan materinya tentang 5 karakter yang diperlukan pemuda Papua untuk maju. “Akronimnya saya ambil dari nama Waibu sendiri yaitu Work Hard atau bekerja keras, Attitude, Integrity, Brave dan Unity dan kebetulan Ondoafinya seorang pengusaha sehingga tadi menjadi contoh,” beber Jose.
Ia menambahkan bahwa orang Papua bisa memiliki usaha bahkan mendukung yang lain untuk menciptakan ekosistem perumahan. Contoh itu ditunjuk langsung sosok Ondoafi Agustinus Marweri. “Ia (Ondoafi) seorang developer, adiknya pengusaha batu tela dan adik lainnya juga seorang pengusaha meubel. Artinya dari keluarga ini sudah bisa mandiri dan itu ditunjukkan oleh pak Ondo,” tambah Jose.
Dan untuk mencapai titik ini kata Jose dibutuhkan lima hal tadi yakni kerja keras, atitude yang baik jangan cepat emosi kemudian sabar dan tekun sedangkan integritas saya yakin orang Papua punya karakter ini sedangkan keberanian bukan berarti pegang parang lalu kejar orang melainkan contoh yang saya ilustrasikan soal orang Afrika yang sebenarnya mereka takut namun mereka harus melawan ketakutan itu untuk bisa bertahan hidup sehingga kadang peluang sekecil apapun meski harus bertarung dengan maut juga bisa mereka lakukan. “Ini seperti mengambil daging dari mulut singa,” imbuh Jose.
“Orang Papua suka minder mengantar surat lamaran kerja, buat proposal usaha dan kata berani saya aplikasikan untuk terus maju dan jangan malu, tabrak terus dan lawan rasa takut itu,” sambungnya. Kemudian united atau bersatu, ini juga jadi PR bagi orang Papua, orang Tabi karena jika satu sudah menbuat usaha maka yang lain akan iri hati, cemburu akhirnya merusak usaha yang sedang dilakukan.
Jose lantas mewanti bahwa populasi orang Papua juga masih menjadi ancaman sehingga jika tak segera bangkit maka situasi akan semakin sulit. Ia bahkan berani menggunakan kalimat punah. “Kepunahan di Papua cepat skali. Dulu orang bilang orang Indian di Amerika, orang Aborigin Austrasli akan punah tapi sampai sekarang tidak punah sementara orang Papua yang tak pernah disinggung soal kepunahan justru kini terancam.
“Di Biak tahun 2025 pemerintah membantu masyarakat asli Papua 700 mati. Artinya angka kematian itu memang tinggi dan bayangkan jika ini berlaku pada 42 kabupaten kota. Saya pikir dalam waktu 20 tahun lagi orang Papua benar-benar punah sehgga perlu melakukan sesuatu,” wantinya. Jose menggambarkan bahwa kunci kegagalan di Papua atau kondisi tersendatnya kemajuan Papua 60 tahun tidak jatuh di Monas, Jakarta, tidak jatuh di Amerika tapi jatuh di rumah tangga Papua.
“Kunci itu jatuh di individu muda yang tinggal begitu saja kemudian palang – palang jalan dan mengeluh bicara orang pendatang ini itu. Kunci jatuh di personal tapi kita selalu menuduh orang lain,” cecarnya. Pemuda asal Jembatan II Sentani ini menegaskan bahwa selama anak Papua tidak mau melakukan perubahan maka hingga Tuhan Yesus datang juga akan tetap sama.
Jose mengatakan bahwa sejatinya orang Papua lebih baik dari orang Yahudi . Iapun membuat perbandingan dimana Tuhan meletakkan Yahudi di awal peradaban dan satu lagi diakhir peradaban. “Orang Yahudi 3500 tahun lalu sudah mengenal peradaban. Tapi bangsa ini bangsa keras kepala dan tidak mempercayai Yesus. Sedangkan orang Papua datang terakhir dan belum 2 abad tapi sudah mengenal dan menerima Yesus,” ungkap Jose mengilustrasikan.
Lalu contoh lain adalah Jepang yang hanya butuh 100 tahun untuk menjadi negara adidaya. Padahal negara ini sempat menutup diri dari dunia luar. “Hingga tahun 1854 kapal uap dari Eropa masuk ke Edo atau saat ini disebut Tokyo. Setelah bertemu orang Eropa dan membuka diri mereka akhirnya menerima perubahan hanya tidak mentah-mentah. Jepang membangun diri mereka dengan dasar budaya sehingga akarnya benar-benar kuat,” sambung Jose.
Sedangkan di Papua kata Jose, pembangunan berjalan namun justru meninggalkan budaya dan maju menggunakan bucaya orang lain. “Jadi saya juga mau sampaikan bahwa lembaga kita Majelis Rakyat Papua yang ada perwakilan dimana-mana namun rasanya belum bisa berbuat banyak. Saya hanya mengingatkan untuk jangan mengeksekusi kebijakan menggunakan budaya orang lain,” imbuhnya. “Ingat fungsi MRP itu menjembatani dan jangan terus menerus mengatakan kelemahan itu ada di eksekutif,” sindir Jose.
Jose juga mengingatkan pemuda Waibu untuk memulai bekerja keras, gigih dan pantang mundur. Ini ibarat Tomako Batu yang sangat keras serta berharga. “Saya difitnah di media sosial, dikatakan berafilisasi dengan ini itu, saya tak peduli. Itu tidak akan merubah saya sebab saya Tomako Batu, saya keras dan tidak akan goyang hanya dengan fitnah begitu,” tegas Jose.
“Saya juga mengingatkan bahwa di Papua semua sudah disiapkan oleh alam. Tinggal bagaimana diberdayakan, dikelola untuk kehidupan. Jangan justru memiliki semua tapi malah menum gaya hidup slow livin. Jadi jangan marah kalau kita disebut pemalas,” kritiknya.”Satu lagi, ingat kita harus bersatu sebab sulit rasanya untuk tumbuh dan berkembang jika masih ada sikap iri, dengki dan saling menjatuhkan. Kita harus bersatu dan terus memberikan atmosfir positif bagi sesama. Saya yakin jika ini dilakukan maka perubahan itu bisa dilakukan dan dimulai dari Waibu,” tutupnya. (ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































