JAKARTA, SumutPos.co– Peta persaingan menuju Kongres VII Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) mulai mengerucut. Pendeta Penrad Siagian secara resmi mendeklarasikan kesiapannya maju sebagai Calon Sekretaris Jenderal, mendampingi Michael Wattimena yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum. Pasangan ini mengusung tajuk “Bertanding untuk Bersanding” sebagai manifesto perjuangan mereka.
Deklarasi yang berlangsung di Sekretariat Pengurus Pusat (PP) GMKI pada Sabtu (25/4/2026) tersebut menjadi momentum penegasan arah baru organisasi. Penrad Siagian mengungkapkan bahwa keputusannya menggandeng Michael Wattimena didasari oleh kesamaan visi besar untuk mengembalikan PIKI ke “fitrah” aslinya.
“Dari berbagai figur yang muncul, Bung Michael Wattimena adalah sosok yang paling siap, baik secara pengalaman maupun substansi visi-misi. Kami memiliki kerinduan yang sama: menjadikan PIKI sebagai rumah intelegensia yang kembali berpengaruh bagi bangsa dan negara,” tegas Penrad.
Mengembalikan Khitah Intelektual
Dalam pemaparannya, Penrad yang juga merupakan Anggota DPD RI ini menggarisbawahi pentingnya reposisi PIKI. Menurutnya, PIKI bukanlah organisasi kader layaknya organisasi kepemudaan (OKP) pada umumnya. PIKI harus berdiri sebagai wadah strategis bagi para pakar, akademisi, dan intelektual lintas bidang.
Ia menyoroti tren penurunan kontribusi pemikiran Kristen dalam kebijakan nasional selama beberapa tahun terakhir. Mengacu pada data riset, Penrad menyebut adanya jurang pemisah antara sejarah intelektual Kristen yang dulu menentukan arah republik dengan realitas saat ini.
“Inilah urgensi kami. PIKI harus kembali menjadi kekuatan intelektual yang relevan dan memberikan sumbangsih nyata bagi kebijakan publik serta gereja,” tambahnya.
Agenda Strategis dan Respons Global
Senada dengan Penrad, Michael Wattimena—atau yang akrab disapa BMW—menyoroti tantangan global yang tengah menghimpit. Mantan Anggota DPR RI dua periode yang kini menjabat sebagai Komisaris PT Pertamina International Shipping (PIS) ini menilai, di tengah turbulensi ekonomi dan politik dunia, Indonesia membutuhkan masukan-masukan cerdas dari kelompok intelegensia.
Pasangan BMW-PS berkomitmen untuk tidak sekadar berdiskusi di menara gading. Mereka merancang langkah konkret melalui pengawalan Program Legislasi Nasional (Prolegnas).
“Kami ingin memastikan pemikiran intelegensia Kristen masuk ke dalam proses pengambilan kebijakan di DPR dan pemerintah melalui naskah akademik dan kajian sistematis,” jelas Michael.
Pasangan ini merumuskan tiga agenda besar sebagai pilar gerakan mereka:
1. Riset Terstruktur: Memperkuat basis data dan kajian akademik dalam setiap usulan kebijakan.
2. Konsolidasi Intelektual: Menjadikan PIKI sebagai rumah besar bagi keberagaman latar belakang suku, sinode, dan teologi.
3. Distribusi SDM: Berperan sebagai pusat distribusi kader-kader ahli Kristen ke berbagai sektor strategis negara.
Menutup deklarasi, pasangan BMW-PS berharap dukungan penuh dari para pemilik suara dalam Kongres VII PIKI yang dijadwalkan berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026 di Jakarta. Mereka optimistis, kembalinya PIKI ke fitrah intelektual akan menjadi berkat besar bagi kemajuan Indonesia. (adz)
JAKARTA, SumutPos.co– Peta persaingan menuju Kongres VII Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) mulai mengerucut. Pendeta Penrad Siagian secara resmi mendeklarasikan kesiapannya maju sebagai Calon Sekretaris Jenderal, mendampingi Michael Wattimena yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum. Pasangan ini mengusung tajuk “Bertanding untuk Bersanding” sebagai manifesto perjuangan mereka.
Deklarasi yang berlangsung di Sekretariat Pengurus Pusat (PP) GMKI pada Sabtu (25/4/2026) tersebut menjadi momentum penegasan arah baru organisasi. Penrad Siagian mengungkapkan bahwa keputusannya menggandeng Michael Wattimena didasari oleh kesamaan visi besar untuk mengembalikan PIKI ke “fitrah” aslinya.
“Dari berbagai figur yang muncul, Bung Michael Wattimena adalah sosok yang paling siap, baik secara pengalaman maupun substansi visi-misi. Kami memiliki kerinduan yang sama: menjadikan PIKI sebagai rumah intelegensia yang kembali berpengaruh bagi bangsa dan negara,” tegas Penrad.
Mengembalikan Khitah Intelektual
Dalam pemaparannya, Penrad yang juga merupakan Anggota DPD RI ini menggarisbawahi pentingnya reposisi PIKI. Menurutnya, PIKI bukanlah organisasi kader layaknya organisasi kepemudaan (OKP) pada umumnya. PIKI harus berdiri sebagai wadah strategis bagi para pakar, akademisi, dan intelektual lintas bidang.
Ia menyoroti tren penurunan kontribusi pemikiran Kristen dalam kebijakan nasional selama beberapa tahun terakhir. Mengacu pada data riset, Penrad menyebut adanya jurang pemisah antara sejarah intelektual Kristen yang dulu menentukan arah republik dengan realitas saat ini.
“Inilah urgensi kami. PIKI harus kembali menjadi kekuatan intelektual yang relevan dan memberikan sumbangsih nyata bagi kebijakan publik serta gereja,” tambahnya.
Agenda Strategis dan Respons Global
Senada dengan Penrad, Michael Wattimena—atau yang akrab disapa BMW—menyoroti tantangan global yang tengah menghimpit. Mantan Anggota DPR RI dua periode yang kini menjabat sebagai Komisaris PT Pertamina International Shipping (PIS) ini menilai, di tengah turbulensi ekonomi dan politik dunia, Indonesia membutuhkan masukan-masukan cerdas dari kelompok intelegensia.
Pasangan BMW-PS berkomitmen untuk tidak sekadar berdiskusi di menara gading. Mereka merancang langkah konkret melalui pengawalan Program Legislasi Nasional (Prolegnas).
“Kami ingin memastikan pemikiran intelegensia Kristen masuk ke dalam proses pengambilan kebijakan di DPR dan pemerintah melalui naskah akademik dan kajian sistematis,” jelas Michael.
Pasangan ini merumuskan tiga agenda besar sebagai pilar gerakan mereka:
1. Riset Terstruktur: Memperkuat basis data dan kajian akademik dalam setiap usulan kebijakan.
2. Konsolidasi Intelektual: Menjadikan PIKI sebagai rumah besar bagi keberagaman latar belakang suku, sinode, dan teologi.
3. Distribusi SDM: Berperan sebagai pusat distribusi kader-kader ahli Kristen ke berbagai sektor strategis negara.
Menutup deklarasi, pasangan BMW-PS berharap dukungan penuh dari para pemilik suara dalam Kongres VII PIKI yang dijadwalkan berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026 di Jakarta. Mereka optimistis, kembalinya PIKI ke fitrah intelektual akan menjadi berkat besar bagi kemajuan Indonesia. (adz)

5 hours ago
3

















































