PBB Sebut Israel Sengaja Menargetkan Anak-anak di Gaza

13 hours ago 9

JAKARTA – Komisi penyelidikan independen yang dibentuk Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina dalam operasi militernya di Jalur Gaza. Dalam laporan terbaru yang dirilis di laman resminya, komisi menyatakan tindakan tersebut berpotensi masuk dalam kategori genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Laporan itu menjadi salah satu tuduhan paling serius yang pernah dilontarkan terhadap Israel sejak perang Gaza pecah setelah serangan Hamas ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Komisi menyebut terdapat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel telah “secara sengaja melakukan tindakan yang menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina”.

Menurut temuan tersebut, serangan terhadap anak-anak Palestina tidak berhenti meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan pada Oktober 2025. Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, mengatakan skala dan pola operasi militer Israel menunjukkan dampak yang sangat besar terhadap generasi muda Palestina.

“Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus terbunuh dan terluka parah, dengan terus diabaikan oleh Israel terhadap gencatan senjata dan perlindungan yang terutang kepada anak-anak Palestina di bawah hukum internasional,” kata Muralidhar.

Ia menambahkan bahwa perlindungan anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak bangsa Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.”Perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” ujarnya.

“Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kapasitas rakyat Palestina untuk eksis dan menentukan masa depan mereka,” lanjut Muralidhar. Komisi menilai anak-anak Palestina menjadi sasaran langsung dalam berbagai operasi militer Israel di Gaza. Laporan itu menyebut penggunaan penembak jitu, drone quadcopter, hingga serangan bersenjata berat ke bangunan permukiman, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipenuhi anak-anak.

Selain itu, Israel juga disebut gagal melindungi anak-anak Palestina di Tepi Barat dari tindakan kekerasan yang dilakukan tentara maupun pemukim Israel. Komisi turut mendokumentasikan dugaan penangkapan, penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi, serta kekerasan seksual terhadap anak-anak Palestina, terutama remaja laki-laki yang ditahan di penjara dan fasilitas penahanan Israel. Laporan tersebut juga menyoroti serangan terhadap rumah sakit neonatal dan fasilitas kesehatan anak di Gaza.

Menurut komisi, serangan itu telah secara sistematis menghancurkan akses anak-anak terhadap layanan kesehatan yang menopang kehidupan mereka, sehingga mengancam kelangsungan hidup kelompok yang dilindungi oleh hukum internasional.Selain itu, Israel dituduh menggunakan kelaparan sebagai metode perang melalui pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Komisi memperingatkan bahwa pembatasan tersebut telah menyebabkan malnutrisi akut dan kronis pada anak-anak Gaza serta menghilangkan syarat dasar yang diperlukan untuk bertahan hidup. Di sektor pendidikan, serangan terhadap sekolah, pengungsian massal, dan penutupan fasilitas pendidikan disebut telah mengganggu proses belajar anak-anak Palestina secara sistematis.

Menurut laporan itu, kondisi tersebut berpotensi merusak fondasi intelektual dan sosial masyarakat Palestina dalam jangka panjang. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat sedikitnya 73.035 orang tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, lebih dari 21.280 korban merupakan anak-anak.

Data tersebut selama ini juga digunakan oleh berbagai lembaga PBB sebagai salah satu rujukan utama untuk memantau dampak konflik di Gaza. Komisi mencatat bahwa setelah gencatan senjata Oktober 2025 diberlakukan, lebih dari 1.020 warga Palestina masih dilaporkan tewas, termasuk sekitar 265 anak-anak. (*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAKARTA – Komisi penyelidikan independen yang dibentuk Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina dalam operasi militernya di Jalur Gaza. Dalam laporan terbaru yang dirilis di laman resminya, komisi menyatakan tindakan tersebut berpotensi masuk dalam kategori genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Laporan itu menjadi salah satu tuduhan paling serius yang pernah dilontarkan terhadap Israel sejak perang Gaza pecah setelah serangan Hamas ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Komisi menyebut terdapat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel telah “secara sengaja melakukan tindakan yang menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina”.

Menurut temuan tersebut, serangan terhadap anak-anak Palestina tidak berhenti meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan pada Oktober 2025. Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, mengatakan skala dan pola operasi militer Israel menunjukkan dampak yang sangat besar terhadap generasi muda Palestina.

“Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus terbunuh dan terluka parah, dengan terus diabaikan oleh Israel terhadap gencatan senjata dan perlindungan yang terutang kepada anak-anak Palestina di bawah hukum internasional,” kata Muralidhar.

Ia menambahkan bahwa perlindungan anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak bangsa Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.”Perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” ujarnya.

“Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kapasitas rakyat Palestina untuk eksis dan menentukan masa depan mereka,” lanjut Muralidhar. Komisi menilai anak-anak Palestina menjadi sasaran langsung dalam berbagai operasi militer Israel di Gaza. Laporan itu menyebut penggunaan penembak jitu, drone quadcopter, hingga serangan bersenjata berat ke bangunan permukiman, sekolah, dan kamp pengungsian yang dipenuhi anak-anak.

Selain itu, Israel juga disebut gagal melindungi anak-anak Palestina di Tepi Barat dari tindakan kekerasan yang dilakukan tentara maupun pemukim Israel. Komisi turut mendokumentasikan dugaan penangkapan, penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi, serta kekerasan seksual terhadap anak-anak Palestina, terutama remaja laki-laki yang ditahan di penjara dan fasilitas penahanan Israel. Laporan tersebut juga menyoroti serangan terhadap rumah sakit neonatal dan fasilitas kesehatan anak di Gaza.

Menurut komisi, serangan itu telah secara sistematis menghancurkan akses anak-anak terhadap layanan kesehatan yang menopang kehidupan mereka, sehingga mengancam kelangsungan hidup kelompok yang dilindungi oleh hukum internasional.Selain itu, Israel dituduh menggunakan kelaparan sebagai metode perang melalui pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Komisi memperingatkan bahwa pembatasan tersebut telah menyebabkan malnutrisi akut dan kronis pada anak-anak Gaza serta menghilangkan syarat dasar yang diperlukan untuk bertahan hidup. Di sektor pendidikan, serangan terhadap sekolah, pengungsian massal, dan penutupan fasilitas pendidikan disebut telah mengganggu proses belajar anak-anak Palestina secara sistematis.

Menurut laporan itu, kondisi tersebut berpotensi merusak fondasi intelektual dan sosial masyarakat Palestina dalam jangka panjang. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat sedikitnya 73.035 orang tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, lebih dari 21.280 korban merupakan anak-anak.

Data tersebut selama ini juga digunakan oleh berbagai lembaga PBB sebagai salah satu rujukan utama untuk memantau dampak konflik di Gaza. Komisi mencatat bahwa setelah gencatan senjata Oktober 2025 diberlakukan, lebih dari 1.020 warga Palestina masih dilaporkan tewas, termasuk sekitar 265 anak-anak. (*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|