SENTANI – Hasil diskusi yang dilakukan di Kampung Hobong, Distrik Sentani pada Sabtu (11/7) memantik semangat baru yang membutuhkan perhatian pemerintah. Ondoafi Hobong, Yunus Piet Ibo menyampaikan bahwa hal yang tak bisa ditampik saat ini adalah pemuda jaman sekarang memiliki masa depan yang suram.
Ini tak lepas dari kondisi ekonomi yang terus terpuruk ditambah peluang kerja yang masih sulit dan kemampuan yang belum sepenuhnya terasah untuk bekerja secara mandiri. Ini disampaikan Piet Ibo usai kegiatan penguatan kapasitas yang dilakukan di Obhe Kampung Hobong dengan menghadirkan sekitar 150 gabungan pemuda dan para janda duda.
Kata Ondoafi Piet Ibo, para generasi muda membutuhkan gambaran konkrit yang merubah mindset dan program dampingan yang jelas. Tak bisa lagi hanya pelatihan – pelatihan tanpa program yang membantu. Ia setuju untuk para generasi muda belajar untuk mandiri namun untuk menuju kesini dirasa masih membutuhkan dampingan ekstra dan tak bisa dilepas begitu saja mengingat tentunya masih banyak keterbatasan yang dimiliki masyarakat.
Namun dengan kegiatan yang diisi oleh inisiator, Kaka Jose Ohei ini ia melihat secercah harapan untuk memulai sebuah gerakan menuju perubahan.
“Saya senang ada kegiatan yang memotivasi seperti ini di Hobong. Para generasi muda, anak-anak Hobong harus menjadi pemuda yang berkarya, sebab angka pengangguran di kampung ini cukup tinggi,” kata Piet usai kegiatan.
Meski dikatakan ada beberapa yang telah bekerja namun tetap belum memiliki penghasilan tetap dan kebanyakan sifatnya hanya temporer. Uang yang ada saat itu hanya bisa digunakan hari ini dan besok harus mencari lagi.
“Contoh pak Sokoy tadi yang sudah sarjana namun karena sulit mencari kerja akhirnya ia memilih menjadi guru honor bahasa ibu di SD Abeale Sentani. Saya melihat jika kebanyakan menganggur maka faktor lingkungan akan mempengaruhi aktifitas dan sayang sekali jika anak-anak muda justru hanya duduk, mabuk dan melakukan kegiatan yang jauh dari kata produktif,” bebernya.
Harapannya dari kegiatan peningkatan kapasitas ini ada kesadaran dari generasi muda di Hobong untuk kemudian berfikir apa yang seharusnya mereka kerjakan dan peluang apa yang bisa dimanfaatkan.
“Saya pikir diskusi kita ini membuka tabir dan mengingatkan untuk bagaimana merubah pola pikir dan memulai melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat, yang memiliki hasil positif,” tambah Ondoafi Piet.
Diakui masing-masing pemuda memiliki latar belakang berbeda namun yang masih problem adalah dari kemampuan yang berbeda-beda itu minim kesetiaan untuk menggeluti potensi yang dimiliki sehingga semua terbiar dengan waktu yang terbuang percuma begitu saja.
“Contoh ada yang usaha keramba dan setelah gagal dia putus asa dan memilih tidak lanjut. Ini juga karena managemen yang tidak tertib sebab umumnya usaha anak-anak kami ini jika barang habis uang juga habis. Itu yang sudah,” selorohnya.
Lalu soal memulai dari dalam, kata Ondo harus dimulai dari kesadaran diri pribadi. Jika ada inisiatif maka hal itu harus ditekuni untuk sama-sama mendorong perubahan. Jangan dengar kanan lalu keluar kiri. Disini Ondo Yunus juga menyinggung soal dana kampung yang terjun bebas. Dari sekitar Rp2 miliar kini hanya Rp 100 juta lebih. “Kami agak sulit jika mengelola dana kampung seperti ini dan itu kerugian bagi kami,” tutupnya.
Sementara Kaka Jose dari diskusi 3 jam lebih ini mengungkap fakta bahwa ternyata banyak anak Papua yang sudah bekerja pada satu lembaga swasta namun sulit untuk bertahan. Ini menurutnya tak lepas dari faktor kegigihan. Keuletan untuk bisa tetap mengikuti aturan dan beradaptasi dengan semua kebijakan dari tempat kerja yang didiami saat itu.
“Saya sudah sering sekali memasukkan anak-anak muda Papua untuk kerja diberbagai tempat usaha. Tapi usianya tak lama, setelah itu saya mendapat telepon menyampaikan bahwa si A sudah keluar, si B tidak lagi bekerja bersama mereka dan si C entah ada dimana,” cerita Jose Sabtu malam.
Ia lantas kembali menceritakan soal bagaimana menggali potensi. Potensi yang bisa dimulai dari disi sendiri, dari keluarga maupun dari kampung. Jose menunjukkan sebuah lorong di salah satu RT di Jakarta Timur yang minim potensi Sumber Daya Alam namun mampu bangkit menciptakan peluang dan kini warganya justru bisa hidup dari kreatifitas yang disulap di gang tersebut.
“Disana tak ada laut, tak ada sungai, tak ada hutan, tak ada gunung, tak ada sumber daya alam apapun. Hanya ada got kecil yang dari got itu dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan,” cerita Jose.
“Ingat, mereka tak punya potensi SDA, hanya ada Sumber Daya Manusia (SDM) tapi ternyata menjadi contoh sukses bagi daerah lain. Banyak yang belajar dari suksesi lorong atau gang sempit itu.
RT 08 RW 04 Malaka Jaya itu selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis warga, urban farming, kolam budidaya terintegrasi, hingga edukasi lingkungan yang melibatkan lintas generasi. Inisiatif-inisiatif tersebut menjadikan RT 08 bukan sekadar wilayah administrasi, tetapi ruang belajar bersama bagi warga dan komunitas lain.
Dari lorong sempit di Jakarta Timur, warga RT 08 RW 04 Malaka Jaya membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Sebuah cerita tentang gotong royong, keberanian bertindak, dan harapan bahwa gerakan lokal mampu memberi inspirasi hingga ke tingkat global. Nah Jose lantas mengaitkan dengan potensi yang dimiliki di Kampung Hobong. Ada keramba dan perbukitan yang bisa dijadikan view wisata.
Hanya saja semua ini belum tergarap secara baik karena belum ada tekad yang sama untuk memulai dilakukannya perubahan.
“Di Papua SDM tinggi, memiliki space lahan yang sangat tapi kenapa kalah sama salah satu RT di Jakarta tadi. Gang sempit tapi membanggakan dan menjadi inspirasi banyak orang,” jelasnya.
Iapun berpendapat bahwa pemerintah perlu andil untuk ikut merubah, tak hanya menyangkit intelektual tetapi juga skil.
“Dulu ada VTC yang akhirnya berubah nama menjadi BLK. Itu menjadi sentral pelatikan skil namun terjadi insiden tahun 2005 dimana ada seorang anak memukul salah satu manager dan akhirnya perlahan-lahan berkurang peminat. Tapi yang mau saya tekankan disini adalah soal skil jangan diragukan tetapi bagaimana anak Papua bisa terampil dan ini harus dibangun sesuai dengan karakter,” tambahnya.
Ia juga menyinggung soal bagaimana membangun kekuatan lewat kerja bersama. Saling menopang dan mensuport. Bukan justru saling sikut dan saling menjatuhkan.
“Jadi harus sama-sama saling mendukung. Jangan setelah terima gaji belanja di mal tapi giliran hutang lari ke warung tetangga, ke keluarga. Yang begini-begini kita akan sulit maju. Belum lagi kalau satu orang sukses akan jadi bahan pembicaraan yang akhirnya meruntuhkan mental dan semua bubar,” ujar Jose mengilustrasikan.
Jose kembali mengingatkan soal Persistence atau kegigihan atau keteguhan untuk sebuah tujuan tertentu. Jose kemudian mengambil contoh insiden penembakan yang menimpa salah satu kepala keluarga asal Sulawesi di daerah pegunungan. Pria ini tewas kemudian keluarga mengirimkan jenasah ke kampung dan dimakamkan.
Namun beberapa minggu kemudian sang istri kembali ke Puncak Jaya bersama anak-anaknya dan melanjutkan usaha dagang mendiang sang suami. “Banyak yang bertanya kok berani, kok mau, kok tidak takut, kan suaminya mati tertembak. Lalu dijawab bahwa ya mau bagaimana lagi, itu usaha yang menghidupi jadi mau tidak mau harus tetap jalan sekalipun ada nyawa yang dikorbankan,” beber Jose lagi.
Iapun menceritakan soal karakter orang Papua yang jika memiliki uang maka saat itu juga sikap dermawannya akan muncul terlebih jika itu untuk keluarga. Disini Jose mengingatkan untuk tetap bijak agar jangan sampai dari niat baik justru membuat kondisi keuangan tak stabil apalagi sampai mengganggu usaha yang sudah berjalan. “Uang itu tidak salah tapi bagaimana mengelola uang ini yang harus dipahami. Jangan sekali dapat hari itu juga habis. Harus ada yang disisihkan agar usaha tetap jalan,” pesannya.
Diakhir kegiatan panitia juga menyerahkan puluhan bingkisan untuk janda dan duda di kampung tersebut. Sementara Kaka Jose menitipkan pesan bahwa untuk berubah harus memulai dari komitmen pada diri sendiri. Pemuda Kampung Hobong jika ingin maju harus memulai dari kesadaran dan tekad. “Ingat harus dari dalam. Kunci kemajuan Papua itu tidak dari luar. Bukan dari Jakarta, bukan dari orang lain yang datang, bukan dari Kaka Jose tapi dari komitmen diri sendiri. Kunci itu ada di kampung jadi dari dalam baru ke luar. Harus ada tekad untuk berubah. Ayo bangun kerja keras layaknya tomako batu,” tutupnya. (ade).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q


















































