Oleh: Jheni Yusuf Saragih, S.Pd.,M.Pd, mahasiswa S3 Unimed
Pendidikan sering disebut sebagai kunci pembangunan, namun di Sumatera Utara komitmen tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kualitas layanan pendidikan. Meski memiliki potensi ekonomi dan sumber daya besar, provinsi ini masih menghadapi masalah serius dalam pemerataan pendidikan.
Sebagai wilayah dengan jumlah penduduk besar dan potensi strategis seperti Medan dan Danau Toba, Sumatera Utara seharusnya memiliki sistem pendidikan yang kuat. Namun, ketimpangan masih menjadi persoalan utama. Sekolah di kota memiliki fasilitas lebih baik dibandingkan daerah terpencil yang masih kekurangan ruang layak, laboratorium, dan akses teknologi.
Kondisi geografis memang menjadi tantangan, tetapi tidak bisa terus dijadikan alasan. Ketimpangan yang berlangsung lama berisiko memperlebar kesenjangan sosial. Selain itu, kualitas pembelajaran juga masih rendah, terlihat dari kemampuan literasi dan numerasi siswa yang belum memadai. Hal ini membuat pendidikan lebih bersifat administratif daripada pengembangan kemampuan berpikir.
Distribusi guru juga belum merata. Daerah terpencil kekurangan tenaga pendidik, sementara kota mengalami penumpukan. Ini menunjukkan lemahnya manajemen sumber daya pendidikan. Kebijakan pemerataan pun sering disalahartikan sebagai pembagian anggaran yang sama, padahal daerah tertinggal justru membutuhkan perhatian lebih besar.
Di era digital, pendidikan dituntut menghasilkan siswa yang kritis, kreatif, dan melek teknologi. Namun, keterbatasan infrastruktur di beberapa daerah justru berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak ditangani dengan baik.
Perbaikan pendidikan membutuhkan kebijakan berbasis data serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Selain itu, kekayaan budaya lokal harus dimanfaatkan untuk membangun pendidikan yang relevan dan berkarakter.
Pada akhirnya, masa depan Sumatera Utara bergantung pada keseriusan reformasi pendidikan. Tanpa perbaikan menyeluruh, potensi besar daerah ini sulit berkembang. Namun dengan kerja sama semua pihak, pendidikan dapat menjadi kunci menuju daerah yang maju, inklusif, dan berdaya saing. (*)
Oleh: Jheni Yusuf Saragih, S.Pd.,M.Pd, mahasiswa S3 Unimed
Pendidikan sering disebut sebagai kunci pembangunan, namun di Sumatera Utara komitmen tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kualitas layanan pendidikan. Meski memiliki potensi ekonomi dan sumber daya besar, provinsi ini masih menghadapi masalah serius dalam pemerataan pendidikan.
Sebagai wilayah dengan jumlah penduduk besar dan potensi strategis seperti Medan dan Danau Toba, Sumatera Utara seharusnya memiliki sistem pendidikan yang kuat. Namun, ketimpangan masih menjadi persoalan utama. Sekolah di kota memiliki fasilitas lebih baik dibandingkan daerah terpencil yang masih kekurangan ruang layak, laboratorium, dan akses teknologi.
Kondisi geografis memang menjadi tantangan, tetapi tidak bisa terus dijadikan alasan. Ketimpangan yang berlangsung lama berisiko memperlebar kesenjangan sosial. Selain itu, kualitas pembelajaran juga masih rendah, terlihat dari kemampuan literasi dan numerasi siswa yang belum memadai. Hal ini membuat pendidikan lebih bersifat administratif daripada pengembangan kemampuan berpikir.
Distribusi guru juga belum merata. Daerah terpencil kekurangan tenaga pendidik, sementara kota mengalami penumpukan. Ini menunjukkan lemahnya manajemen sumber daya pendidikan. Kebijakan pemerataan pun sering disalahartikan sebagai pembagian anggaran yang sama, padahal daerah tertinggal justru membutuhkan perhatian lebih besar.
Di era digital, pendidikan dituntut menghasilkan siswa yang kritis, kreatif, dan melek teknologi. Namun, keterbatasan infrastruktur di beberapa daerah justru berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak ditangani dengan baik.
Perbaikan pendidikan membutuhkan kebijakan berbasis data serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Selain itu, kekayaan budaya lokal harus dimanfaatkan untuk membangun pendidikan yang relevan dan berkarakter.
Pada akhirnya, masa depan Sumatera Utara bergantung pada keseriusan reformasi pendidikan. Tanpa perbaikan menyeluruh, potensi besar daerah ini sulit berkembang. Namun dengan kerja sama semua pihak, pendidikan dapat menjadi kunci menuju daerah yang maju, inklusif, dan berdaya saing. (*)

6 hours ago
7

















































