JAYAPURA – Fenomena terdamparnya ribuan material batu apung yang dipadu tumpukan limbah sampah di Pesisir Pantai Hamadi, Kota Jayapura, kian meresahkan warga setempat. Selama sebulan terakhir, keberadaan material yang diduga berasal dari aktivitas letusan gunung api bawah laut ini tak hanya merusak estetika pantai, tetapi juga memukul perekonomian warga yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.
Para pengelola pantai dan penyedia jasa penyewaan pondok wisata kini harus menelan pil pahit akibat merosotnya jumlah pengunjung. Wisatawan enggan berenang maupun berekreasi karena kondisi pantai yang kotor, kumuh, serta kekhawatiran terkena benturan batu apung yang teksturnya cukup keras.
Ribuan batu apung di sepanjang bibir pantai Hamadi dan Base G yang meresahkan masyarakat sekitar pantai, Rabu (29/7). (foto:Jimi/Cepos)Penurunan angka kunjungan wisatawan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Keberadaan tumpukan batu apung dan limbah plastik yang menutupi bibir pantai dinilai menjadi penghalang utama para pengunjung untuk menikmati suasana pesisir.
“Orang (wisatawan) ke sini tentunya mau berenang, menikmati keindahan pantai. Tetapi kalau pantainya penuh dengan batu apung, sampah, dan lainnya bagaimana mereka mau. Pasti mereka juga takut untuk berenang, karena batu apung ini juga sedikit keras,” ungkap salah seorang pengelola pantai saat ditemui di lokasi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan para pengelola yang turun drastis dalam beberapa minggu terakhir. Pemandangan pantai yang dulunya asri dan eksotis kini tertutup hamparan material apung berwarna abu-abu kecokelatan yang bercampur padat dengan belasan jenis limbah.
Selain fenomena alam batu apung, masalah limbah sampah plastik yang memadati sepanjang garis pantai juga menjadi sorotan. Menurut penjaga pantai setempat, limbah plastik berukuran besar yang terdampar di Pantai Hamadi sebagian besar bukan berasal dari aktivitas warga sekitar, melainkan akibat ulah oknum kapal-kapal besar yang membuang sampah sembarangan di tengah laut.
JAYAPURA – Fenomena terdamparnya ribuan material batu apung yang dipadu tumpukan limbah sampah di Pesisir Pantai Hamadi, Kota Jayapura, kian meresahkan warga setempat. Selama sebulan terakhir, keberadaan material yang diduga berasal dari aktivitas letusan gunung api bawah laut ini tak hanya merusak estetika pantai, tetapi juga memukul perekonomian warga yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.
Para pengelola pantai dan penyedia jasa penyewaan pondok wisata kini harus menelan pil pahit akibat merosotnya jumlah pengunjung. Wisatawan enggan berenang maupun berekreasi karena kondisi pantai yang kotor, kumuh, serta kekhawatiran terkena benturan batu apung yang teksturnya cukup keras.
Ribuan batu apung di sepanjang bibir pantai Hamadi dan Base G yang meresahkan masyarakat sekitar pantai, Rabu (29/7). (foto:Jimi/Cepos)Penurunan angka kunjungan wisatawan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Keberadaan tumpukan batu apung dan limbah plastik yang menutupi bibir pantai dinilai menjadi penghalang utama para pengunjung untuk menikmati suasana pesisir.
“Orang (wisatawan) ke sini tentunya mau berenang, menikmati keindahan pantai. Tetapi kalau pantainya penuh dengan batu apung, sampah, dan lainnya bagaimana mereka mau. Pasti mereka juga takut untuk berenang, karena batu apung ini juga sedikit keras,” ungkap salah seorang pengelola pantai saat ditemui di lokasi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan para pengelola yang turun drastis dalam beberapa minggu terakhir. Pemandangan pantai yang dulunya asri dan eksotis kini tertutup hamparan material apung berwarna abu-abu kecokelatan yang bercampur padat dengan belasan jenis limbah.
Selain fenomena alam batu apung, masalah limbah sampah plastik yang memadati sepanjang garis pantai juga menjadi sorotan. Menurut penjaga pantai setempat, limbah plastik berukuran besar yang terdampar di Pantai Hamadi sebagian besar bukan berasal dari aktivitas warga sekitar, melainkan akibat ulah oknum kapal-kapal besar yang membuang sampah sembarangan di tengah laut.


















































