Perkuat Infrastruktur Tahan Bencana, HATTI Sumut Fokus Inovasi Geoteknik

6 hours ago 2

MEDAN – Meningkatnya intensitas bencana alam seperti banjir dan longsor di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh mendorong langkah serius dari kalangan ahli teknik. Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia Komisariat Daerah Sumatera Utara pun mengambil peran strategis dengan menekankan pentingnya inovasi geoteknik dalam pembangunan infrastruktur tahan bencana.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar (Kuliah Umum) 2026 yang digelar di Universitas HKBP Nommensen, Kamis (23/4/2026), sekaligus pelantikan pengurus baru. Mengusung tema mitigasi dan rehabilitasi bencana, forum ini menjadi ajang konsolidasi pemikiran antara akademisi, praktisi, dan pemerintah.

Ketua HATTI Sumut Berlin A. Tampubolon, menegaskan bahwa geoteknik harus menjadi fondasi utama dalam setiap pembangunan, khususnya di wilayah dengan karakteristik tanah yang kompleks. “Pembangunan tanpa memahami kondisi tanah adalah risiko besar. Geoteknik harus menjadi dasar dalam merancang infrastruktur yang aman dan berkelanjutan,” ujarnya didampingi Sekretaris Ir Irwan Suranta Sembiring, ST, MT, PhD, Ketua Panitia Dr Ir Ernesto M. Silitonga, ST, DEA serta Bidang Pembinaan Profesi Dr Ir Immanuel Panggabean, ST, MT, Bidang Ilmiah dan Pengembangan Profesionalisme Ir Adi Yesaya Sukatendel, ST, MT.

Secara geologis, Sumatera Utara memiliki dominasi tanah lempung, batuan lapuk, serta kontur perbukitan curam yang rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang kurang optimal serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

HATTI menilai, pendekatan penanganan bencana harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Melalui analisis teknis seperti stabilitas lereng, pengendalian air, hingga pemetaan zona rawan, risiko bencana dapat ditekan sejak tahap perencanaan.

Berbagai solusi teknis pun didorong, mulai dari pembangunan dinding penahan tanah, penggunaan soil nailing dan ground anchor, hingga pemanfaatan material geosintetik dan sistem drainase modern.

Tak hanya itu, inovasi teknologi juga menjadi fokus utama. HATTI memperkenalkan pemanfaatan Building Information Modeling yang terintegrasi dengan data geospasial (GeoBIM), memungkinkan visualisasi kondisi bawah tanah secara tiga dimensi untuk meningkatkan akurasi perencanaan.

Langkah ini dinilai mampu membantu pemetaan risiko secara lebih detail serta mensimulasikan ketahanan struktur sebelum pembangunan dilakukan.

Ke depan, HATTI Sumut juga berencana menggelar seminar nasional pada September 2026 guna memperkuat sinergi lintas sektor. Selain itu, program pengembangan seperti “HATTI Muda” dan lomba karya ilmiah mahasiswa turut digagas untuk mencetak generasi baru ahli geoteknik. (san/ila)

MEDAN – Meningkatnya intensitas bencana alam seperti banjir dan longsor di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh mendorong langkah serius dari kalangan ahli teknik. Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia Komisariat Daerah Sumatera Utara pun mengambil peran strategis dengan menekankan pentingnya inovasi geoteknik dalam pembangunan infrastruktur tahan bencana.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar (Kuliah Umum) 2026 yang digelar di Universitas HKBP Nommensen, Kamis (23/4/2026), sekaligus pelantikan pengurus baru. Mengusung tema mitigasi dan rehabilitasi bencana, forum ini menjadi ajang konsolidasi pemikiran antara akademisi, praktisi, dan pemerintah.

Ketua HATTI Sumut Berlin A. Tampubolon, menegaskan bahwa geoteknik harus menjadi fondasi utama dalam setiap pembangunan, khususnya di wilayah dengan karakteristik tanah yang kompleks. “Pembangunan tanpa memahami kondisi tanah adalah risiko besar. Geoteknik harus menjadi dasar dalam merancang infrastruktur yang aman dan berkelanjutan,” ujarnya didampingi Sekretaris Ir Irwan Suranta Sembiring, ST, MT, PhD, Ketua Panitia Dr Ir Ernesto M. Silitonga, ST, DEA serta Bidang Pembinaan Profesi Dr Ir Immanuel Panggabean, ST, MT, Bidang Ilmiah dan Pengembangan Profesionalisme Ir Adi Yesaya Sukatendel, ST, MT.

Secara geologis, Sumatera Utara memiliki dominasi tanah lempung, batuan lapuk, serta kontur perbukitan curam yang rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang kurang optimal serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

HATTI menilai, pendekatan penanganan bencana harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Melalui analisis teknis seperti stabilitas lereng, pengendalian air, hingga pemetaan zona rawan, risiko bencana dapat ditekan sejak tahap perencanaan.

Berbagai solusi teknis pun didorong, mulai dari pembangunan dinding penahan tanah, penggunaan soil nailing dan ground anchor, hingga pemanfaatan material geosintetik dan sistem drainase modern.

Tak hanya itu, inovasi teknologi juga menjadi fokus utama. HATTI memperkenalkan pemanfaatan Building Information Modeling yang terintegrasi dengan data geospasial (GeoBIM), memungkinkan visualisasi kondisi bawah tanah secara tiga dimensi untuk meningkatkan akurasi perencanaan.

Langkah ini dinilai mampu membantu pemetaan risiko secara lebih detail serta mensimulasikan ketahanan struktur sebelum pembangunan dilakukan.

Ke depan, HATTI Sumut juga berencana menggelar seminar nasional pada September 2026 guna memperkuat sinergi lintas sektor. Selain itu, program pengembangan seperti “HATTI Muda” dan lomba karya ilmiah mahasiswa turut digagas untuk mencetak generasi baru ahli geoteknik. (san/ila)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|