Revitalisasi Clean Water Filtration (CWF) sebagai Sumber Air Bersih dan Sarana Peningkatan Personal Hygiene bagi Pekerja KJA di Desa Paropo I

1 month ago 18

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Terletak di tepian Danau Toba, Desa Paropo I, Kecamatan Silahisabungan, memiliki potensi besar di bidang perikanan air tawar. Karenanya, tak heran jika di desa tersebut banyak pelaku usaha yang mengelola Keramba Jaring Apung (KJA). Namun di balik potensi ekonomi tersebut, terdapat tantangan serius terkait perilaku hygiene para pelaku usaha KJA.

Permasalahan ini tidak terlepas dari keterbatasan sumber air bersih yang layak digunakan, mengingat kualitas air Danau Toba di wilayah tersebut masih belum memenuhi persyaratan air bersih kelas I berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentang Standar Air Minum dan Air Bersih.

Praktik tidak higienis, seperti tidak mengganti pakaian kerja yang basah, mencuci pakaian langsung di danau, serta tidak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, turut memicu munculnya masalah kesehatan seperti penyakit kulit dan diare. Kondisi ini menguatkan pentingnya peningkatan personal hygiene pekerja KJA sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sehat di kawasan Danau Toba, sejalan dengan tujuan SDGs nomor 6 terkait pengadaan air bersih dan sanitasi layak.

Bentuk kepedulian terhadap permasalahan tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) yang didanai LPPM USU, melaksanakan kegiatan pengabdian di Desa Paropo I, Kecamatan Silahisabungan, sejak Bulan Mei hingga November 2025.

Pengabdian yang mengangkat tema “Peningkatan Personal Hygiene Pekerja KJA melalui Pemanfaatan Sumber Air Clean Water Filtration” ini diketuai Dr. Sri Malem Indirawati, SKM, M.Si., dengan anggota tim Dr. Umi Salmah, SKM., M.Kes, Prof. Dra. Nurmaini, M.K.M., Ph.D., dan Annisa Rizka Lestari, SKM, MKM., serta melibatkan mahasiswa Azrasha Hanna, Bethani Novi Tessalonika, Hiskia D’timosky Pratama Perangin-Angin, Najwa Putri Adhawiyah, dan Josephine Christianty Beni.

Pelaksanaan kegiatan ini didukung Ketua Kelompok KJA Paropo, Joni Herman Manik dan Kepala Desa Paropo I Hehe Raya Sihaloho, serta melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Tindak lanjut dari kegiatan Abdimas ini adalah survey terkait kebermanfaatan CWF bagi masyarakat dan pembentukan kelompok pekerja KJA yang bertugas dalam pemeliharaan fasilitas CWF “Panrair” (Pantau dan Rawat air bersih) dan pengukuran pengetahuan dari pekerja KJA terkait personal hygiene.

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan pemerintah desa dan masyarakat lokal, dengan tujuan utama untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian pekerja KJA terhadap pentingnya personal hygiene, serta memberikan akses terhadap air bersih melalui pemanfaatan Clean Water Filtration System (CWF). Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku higienis yang berkelanjutan dan mendukung pencapaian indikator kesehatan lingkungan di wilayah perairan Danau Toba.

Metode pelaksanaan program kegiatan meliputi bina suasana, sosialisasi, pendampingan, serta pengorganisasian masyarakat dengan penerapan personal hygiene pada Pekerja KJA melalui pemanfaatan CWF. Para pekerja KJA diberdayakan untuk memahami pentingnya mengganti pakaian kerja basah, mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari penggunaan air danau yang telah terkontaminasi oleh pakan ikan dan limbah dan memelihara fasilitas CWF.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran luar kampus bagi mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Ketua tim pengabdian, Dr. Sri Malem Indirawati, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang telah membantu kelancaran kegiatan ini, termasuk Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kesehatan Masyarakat, serta seluruh masyarakat Desa Paropo I yang telah antusias mengikuti rangkaian kegiatan.

“Kita berharap, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya personal hygiene di lingkungan kerja KJA, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di sekitar Danau Toba dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (adz)

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Terletak di tepian Danau Toba, Desa Paropo I, Kecamatan Silahisabungan, memiliki potensi besar di bidang perikanan air tawar. Karenanya, tak heran jika di desa tersebut banyak pelaku usaha yang mengelola Keramba Jaring Apung (KJA). Namun di balik potensi ekonomi tersebut, terdapat tantangan serius terkait perilaku hygiene para pelaku usaha KJA.

Permasalahan ini tidak terlepas dari keterbatasan sumber air bersih yang layak digunakan, mengingat kualitas air Danau Toba di wilayah tersebut masih belum memenuhi persyaratan air bersih kelas I berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentang Standar Air Minum dan Air Bersih.

Praktik tidak higienis, seperti tidak mengganti pakaian kerja yang basah, mencuci pakaian langsung di danau, serta tidak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, turut memicu munculnya masalah kesehatan seperti penyakit kulit dan diare. Kondisi ini menguatkan pentingnya peningkatan personal hygiene pekerja KJA sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sehat di kawasan Danau Toba, sejalan dengan tujuan SDGs nomor 6 terkait pengadaan air bersih dan sanitasi layak.

Bentuk kepedulian terhadap permasalahan tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) yang didanai LPPM USU, melaksanakan kegiatan pengabdian di Desa Paropo I, Kecamatan Silahisabungan, sejak Bulan Mei hingga November 2025.

Pengabdian yang mengangkat tema “Peningkatan Personal Hygiene Pekerja KJA melalui Pemanfaatan Sumber Air Clean Water Filtration” ini diketuai Dr. Sri Malem Indirawati, SKM, M.Si., dengan anggota tim Dr. Umi Salmah, SKM., M.Kes, Prof. Dra. Nurmaini, M.K.M., Ph.D., dan Annisa Rizka Lestari, SKM, MKM., serta melibatkan mahasiswa Azrasha Hanna, Bethani Novi Tessalonika, Hiskia D’timosky Pratama Perangin-Angin, Najwa Putri Adhawiyah, dan Josephine Christianty Beni.

Pelaksanaan kegiatan ini didukung Ketua Kelompok KJA Paropo, Joni Herman Manik dan Kepala Desa Paropo I Hehe Raya Sihaloho, serta melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Tindak lanjut dari kegiatan Abdimas ini adalah survey terkait kebermanfaatan CWF bagi masyarakat dan pembentukan kelompok pekerja KJA yang bertugas dalam pemeliharaan fasilitas CWF “Panrair” (Pantau dan Rawat air bersih) dan pengukuran pengetahuan dari pekerja KJA terkait personal hygiene.

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan pemerintah desa dan masyarakat lokal, dengan tujuan utama untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian pekerja KJA terhadap pentingnya personal hygiene, serta memberikan akses terhadap air bersih melalui pemanfaatan Clean Water Filtration System (CWF). Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku higienis yang berkelanjutan dan mendukung pencapaian indikator kesehatan lingkungan di wilayah perairan Danau Toba.

Metode pelaksanaan program kegiatan meliputi bina suasana, sosialisasi, pendampingan, serta pengorganisasian masyarakat dengan penerapan personal hygiene pada Pekerja KJA melalui pemanfaatan CWF. Para pekerja KJA diberdayakan untuk memahami pentingnya mengganti pakaian kerja basah, mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari penggunaan air danau yang telah terkontaminasi oleh pakan ikan dan limbah dan memelihara fasilitas CWF.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran luar kampus bagi mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Ketua tim pengabdian, Dr. Sri Malem Indirawati, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang telah membantu kelancaran kegiatan ini, termasuk Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kesehatan Masyarakat, serta seluruh masyarakat Desa Paropo I yang telah antusias mengikuti rangkaian kegiatan.

“Kita berharap, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya personal hygiene di lingkungan kerja KJA, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di sekitar Danau Toba dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|