Tiap Hari Bayar Retribusi, Tapi Masalah yang Sudah bertahun-tahun Tak Kunjung Tuntas

8 hours ago 7

Para Pedagang di Pasar Youtefa yang Bertahan Meski Dikepung Genangan Air dan Lumpur

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Jayapura, khususnya Abepura  dan sekitarnya, pada Minggu (19/7) malam, masih menyisakan persoalan klasik bagi para pedagang di Pasar Induk Youtefa, Distrik Abepura.

Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura

Senin (20/7) pagi, kondisi Pasar Youtefa tampak kumuh dan becek. Hujan deras menguyur yang mengguyur kawasan Abepura, sebagian besar  memang mengaliri Kali Acay hingga bermuara di Teluk Youtefa, lewat pintu air  dekat Pasar Youtefa ini.

  Kawasan pasar Youtefa yang berada di kawasan yang relatif rendah, membuat terjadinya genangan air keruh dan lumpur yang meluas menghambat aktivitas ekonomi warga. Meski sejumlah jalan utama di kawasan pasar Youtefa sudah dirigid atau dibeton, namun tetap saja masih ada genangan air di beberapa tempat.

  Kondisi ini menunjukkan betapa parahnya genangan air yang menutupi akses jalan utama di dalam area pasar. Air keruh setinggi mata kaki terlihat memenuhi badan jalan, menciptakan cermin alam yang memantulkan bayangan deretan kios kayu yang tampak rapuh dan payung-payung pedagang yang tertutup.

   Selain itu, kondisi ini juga membuat area pasar terlihat sangat kumuh dan sulit diakses oleh pembeli maupun kendaraan, yang terpaksa diparkir di tepi genangan. Sistem drainase yang buruk diduga menjadi penyebab utama air tidak dapat mengalir dengan lancar.

   Akibatnya, aktivitas jual beli di salah satu pasar tradisional terbesar di Jayapura ini menjadi sangat terhambat. Beberapa pedagang tampak terpaksa tetap menggelar dagangannya di atas tanah yang becek dan berlumpur hanya beralaskan seadanya. Payung-payung tenda jualan terlihat ditutup karena sepinya pembeli yang enggan masuk ke area pasar yang kotor.

   Kondisi yang jauh lebih memilukan terlihat di area pedagang hamparan atau los sayur terbuka. Tanpa adanya meja beton yang layak, para pedagang asli Papua (OAP) terpaksa menggelar barang dagangan mereka langsung di atas tanah yang telah berubah menjadi lumpur pekat.

   Mama Yohana (59), seorang pedagang sayur yang terdampak langsung kondisi ini. Dengan guratan lelah di wajahnya, ia duduk beralaskan karung plastik tipis di atas tanah yang basah dan becek. Tangan tuanya dengan telaten mengikat sayur ubi atau betatas dan daun pepaya, meskipun di sekelilingnya air menggenang dan tumpukan sampah plastik berserakan.

   Saat ditemui, Mama Yohana tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa dan sedihnya melihat kondisi tempatnya mencari nafkah selama bertahun-tahun. Ungkapnya, setiap kali hujan deras, kondisi lapaknya pasti tergenang. Pembeli malas masuk ke dalam karena jalannya becek dan kotor sekali. Hal ini yang mengakibatkan sayur jualnya susah.

   “Setiap kali hujan deras turun, posisinya pasti begini (tergenang air dan berlumpur). Kami tidak punya tempat lain, jadi terpaksa duduk di lumpur begini demi bisa makan dan bayar kebutuhan rumah. Tapi kalau kondisinya kotor dan bau begini, pembeli malas masuk ke dalam. Mereka pilih beli di luar. Sayur-sayur kami jadi layu dan susah laku,” keluh Mama Yohana dengan suara bergetar.

   Dampak buruk dari banjir musiman ini tidak hanya dirasakan oleh pedagang sayur hamparan, tetapi juga dirasakan para pemilik kios semi-permanen yang menjual barang kebutuhan pokok dan pakaian.

   Di lorong-lorong kios, air juga menggenang dengan luasan yang cukup besar. Akses masuk ke teras-teras toko terhalang oleh air keruh. Terlihat seorang pedagang hanya bisa berdiri di depan teras kiosnya yang sempit, menatap nanar ke arah jalanan di depannya yang sepi dari hilir mudik pembeli. Beberapa sepeda motor tampak terparkir lesu di depan deretan kios yang sebagian memilih tutup lebih awal.

   Melani (55), seorang pedagang yang menjual sayuran dan pisang di area koridor tersebut, menyatakan bahwa kerugian yang mereka alami akibat banjir kali ini cukup besar karena banyak barang dagangan yang membusuk tidak terjual. Ia pun mempertanyakan fungsi retribusi yang selalu mereka bayar setiap harinya.

   “Masalah banjir dan lumpur di Pasar Youtefa ini sudah bertahun-tahun, tapi tidak pernah ada penyelesaian yang betul-betul tuntas. Kami ini setiap hari bayar retribusi pasar, tapi hak kami untuk mendapatkan tempat jualan yang bersih dan layak tidak pernah dipenuhi. Pemerintah seperti tutup mata,” tegas Melani.

   Ia menambahkan, pedagang sangat membutuhkan aksi nyata dari dinas terkait. Karena itu pihak  mohon dengan sangat untuk perbaiki saluran air (drainase) dan timbun jalan-jalan yang berlubang ini dengan aspal atau semen. “Kalau pasar ini bersih, kami berjualan tenang, pembeli juga pasti datang dengan senang,” pungkasnya penuh harap.

   Kondisi Pasar Induk Youtefa pasca-hujan pada pertengahan Juli 2026 ini menjadi sebuah ironi di tengah upaya modernisasi Kota Jayapura. Pasar yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi mikro justru menjadi tempat yang tidak higienis dan tidak manusiawi bagi para pedagang kecil.

   Meski genangan air di area pasar perlahan mulai surut, namun bukan tidak mungkin jika hujan kembali mengguyur Kota Jayapura dalam beberapa hari ke depan, dapat dipastikan kondisi pasar akan semakin memburuk. Kondisi yang sama pun juga terpantau di di pasar Otonom.

  Masyarakat dan pedagang kini hanya bisa menaruh harapan besar agar Pemerintah Kota Jayapura segera turun tangan melakukan revitalisasi infrastruktur drainase demi menyelamatkan nasib ratusan pedagang yang menggantungkan hidupnya di Pasar Induk Youtefa. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|