Mengintip Perkembangan Sekolah Rakyat yang ada di Kota Jayapura Papua
Di Kota Jayapura saat ini ada dua sekolah rakyat, yakni Sekolah Rakyat Terintegrasi 75 di Distrik Jayapura Utara untuk mendidik anak SD dan SMP, sementara Sekolah Rakyat 29 di Balai Diklat Sosial Kamkey Distrik Abepura untuk tingkat SMA. Lantas bagaimana setelah satu tahun sekolah ini berjalan?
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Sekolah Rakyat (SR) 29 Jayapura menorehkan capaian positif pada akhir tahun ajaran 2026/2027. Berdasarkan hasil evaluasi ujian kenaikan kelas, seluruh siswa yang berjumlah 100 orang dinyatakan naik kelas secara penuh tanpa ada yang tertinggal.
Kepala Sekolah Rakyat 29 Jayapura, Yanet Berotabui, S.Pd., M.M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras seluruh komponen sekolah dan semangat belajar para siswa.
“Tidak ada siswa yang tinggal kelas, 100 persen siswa naik kelas,” tegas Yanet saat memberikan keterangan mengenai hasil capaian akhir tahun ajaran ini, kepada Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Senin (22/6).
Selain capaian akademik, pihak sekolah juga mencatat tingkat retensi siswa yang sempurna. Hingga saat ini, seluruh siswa yang berjumlah 100 orang tersebut dilaporkan merasa betah dan nyaman mengikuti proses belajar mengajar di sekolah, sehingga tidak ada satu pun siswa yang mengundurkan diri.
Yanet Berotabui, S.Pd., M.M.Pd (foto:Jimi/Cepos)Menurut Yanet, lingkungan belajar yang kondusif ini berhasil tercipta berkat adanya perhatian penuh dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial. Dukungan tersebut kemudian diimbangi dengan kolaborasi serta sinergi yang kuat di antara keluarga besar SR 29 Jayapura.
Tingginya mutu dan kenyamanan yang ditawarkan oleh SR 29 Jayapura secara langsung meningkatkan daya tarik sekolah di mata publik. Antusiasme masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anak mereka di lembaga ini terbilang sangat tinggi.
“Minat dan antusiasme masyarakat sekitar sebenarnya masih sangat tinggi. Hingga saat ini masih banyak orang tua yang datang untuk mendaftarkan anak baru atau meminta mutasi (pindah sekolah) ke SR Negeri 29, namun pihak sekolah terpaksa harus membatasinya terlebih dahulu karena keterbatasan fasilitas tempat,” ungkap Yanet dengan tegas.
Kendati demikian, pihak sekolah dengan berat hati harus mengambil kebijakan tegas untuk membatasi kuota tersebut terlebih dahulu. Pembatasan ini terpaksa dilakukan demi menjaga kualitas pembelajaran akibat adanya keterbatasan fasilitas tempat yang dimiliki sekolah saat ini.
Diharapkan ke depannya, dukungan fasilitas fisik sekolah dapat terus berkembang seiring dengan prestasi dan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah Rakyat 29 Jayapura.
Sementara itu, secara terpisah Kepala Balai Besar Kementerian Sosial (Kemensos) Regional VI Maluku-Papua, John Herman Mampioper, mengatakan penerimaan calon siswa Sekolah Rakyat di tanah Papua, yakni Papua, Papua Selatan, dan Papua Tengah, tidak dilakukan tahun ini karena keterbatasan ruangan di sekolah rintisan yang telah berjalan sejak 2025.
Menurut John, pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat mengalami keterlambatan akibat proses administrasi dan pelelangan yang sempat tertunda. Dokumen kontrak pembangunan yang disiapkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) beberapa kali mengalami penundaan sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
“Kontraknya baru bisa diteken setelah proses tender selesai dan pemenangnya ditetapkan. Karena itu pembangunan fisik baru akan dimulai pada Juli 2026,” kata John kepada Cenderawasih Pos, Rabu (17/6).
Ia menjelaskan, gedung permanen tersebut diperkirakan selesai pada akhir 2026 atau awal 2027. Dengan kondisi tersebut, pihaknya tidak memungkinkan untuk menambah jumlah peserta didik pada tahun ini.
Saat ini, kapasitas sekolah rintisan telah terisi penuh sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk jenjang SMA tersedia 100 siswa yang terbagi dalam empat rombongan belajar (rombel), sedangkan SMP dan SD masing-masing menampung 50 siswa dalam dua rombel.
“Jumlah itu sudah sesuai kapasitas yang tersedia. Kami tidak bisa menambah rombel maupun ruang belajar karena memang sudah mencapai batas maksimal,” jelasnya.
Karena itu, penerimaan siswa baru untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai SD, SMP hingga SMA, baru akan dilakukan setelah gedung permanen selesai dibangun dan siap digunakan pada tahun ajaran 2027.
John mengakui, minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat sangat tinggi. Banyak orang tua yang berharap anak-anak mereka dapat diterima di sekolah tersebut tahun ini. Namun keterbatasan fasilitas membuat pihaknya belum bisa mengakomodasi permintaan tersebut.
“Banyak orang tua yang ingin anak-anak mereka masuk Sekolah Rakyat tahun ini. Tetapi kami terpaksa menunda penerimaan siswa baru karena gedung permanennya belum tersedia,” katanya. (*/tri)


















































