UMS Terima 8.195 Mahasiswa Baru, 45 di Antaranya Mahasiswa Internasional

12 hours ago 17
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. memberikan sambutan saat membuka rangkaian Masa Ta’aruf dan Penyambutan Mahasiswa Baru (Masta PMB) 2026 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis (3/9/2026). Sebanyak 8.195 mahasiswa baru mengikuti rangkaian penyambutan tersebut | Foto: Istimewa

SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyambut 8.195 mahasiswa baru dalam rangkaian Masa Ta’aruf dan Penyambutan Mahasiswa Baru (Masta PMB) 2026 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis (3/9/2026).

Mengusung tema “I’M UMS: Journey from New Student to Islamic Future Impact Leader”, kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi yang unggul, Islami, dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengatakan Masta PMB tahun ini dirancang dengan pendekatan yang berbeda. Selain memperkenalkan kehidupan kampus, rangkaian kegiatan diarahkan untuk membangun pengalaman awal yang menyenangkan bagi mahasiswa baru.

“Masta PMB 2026 menjadi momentum penyambutan mahasiswa baru dengan pendekatan yang berbeda. Selain menegaskan komitmen terhadap pelaksanaan kegiatan tanpa kekerasan, seluruh rangkaian Masta PMB dirancang sebagai proses penyambutan yang menggembirakan dan menyenangkan,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Menurut Harun, pengalaman awal mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi penting untuk membangun semangat, kepercayaan diri, serta motivasi dalam menjalani proses pendidikan.

Ia pun berharap para mahasiswa baru dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

“Saya doakan mahasiswa UMS bisa lulus tepat waktu, atau bahkan 3,5 tahun karena kampus kita bisa lulus tanpa skripsi,” katanya.

Ketua Panitia Masta PMB 2026 UMS, Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini meliputi Grand Opening dan Masta Universitaria, Masta Ke-IMM-an, Masta Fakultaria, hingga UKM Expo.

Grand Opening dan Masta Universitaria yang digelar Kamis (3/9/2026) di Edutorium UMS diikuti seluruh mahasiswa baru.

Aklis mengatakan proses penyambutan tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan kampus, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap universitas serta mengenalkan nilai-nilai yang dikembangkan UMS.

“Proses penyambutan diarahkan untuk membangun rasa memiliki, memperkenalkan nilai-nilai universitas, menginspirasi, serta menyalakan semangat mahasiswa untuk terus bertumbuh,” ujarnya.

Selain berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mahasiswa yang menempuh pendidikan di UMS juga datang dari berbagai negara. Pada 2026, UMS mencatat terdapat 45 mahasiswa asing yang menempuh pendidikan pada berbagai jenjang.

Dari jumlah tersebut, 19 mahasiswa merupakan mahasiswa program Sarjana (S1), 23 mahasiswa program Magister (S2), dan tiga mahasiswa program Doktor (S3).

Kehadiran mahasiswa internasional tersebut turut memperkuat lingkungan akademik UMS yang inklusif dan berwawasan global. Interaksi mahasiswa dari berbagai daerah dan negara diharapkan dapat memperluas perspektif sekaligus memperkuat jejaring internasional.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa baru, Anqiya Zaki Mushoddiq dari Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, mengatakan mahasiswa yang ingin memiliki daya saing perlu membangun sejumlah karakter sejak awal.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Sikap rendah hati, rasa syukur, keterbukaan terhadap kritik, serta keberanian mencoba hal-hal baru juga penting untuk menghadapi tantangan masa depan.

Pesan tersebut, menurut Anqiya, sejalan dengan pemikiran Buya Hamka mengenai pentingnya membebaskan diri dari kemalasan yang dapat menjadi belenggu bagi pikiran dan tubuh.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., mendorong mahasiswa baru mulai merancang masa depan sejak awal memasuki bangku kuliah.

Ia mengajak mahasiswa membayangkan posisi dan peran yang ingin dicapai dalam 10 tahun mendatang, baik sebagai tenaga profesional maupun pengusaha.

Menurut Ihwan, visi tersebut harus mulai dibangun sejak hari pertama perkuliahan melalui pengembangan kompetensi dan rekam jejak, baik dalam kegiatan akademik maupun nonakademik.

“Seluruh proses pembelajaran dan kompetensi yang dibangun selama masa perkuliahan diharapkan dapat terkalibrasi dengan kebutuhan dunia kerja global, termasuk perkembangan kompetensi masa depan yang menjadi perhatian berbagai lembaga internasional seperti World Economic Forum,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru juga mengikuti survei interaktif mengenai keterampilan yang dinilai penting untuk menghadapi perkembangan dunia. Mayoritas peserta menilai kemampuan memecahkan masalah atau problem solving menjadi salah satu kompetensi paling krusial di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan zaman. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|