WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dugaan keracunan massal kembali menghantui program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Wonogiri. Kali ini, ratusan pelajar di Kecamatan Jatisrono dilaporkan mengalami gejala yang disinyalir mengarah pada keracunan usai menyantap menu MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pelajar dari sejumlah sekolah di Jatisrono mengeluhkan kondisi kesehatan yang menurun secara bersamaan. Gejala yang muncul cukup serius, mulai dari demam, mual, muntah, hingga diare, sehingga menimbulkan kekhawatiran orang tua dan pihak sekolah.
Kasus ini mencuat setelah diketahui bahwa gejala keracunan muncul tidak lama setelah para pelajar mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan dalam dua waktu berbeda.
Distribusi pertama terjadi pada Jumat (9/1/2025). Sehari berselang, yakni Sabtu (10/1/2025), sejumlah pelajar mulai merasakan keluhan kesehatan. Sementara distribusi kedua dilakukan pada Senin (12/1/2025), dengan gejala keracunan kembali muncul pada Selasa (13/1/2025).
Situasi tersebut memperkuat dugaan adanya masalah serius pada proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi menu MBG.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, saat ditemui awak media pada Rabu (14/1/2025), membeberkan adanya laporan dugaan keracunan massal tersebut. Berdasarkan data sementara yang diterimanya, jumlah pelajar yang terdampak cukup besar.
“Sekitar 200-an anak,” ujar Bupati Wonogiri Setyo Sukarno singkat namun tegas.
Meski demikian, Bupati menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tengah melakukan inspeksi langsung di lapangan, termasuk penelusuran menu, proses pengolahan makanan, hingga distribusi MBG.
“Informasi lengkap akan kami sampaikan setelah hasil pemeriksaan keluar,” tambahnya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Wonogiri Imron Riskyarno memberikan penekanan keras kepada jajaran SPPG agar kejadian serupa tidak terulang. Ia meminta seluruh kepala SPPG untuk lebih berhati-hati dan disiplin dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP).
Menurutnya, aspek higienitas tidak boleh dianggap sepele. Mulai dari penggunaan tutup kepala, sandal khusus, celemek, hingga kebersihan alat dan bahan makanan harus benar-benar ditegakkan.
“Ini menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak. SOP harus dijalankan tanpa kompromi,” tegas Imron.
Untuk diketahui, dugaan keracunan menu MBG di Jatisrono ini bukan yang pertama kali terjadi di Wonogiri. Sebelumnya, kasus serupa tercatat di wilayah Wonokarto, disusul Kecamatan Slogohimo. Dengan kejadian di Jatisrono, maka ini menjadi kasus ketiga yang menimpa program MBG di wilayah tersebut.
Rentetan peristiwa ini tentu menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak terkait agar evaluasi menyeluruh dilakukan, demi memastikan program MBG benar-benar aman dan sesuai tujuan awalnya: meningkatkan gizi, bukan malah membahayakan kesehatan pelajar. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

3 days ago
8


















































