SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pimpinan dan tim astronomi Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta menggelar pengamatan Gerhana Bulan Total di Observatorium Assalaam, Pabelan, Sukoharjo, Selasa, (03/03/2026) kemarin.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari edukasi astronomi sekaligus syiar ilmu falak kepada para santri dan masyarakat.
Namun, sejak siang hari wilayah Solo dan sekitarnya telah diguyur hujan, disertai langit mendung tebal hingga malam hari. Akibatnya, meskipun saat itu fase gerhana telah memasuki tahap totalitas, namun bulan tidak dapat terlihat.
Pakar astronomi dari Observatorium Pondok Pesantren Assalaam Sukoharjo Ustadz AR Sugeng Riyadi menjelaskan, gerhana bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus.
“Jika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan benar-benar segaris lurus, maka terjadi gerhana total. Jika sedikit bergeser, maka yang terjadi adalah gerhana sebagian. Dan jika lebih jauh lagi dari garis tersebut, meskipun purnama, tidak akan terjadi gerhana,” ungkapnya
Meski tidak berhasil diamati secara langsung, fenomena kali ini memiliki keunikan tersendiri karena terjadi pada bulan Ramadan. Secara astronomis, gerhana bulan hanya terjadi saat fase bulan purnama. Namun, tidak setiap bulan purnama menghasilkan gerhana.
Ia menambahkan bahwa bulan purnama dalam kalender Hijriah tidak selalu jatuh pada tanggal 15, tetapi dapat terjadi pada tanggal 13, 14, atau 15. Hal ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk berpuasa pada hari-hari putih (Ayyamul Bidh), yaitu tanggal 13, 14, dan 15, yang dinamakan demikian karena malamnya terang oleh cahaya bulan purnama.
Menurutnya, untuk tahun ini gerhana bulan dapat disaksikan di wilayah Indonesia hingga sebagian Asia Tengah, sementara kawasan Timur Tengah tidak mengalami fenomena tersebut. Durasi totalitas gerhana diperkirakan berlangsung sekitar satu jam, dimulai selepas Magrib hingga sekitar pukul 19.00 WIB.
Meskipun cuaca tidak mendukung, kegiatan ini tetap menjadi sarana pembelajaran penting bagi para santri. Mereka memperoleh pemahaman langsung mengenai mekanisme gerhana, perbedaan gerhana total dan parsial, serta fakta bahwa gerhana bulan tidak terjadi setiap bulan meskipun selalu ada fase purnama.
Kegiatan ini juga menunjukkan semangat kolaborasi jaringan observatorium pesantren dalam mengembangkan literasi astronomi Islam di Indonesia.
“Walaupun belum diberi kesempatan melihat secara langsung karena faktor cuaca, ini tetap menjadi pembelajaran bahwa ilmu falak harus dipahami dengan sabar, teliti, dan tawakal,” tutup Ustadz AR Sugeng Riyadi. Ando
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 hours ago
2















































