371 Orang Keracunan Usai Santap MBG di Nanggulan, Ayam Panggang Jadi Dugaan Terkuat

21 hours ago 15
Ilutrasi anak keracunan. Seringnya terjadi kasus keracunan dalam menu MBG, DPR menyindir program tersebut dengan Makan Beracun Gratis | kreasi AI

KULON PROGO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak 371 orang mengalami gejala keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo, awal Agustus 2026. Ironisnya, ketika dugaan penyebab mulai mengerucut pada ayam panggang, sampel menu yang paling dicurigai itu justru tidak tersedia untuk diperiksa di laboratorium.

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo belum bisa memastikan secara mutlak penyebab keracunan. Meski demikian, hasil pemeriksaan laboratorium dan penelusuran terhadap proses pengolahan makanan mengarah kuat pada menu ayam panggang dalam paket MBG.

Ketua Satgas MBG Kulon Progo yang juga Sekretaris Daerah Kulon Progo, Triyono, mengatakan ayam panggang memiliki risiko paling tinggi dibandingkan menu lainnya.

“Sayur sebenarnya bisa menjadi penyebab, namun risiko paling tinggi di daging ayam panggang,” katanya saat ditemui di ruangannya, Selasa (1/9/2026).

Namun, dugaan tersebut belum dapat disebut sebagai kesimpulan final. Sebab, sampel ayam panggang yang dibagikan kepada penerima manfaat tidak tersedia ketika pemeriksaan dilakukan.

Sampel yang diperiksa laboratorium hanya berupa muntahan dan feses korban. Sementara itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi makanan tersebut tidak menyediakan sampel ayam panggang yang pada hari kejadian menjadi salah satu menu MBG.

Ketiadaan sampel tersebut menjadi persoalan tersendiri karena bahan makanan yang paling kuat dicurigai justru tidak bisa diuji secara langsung.

Dugaan terhadap ayam panggang semakin menguat setelah Satgas MBG mencermati pola distribusi makanan pada hari kejadian.

Distribusi MBG ketika itu dilakukan dalam dua tahap. Pengiriman pertama ditujukan bagi penerima manfaat dari jenjang TK, PAUD, SD, serta Posyandu. Sedangkan distribusi berikutnya menyasar pelajar SMP dan SMA.

Perbedaan waktu distribusi itu dianggap penting dalam menelusuri sumber persoalan.

“Kalau yang tahap pertama tidak ada temuan kasus keracunan, tapi yang di tahap kedua ada sekitar 371 orang yang mengalami gejala keracunan,” ujar Triyono.

Faktor waktu pengolahan makanan juga menjadi perhatian. Ayam yang menjadi menu MBG tersebut disebut mulai dimasak oleh SPPG Nanggulan pada dini hari. Namun makanan baru didistribusikan kepada penerima manfaat sekitar pukul 10.00 WIB.

Jeda waktu yang cukup panjang antara proses memasak dan makanan dikonsumsi dinilai dapat meningkatkan risiko berkembangnya bakteri apabila pengendalian suhu dan keamanan pangan tidak berjalan optimal.

Dari ratusan penerima manfaat yang mengalami gejala, mayoritas berasal dari SMKN 1 Nanggulan. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan kini dilaporkan telah kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Pemkab Kulon Progo sendiri telah menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Sementara SPPG yang terkait dengan kejadian tersebut masih dikenai penghentian sementara atau suspend.

“Kami juga sudah melaporkan hasilnya ke BGN (Badan Gizi Nasional), dan SPPG terkait saat ini statusnya masih di-suspend,” jelas Triyono.

Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih mengatakan hasil pemeriksaan juga menemukan indikasi bakteri pada salah satu menu makanan.

“Hasil laboratorium menunjukkan ada bakteri Staphylococcus aureus dalam menu sayur jagung gambas dari sisa sampel yang diberikan,” kata Susilaningsih.

Temuan tersebut membuat sayur juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari dugaan sumber keracunan. Namun, hasil pemeriksaan terhadap sayur tersebut dinilai belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan kasus karena tidak tersedianya sampel ayam panggang yang justru menjadi dugaan terkuat.

Menurut Susilaningsih, persoalan sampel tersebut berkaitan dengan prosedur penanganan makanan. Ayam panggang yang semestinya disimpan sebagai sampel pemeriksaan ternyata telah diberikan kepada penerima manfaat.

Akibatnya, ketika kasus keracunan terjadi, petugas tidak memiliki sampel menu tersebut untuk diuji secara langsung.

Selain persoalan sampel, Dinkes Kulon Progo juga menemukan sejumlah faktor risiko dalam pengelolaan dapur SPPG yang perlu menjadi perhatian.

Faktor tersebut antara lain pengendalian suhu makanan, kebersihan dan higienitas penjamah makanan, kemungkinan terjadinya kontaminasi silang, serta lamanya makanan berada dalam kondisi yang berisiko terhadap keamanan pangan.

Rangkaian temuan tersebut menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program MBG. Sebab, keberhasilan program bukan hanya ditentukan oleh terpenuhinya menu makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga sejauh mana makanan tersebut aman dikonsumsi.

Kasus Nanggulan kini menjadi bahan evaluasi bagi pengelolaan MBG di Kulon Progo, terutama terkait pengawasan proses memasak, penyimpanan sampel makanan, pengendalian suhu, hingga distribusi agar makanan tetap aman sampai diterima dan dikonsumsi penerima manfaat. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|