SPPG Sidoarjo Klaim Makanan Sudah Diuji dan Aman 4 Jam, Tapi Faktanya 566 Santri dan Siswa Keracunan

12 hours ago 9
Ilutrasi anak keracunan. Seringnya terjadi kasus keracunan dalam menu MBG, DPR menyindir program tersebut dengan Makan Beracun Gratis | kreasi AI

SIDOARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ada yang janggal dalam kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur. Makanan yang disebut telah melalui pemeriksaan sebelum disantap justru berujung pada keluhan kesehatan yang dialami ratusan penerimanya.

Sedikitnya 566 santri dan siswa dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo.

Korban tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Puluhan siswa dari sekolah lain di sekitar wilayah tersebut juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menerima menu yang sama.

Di tengah kasus yang terus diselidiki itu, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyebut proses penyediaan makanan telah dilakukan sesuai prosedur operasional standar (SOP).

Menurut Rafli, makanan mulai dipersiapkan sejak pukul 05.30 WIB. Proses memasak sekaligus pengemasan dilakukan sebelum makanan dikirimkan ke lembaga-lembaga penerima sekitar pukul 11.00 WIB.

Rafli menjelaskan, makanan yang telah tiba di sekolah maupun lembaga penerima masih harus menjalani pemeriksaan melalui metode organoleptik. Dalam proses tersebut, penanggung jawab dari masing-masing lembaga diminta mencicipi makanan sebelum disajikan kepada siswa dan santri.

“Di situ kan ada organoleptik (penguji atau penilai suatu produk). Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu dicicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanya, katanya aman, enggak ada masalah di makanan itu. Tapi kenapa kok keracunan lah itu yang saya tidak tahu,” katanya dikutip dari Kompas.com, Rabu (2/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam kasus ini karena makanan yang disebut lolos pemeriksaan tersebut kemudian dikonsumsi oleh penerima di 19 sekolah.

Rafli juga menjelaskan bahwa menu yang didistribusikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis, baby corn, serta buah apel.

Ia menyebut makanan MBG yang telah dikirim hanya memiliki batas waktu aman sekitar empat jam dalam kondisi suhu ruangan.

Rafli pun menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para penerima MBG tersebut.

“Mohon maaf ya, saya menyesal,” ujarnya singkat.

Penyebab Belum Bisa Dipastikan

Meski dugaan keracunan telah menimbulkan ratusan korban, penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui sumber masalah tersebut.

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengingatkan agar penyebab kasus tersebut tidak buru-buru diarahkan pada satu jenis makanan.

Sebab, menurut dia, terdapat korban yang disebut tidak mengonsumsi sayuran tetapi tetap mengalami gangguan kesehatan.

“Ada yang nyebut sayuran tapi ada juga yang nggak nyentuh sayurnya, tapi juga mengalami masalah keracunan makanan,” kata Emil, Rabu, dikutip dari Tribun Jatim.

Emil mengatakan kemungkinan adanya faktor lain masih perlu ditelusuri. Menurut dia, makanan yang berada dalam satu paket juga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang atau faktor lain yang belum diketahui.

“Walaupun kadang-kadang memang karena itu dikemas bersamaan, meskipun bukan bersumber dari lauk yang itu, kadang-kadang bisa saja gitu,” ujarnya.

“Itu bisa saja terjadi. Jadi nggak bisa langsung disimpulkan, oh karena yang nggak makan sayur juga kena, atau sayurnya yang masalah, nggak segampang itu,” imbuhnya.

Penyelidikan selanjutnya menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN). Pemeriksaan laboratorium juga dimungkinkan dilakukan untuk mengungkap penyebab munculnya gejala pada para penerima MBG.

“Ini yang ditelusuri dan ini menjadi kompetensi dari BGN. Termasuk jika dibutuhkan cek laboratorium atau penyelidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Sebagai langkah sementara, operasional SPPG Kalitengah dihentikan atau di-suspend menyusul kasus tersebut.

“Untuk dapur yang menyediakan menu MBG yaitu di SPPG Kalitengah jelas dapur itu di-suspend dulu,” tegas Emil.

Santri: Tidak Semua Mengonsumsi MBG

Kesaksian dari lingkungan pesantren juga memperlihatkan bahwa tidak semua santri mengonsumsi makanan tersebut.

Salah satu santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Hasan, mengatakan makanan MBG disantap para santri sekitar pukul 13.00 WIB pada Selasa (1/9/2026).

“Satu pondok (makan MBG) jam satu siang. (Santri semua keracunan) Nggak, soalnya ada yang nggak makan, sama imunnya kuat,” katanya dikutip dari program Saksi Kata yang tayang di YouTube Harian Surya.

Hasan menuturkan, makanan MBG memang biasanya diterima dan dikonsumsi setelah lewat tengah hari karena distribusi ke pesantren berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB.

Sejumlah santri yang mengalami gangguan kesehatan kemudian mengeluhkan sakit perut dan mendapat penanganan medis di rumah sakit.

Sementara itu, Ketua Asrama Pondok Pria Ponpes Mambaul Hikam, Ferdiansyah, membantah kabar yang menyebut ada korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

“Untuk berita yang miring seperti meninggal, itu semua hoaks. Kami dari pihak pondok sudah mengkoordinir setiap RS masing-masing. Alhamdulillah, untuk semua korban sekarang sudah tertangani,” tegasnya.

Ferdiansyah juga menyatakan keyakinannya bahwa makanan MBG menjadi sumber persoalan, bukan makanan yang disediakan oleh pihak pesantren.

“Ini murni kesalahan dari SPPG, (keracunan) tidak makanan dari pesantren. Ini makanan dari MBG,” ujarnya.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena jumlah penerima yang mengalami keluhan mencapai ratusan orang, sementara penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut. [*]  Disarikan dari sumber berita media daringTop of Form

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|