Boyolali Perkuat Benteng Moderasi Beragama Lewat Edukasi di Sekolah

1 day ago 9
Sosialisasi mengenai nilai toleransi, cinta tanah air dan sikap beragama yang sejuk dilakukan oleh MUI dan NU Kabupaten Boyolali di depan para siswa | Foto: Istimewa

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Peran ulama dalam menjaga harmoni sosial kembali ditegaskan di Kabupaten Boyolali. Sejumlah tokoh agama setempat secara aktif mendorong penguatan moderasi beragama sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya paham radikal, terutama di kalangan pelajar sekolah menengah.

Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembinaan dan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Boyolali tercatat telah beberapa kali menyambangi SMA negeri maupun swasta untuk memberikan pemahaman keagamaan yang menekankan nilai toleransi, cinta tanah air, dan sikap beragama yang sejuk.

Katib Syuriah NU Kabupaten Boyolali, Saiful Anwar, menegaskan bahwa komitmen kebangsaan NU tidak perlu diragukan. Meski demikian, menurutnya, upaya pencegahan terhadap radikalisme harus terus dilakukan, khususnya melalui jalur pendidikan formal.

“NU jelas, NKRI adalah harga final. Karena itu, pembinaan kepada generasi muda menjadi sangat penting. Beberapa waktu lalu, NU dan MUI juga turun langsung ke sekolah-sekolah memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme dan pentingnya moderasi beragama,” ujar Saiful, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Ia menjelaskan, bibit radikalisme kerap berawal dari sikap tertutup terhadap perbedaan, intoleransi, hingga penolakan terhadap budaya dan simbol negara. Karena itu, pembekalan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman sejak usia sekolah dinilai krusial agar siswa tidak mudah terpengaruh paham ekstrem.

“Kalau sejak SMA sudah dibekali pemahaman bahwa perbedaan adalah rahmat dan agama hadir untuk menenteramkan, maka ruang masuk paham radikal itu akan semakin sempit,” jelasnya.

Perwakilan dari MUI dan NU Kabupaten Boyolali dan para siswa tengah berfoto bersama usai acara | Foto: Istimewa

Meski demikian, Saiful mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menstigma lembaga pendidikan atau pesantren tertentu. Ia menekankan pentingnya sikap tabayyun jika menemukan indikasi yang mencurigakan, agar tidak menimbulkan prasangka keliru.

Dalam konteks penanganan, Saiful menilai pendekatan persuasif harus menjadi pilihan utama melalui pembinaan dan dialog. Namun, apabila telah ditemukan ancaman nyata terhadap keamanan dan keutuhan negara, langkah hukum tetap harus ditempuh.

“Pencegahan itu lebih utama. Tapi jika sudah masuk ranah pelanggaran dan mengancam keamanan, negara tidak perlu ragu bertindak tegas secara terukur,” tegasnya.

Ia juga menekankan perlunya sinergi lintas sektor, mulai dari Kementerian Agama, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga tokoh lintas agama, agar upaya pencegahan berjalan efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Boyolali, Asiqin, menegaskan bahwa ulama memiliki peran strategis dalam menciptakan suasana yang damai dan kondusif di tengah masyarakat, termasuk melalui dunia pendidikan.

“Melalui bimbingan ke sekolah-sekolah, kami mengajak siswa untuk memahami agama sebagai ajaran kasih sayang, saling menghormati, dan menjunjung persatuan. Ini bagian dari ikhtiar menjaga masa depan generasi dan bangsa,” ujarnya.

Menurut Asiqin, narasi keagamaan yang menyejukkan harus terus diperkuat, baik di ruang kelas, mimbar keagamaan, maupun ruang publik lainnya, agar tidak kalah oleh narasi sempit dan provokatif.

Selain menyasar pelajar, tokoh ulama Boyolali juga mengingatkan peran penting orang tua. Mereka diminta lebih cermat dalam memilih lembaga pendidikan sekaligus aktif mengawasi pergaulan dan aktivitas anak.

“Pilih lembaga yang jelas sanad keilmuannya, terbuka terhadap lingkungan, dan mengajarkan cinta tanah air. Orang tua tidak boleh lepas tangan,” pesan Saiful.

Apabila ditemukan pelajar yang mulai terindikasi terpapar paham radikal, langkah penyelamatan harus dilakukan melalui pembinaan ulang secara terpadu dengan melibatkan Kementerian Agama dan pihak terkait.

“Boyolali dikenal sebagai lumbung santri yang santun. Tanggung jawab kita bersama untuk menjaga daerah ini tetap damai dan rukun dalam bingkai keberagaman,” pungkasnya. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|