Dari Daun Salam Menjadi Teh Celup, Poltekkes Kemenkes Medan Edukasi Warga Desa Tengah tentang Asam Urat

1 day ago 15

DELI SERDANG, sumutpos.co – Tim dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan dan Pembuatan Teh Celup Daun Salam (Syzygium polyanthum Walp.) sebagai Antihiperurisemia di Desa Tengah, Kecamatan Pancur Batu.” Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 ini melibatkan 60 warga dan bekerja sama dengan Kelompok Masyarakat Desa Tengah, Kecamatan Pancur Batu, sebagai mitra kegiatan.

Hiperurisemia merupakan kondisi meningkatnya kadar asam urat dalam darah yang dapat berkembang menjadi gout apabila tidak ditangani dengan baik. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan tinggi purin, usia, jenis kelamin, obesitas, penyakit penyerta, penggunaan obat-obatan tertentu, serta gangguan pengeluaran asam urat melalui ginjal. Kurangnya pemahaman mengenai faktor risiko dan pencegahan menyebabkan sebagian masyarakat baru memeriksakan diri setelah mengalami keluhan, seperti nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada persendian.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan warga mengenai hiperurisemia dan gout sekaligus memberikan keterampilan dalam memanfaatkan tanaman lokal secara tepat. Daun salam dipilih karena mudah ditemukan dan telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan maupun tanaman obat. Dalam kegiatan ini, daun salam diperkenalkan dalam bentuk teh celup agar lebih praktis, mudah disiapkan, dan memiliki nilai tambah sebagai produk olahan berbasis bahan alam.

Tim pengabdian diketuai oleh apt. Hilda S, S.Farm., M.Sc. dengan anggota Mimin Wulandari, S.Farm. dan Samihah Nasution, A.Md.Farm., serta melibatkan tiga mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari penerapan ilmu kefarmasian di tengah masyarakat sekaligus memberikan pengalaman dalam melakukan edukasi kesehatan, mendampingi pemeriksaan sederhana, dan membantu pelaksanaan pelatihan.

Kegiatan diawali dengan survei lapangan, koordinasi bersama mitra, pengurusan perizinan, penentuan peserta, serta penyiapan tempat, bahan, alat, instrumen evaluasi, dan media edukasi. Kepala Desa Tengah berperan dalam menginformasikan kegiatan kepada warga, membantu mengoordinasikan peserta, menyediakan lokasi, dan mendukung kelancaran kegiatan dari tahap persiapan sampai evaluasi.

Pada tahap pelaksanaan, peserta terlebih dahulu mengikuti registrasi dan mengisi kuesioner awal atau pretest. Kuesioner digunakan untuk memperoleh gambaran pengetahuan awal peserta mengenai pengertian hiperurisemia, faktor risiko, tanda dan gejala, pencegahan, pengobatan, serta penggunaan tanaman obat. Setelah itu, peserta mengikuti pemeriksaan kadar asam urat sebagai bentuk skrining untuk mengetahui gambaran awal kondisi kesehatan masing-masing.

Materi edukasi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan didukung media berupa leaflet dan video. Peserta memperoleh penjelasan mengenai hubungan pola makan dengan kadar asam urat, jenis makanan yang perlu dibatasi, pentingnya menjaga berat badan, mencukupi kebutuhan cairan, melakukan aktivitas fisik, dan memeriksakan kesehatan secara berkala. Tim juga menjelaskan pentingnya menggunakan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak menghentikan terapi hanya karena menggunakan tanaman obat.

Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik terbimbing pembuatan teh celup daun salam. Tahapan yang diperkenalkan meliputi pemilihan daun, pencucian, pengeringan, penghalusan atau pengecilan ukuran bahan, penimbangan, pengisian ke dalam kantong teh, dan pengemasan. Aspek kebersihan bahan, alat, tempat pengolahan, serta penyimpanan produk turut ditekankan agar peserta mampu menghasilkan produk yang lebih higienis dan layak digunakan.

Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahap pembuatan. Pendekatan praktik tersebut dipilih agar pengetahuan yang disampaikan dapat diterapkan secara nyata. Diskusi berlangsung secara interaktif karena peserta dapat menyampaikan pertanyaan mengenai asam urat, pola makan, penggunaan obat, serta cara mengolah dan menyimpan teh celup daun salam.

Pada akhir kegiatan, peserta kembali mengisi kuesioner atau posttest. Berdasarkan evaluasi deskriptif, terjadi perubahan distribusi tingkat pengetahuan setelah edukasi. Sebelum kegiatan, peserta yang berada dalam kategori pengetahuan baik tercatat sebesar 16,6%. Setelah edukasi, persentase kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 75%. Sementara itu, kategori pengetahuan kurang menurun dari 38,33% menjadi 10%. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian materi yang dipadukan dengan diskusi, media edukasi, demonstrasi, dan praktik dapat membantu meningkatkan pemahaman peserta.

Pemeriksaan kadar asam urat yang dilakukan terhadap 60 peserta memberikan informasi awal mengenai kondisi kesehatan warga. Namun, pemeriksaan tersebut merupakan kegiatan skrining dan bukan penetapan diagnosis. Peserta yang memperoleh hasil di atas nilai rujukan dianjurkan melakukan pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan serta berkonsultasi dengan dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan lainnya. Hasil pemeriksaan juga tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa teh celup daun salam secara langsung menurunkan kadar asam urat karena kegiatan ini tidak dirancang sebagai uji klinis.

Kegiatan diakhiri dengan evaluasi, dokumentasi, dan penyampaian pesan kesehatan kepada peserta. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini menghasilkan media edukasi dan dokumentasi video serta meningkatkan keterampilan mitra dalam mengolah daun salam menjadi produk teh celup. Keterampilan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara mandiri dan dikembangkan sebagai kegiatan produktif masyarakat dengan tetap memperhatikan mutu, kebersihan, keamanan, dan ketentuan yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Medan menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tridharma perguruan tinggi serta mendekatkan pengetahuan kefarmasian kepada masyarakat. Pemanfaatan teh celup daun salam diperkenalkan sebagai upaya pendukung pemeliharaan kesehatan dan pemberdayaan berbasis potensi lokal. Produk tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat, pemeriksaan medis, maupun terapi yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|