Oleh: Diana, Hikmatul Fadhilah Sianipar, Imelda, Lola Mandasari dan Hasratuddin (Dosen dari Universitas Pelita Harapan Medan, Universitas Pembangunan Panca Budi, Universitas Katolik Santo Thomas, UIN Sumatera Utara, dan Universitas Negeri Medan)
“Untuk apa saya belajar matematika?” Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam pikiran banyak siswa. Bahkan, tidak jarang orang dewasa juga mengajukan pertanyaan serupa: bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak selalu menggunakan aljabar, persamaan kuadrat, trigonometri, atau kalkulus? Pertanyaan tersebut sekilas tampak sederhana. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ia membawa kita kepada persoalan yang sangat mendasar dalam pendidikan: mengapa manusia perlu belajar matematika?
Apakah matematika dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan? Apakah matematika berguna untuk menghitung uang, mengukur luas tanah, menghitung bunga pinjaman atau membaca data? Ataukah ada alasan yang lebih mendalam daripada sekadar kegunaan praktis?
Disinilah filsafat dapat membantu kita melihat matematika dari sudut pandang yang berbeda. Filsafat pendidikan matematika memang secara khusus mempertanyakan hal-hal mendasar seperti Apa itu matematika? Bagaimana matematika berhubungan dengan masyarakat? Mengapa matematika harus diajarkan? Apa manfaat belajar matematika?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan matematika sesungguhnya bukan hanya persoalan metode mengajar, melainkan juga persoalan filosofis.
Dalam filsafat, pertanyaan seperti ini membawa kita kepada persoalan ontologi: Apa sebenarnya matematika? Apakah matematika merupakan sesuatu yang sudah ada dan ditemukan manusia? Ataukah matematika merupakan hasil konstruksi manusia?
Pertanyaan tersebut telah melahirkan berbagai pandangan dalam filsafat matematika. Ada yang melihat objek matematika sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan tersendiri, ada yang menekankan struktur dan logika, dan ada pula yang melihat matematika sebagai aktivitas manusia. Apapun posisi filosofis yang kita pilih, satu hal menjadi jelas: matematika tidak dapat dipahami hanya sebagai kegiatan menghitung.
Dalam matematika, kita tidak cukup mengatakan bahwa suatu pernyataan benar karena guru mengatakan demikian. Misalnya, kita mengatakan 2+3=5. Pertanyaan matematika berikutnya bukan hanya ‘berapa hasilnya’? Tetapi juga: mengapa? Kemudian muncul pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang dimaksud dengan ‘2’? Apa yang dimaksud dengan ‘3’? Mengapa ketika keduanya digabungkan menghasilkan ‘5’?
Bagaimana kita mengetahui bahwa pernyataan tersebut benar? Pertanyaan terakhir sudah membawa kita dari matematika menuju epistemology cabang filsafat yang membicarakan bagaimana manusia memperoleh dan membenarkan pengetahuan.
Ilustrasi: matematika sebagai cara berpikir untuk memahami dunia. Matematika perlu diajarkan karena ia memberikan cara tertentu untuk memahami dunia. Melalui matematika, manusia belajar mengenali pola. Belajar membuat hubungan. Belajar mengabstraksikan sesuatu yang kompleks. Belajar membangun model. Belajar menggunakan asumsi. Belajar membedakan dugaan dan bukti. Belajar menyusun argumentasi. Belajar mengevaluasi kesimpulan. Dan belajar menyadari bahwa sebuah jawaban perlu memiliki dasar.
Norvaisa dalam kajiannya mengenai tujuan pengajaran matematika menempatkan penalaran matematis sebagai jalan tengah antara matematika akademik dan matematika yang semata-mata berorientasi pada aplikasi. Menurutnya, matematika berbasis penalaran dapat membuat matematika lebih bermakna bagi semua siswa karena menghubungkan penalaran matematis dengan aplikasi matematika di dunia nyata. “Kita mengajarkan matematika karena kita ingin membentuk manusia yang mampu berpikir logis.”
Dengan demikian, alasan utama mengapa matematika perlu diajarkan bukan karena semua anak akan menggunakan semua rumus yang dipelajari. Alasannya lebih dalam. Kita mengajarkan matematika karena kita ingin membentuk manusia yang mampu berpikir logis. (*)
Oleh: Diana, Hikmatul Fadhilah Sianipar, Imelda, Lola Mandasari dan Hasratuddin (Dosen dari Universitas Pelita Harapan Medan, Universitas Pembangunan Panca Budi, Universitas Katolik Santo Thomas, UIN Sumatera Utara, dan Universitas Negeri Medan)
“Untuk apa saya belajar matematika?” Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam pikiran banyak siswa. Bahkan, tidak jarang orang dewasa juga mengajukan pertanyaan serupa: bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak selalu menggunakan aljabar, persamaan kuadrat, trigonometri, atau kalkulus? Pertanyaan tersebut sekilas tampak sederhana. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ia membawa kita kepada persoalan yang sangat mendasar dalam pendidikan: mengapa manusia perlu belajar matematika?
Apakah matematika dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan? Apakah matematika berguna untuk menghitung uang, mengukur luas tanah, menghitung bunga pinjaman atau membaca data? Ataukah ada alasan yang lebih mendalam daripada sekadar kegunaan praktis?
Disinilah filsafat dapat membantu kita melihat matematika dari sudut pandang yang berbeda. Filsafat pendidikan matematika memang secara khusus mempertanyakan hal-hal mendasar seperti Apa itu matematika? Bagaimana matematika berhubungan dengan masyarakat? Mengapa matematika harus diajarkan? Apa manfaat belajar matematika?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan matematika sesungguhnya bukan hanya persoalan metode mengajar, melainkan juga persoalan filosofis.
Dalam filsafat, pertanyaan seperti ini membawa kita kepada persoalan ontologi: Apa sebenarnya matematika? Apakah matematika merupakan sesuatu yang sudah ada dan ditemukan manusia? Ataukah matematika merupakan hasil konstruksi manusia?
Pertanyaan tersebut telah melahirkan berbagai pandangan dalam filsafat matematika. Ada yang melihat objek matematika sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan tersendiri, ada yang menekankan struktur dan logika, dan ada pula yang melihat matematika sebagai aktivitas manusia. Apapun posisi filosofis yang kita pilih, satu hal menjadi jelas: matematika tidak dapat dipahami hanya sebagai kegiatan menghitung.
Dalam matematika, kita tidak cukup mengatakan bahwa suatu pernyataan benar karena guru mengatakan demikian. Misalnya, kita mengatakan 2+3=5. Pertanyaan matematika berikutnya bukan hanya ‘berapa hasilnya’? Tetapi juga: mengapa? Kemudian muncul pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang dimaksud dengan ‘2’? Apa yang dimaksud dengan ‘3’? Mengapa ketika keduanya digabungkan menghasilkan ‘5’?
Bagaimana kita mengetahui bahwa pernyataan tersebut benar? Pertanyaan terakhir sudah membawa kita dari matematika menuju epistemology cabang filsafat yang membicarakan bagaimana manusia memperoleh dan membenarkan pengetahuan.
Ilustrasi: matematika sebagai cara berpikir untuk memahami dunia. Matematika perlu diajarkan karena ia memberikan cara tertentu untuk memahami dunia. Melalui matematika, manusia belajar mengenali pola. Belajar membuat hubungan. Belajar mengabstraksikan sesuatu yang kompleks. Belajar membangun model. Belajar menggunakan asumsi. Belajar membedakan dugaan dan bukti. Belajar menyusun argumentasi. Belajar mengevaluasi kesimpulan. Dan belajar menyadari bahwa sebuah jawaban perlu memiliki dasar.
Norvaisa dalam kajiannya mengenai tujuan pengajaran matematika menempatkan penalaran matematis sebagai jalan tengah antara matematika akademik dan matematika yang semata-mata berorientasi pada aplikasi. Menurutnya, matematika berbasis penalaran dapat membuat matematika lebih bermakna bagi semua siswa karena menghubungkan penalaran matematis dengan aplikasi matematika di dunia nyata. “Kita mengajarkan matematika karena kita ingin membentuk manusia yang mampu berpikir logis.”
Dengan demikian, alasan utama mengapa matematika perlu diajarkan bukan karena semua anak akan menggunakan semua rumus yang dipelajari. Alasannya lebih dalam. Kita mengajarkan matematika karena kita ingin membentuk manusia yang mampu berpikir logis. (*)

6 hours ago
11

















































