MEDAN – Dampak kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kian mengkhawatirkan. Tak sekadar menyisakan gangguan pencernaan, dampak fatal diduga mulai menyerang sistem saraf, kognitif, hingga organ vital para siswa. Salah satu korban dengan kondisi paling kritis adalah Febiola Purba (16), siswi SMAN 1 Berastagi. Hingga Selasa (8/9), Febiola masih terus berjuang melawan kejang hebat dan halusinasi berulang.
Kondisi memilukan itu kembali memuncak saat Febiola berada di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik Medan, Selasa (8/9) siang. Di tengah penanganan medis, siswi yang dikenal ceria dan berprestasi tersebut mendadak hilang kesadaran. Ia berhalusinasi seolah melihat rekan-rekannya datang menjemput.
“Ayok, ayok,” ujar Febiola lirih menirukan ajakan bayangan temannya, sebagaimana ditirukan sang ibu, Elvinus Lusiana Sitanggang, dengan suara bergetar di RSUP H Adam Malik.
Elvinus tak sanggup membendung air mata melihat derita sang buah hati. Sejak tragedi keracunan MBG yang terjadi pertengahan Agustus 2026 lalu, Febiola terus mengalami penurunan kondisi fisik. Pasien tercatat sudah berpindah-pindah hingga di lima rumah sakit berbeda. Namun, penanganan medis belum membuahkan hasil signifikan.
“Tadi saat berada di RS Adam Malik pun dia kejang kembali. Dokter mengidentifikasi ada kondisi lidahnya yang tertarik ke dalam saat kejang,” ungkap Elvinus.
Pihak medis merujuk Febiola ke RSUP H Adam Malik untuk menjalani pemeriksaan komprehensif, mulai dari spesialis gastro anak, neurologi anak, hingga pemeriksaan psikiatri dan radiologi. Korban juga telah menjalani tes Elektroensefalografi (EEG) guna memetakan aktivitas listrik di otaknya. Dokter memprediksi korban mengalami kejang akibat infeksi bakteri berat atau paparan racun jamur yang menyerang saraf. Dampaknya sangat memprihatinkan; Febiola terindikasi mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 70 persen dan gangguan daya ingat.
Guna menentukan dosis dan jenis obat yang tepat, tim dokter meminta keluarga merekam video setiap kali serangan kejang itu muncul. “Dokter suruh videokan setiap kali dia kejang. Katanya video itu dibutuhkan supaya dokter bisa menentukan obat yang pas,” tutur Elvinus.
Padahal, sebelum mengonsumsi menu MBG tersebut, Febiola adalah anak yang sangat sehat dan berprestasi di sekolahnya. Ia bahkan memendam cita-cita besar untuk melanjutkan studi ke universitas ternama di Singapura. “Juara dia di sekolahnya. Saya cuma mohon berikanlah anak saya obat yang tepat, agar penyakitnya tidak bolak-balik,” ratap Elvinus.
Tragedi ini tak hanya menimpa Febiola. Puluhan siswa lain di Kabupaten Karo masih harus bolak-balik menerima perawatan medis. Tiga di antaranya menunjukkan gejala klinis yang tak kalah mengkhawatirkan. Agnesia P Silitonga, misalnya, didiagnosis mengalami gangguan fungsi ginjal akut hingga harus dirawat di RS Efarina Berastagi dan segera dirujuk ke Medan.
Sementara itu, Karissa Zefania Aritonang mengalami kekambuhan penyakit jantung yang kian parah akibat efek racun makanan. Korban sempat dirawat di RS Amanda sebelum akhirnya dirujuk ke spesialis jantung RSUP H Adam Malik Medan. Korban lainnya, Krismas Dayanti Sihite, juga mengeluhkan kelumpuhan fungsi ulu hati dan indikasi paparan racun jamur pada sarafnya.
Humas RSUP H Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, membenarkan bahwa Febiola Purba telah menjalani tiga kali kunjungan rawat jalan dan pemeriksaan intensif di rumah sakit milik pemerintah pusat tersebut. “Pasien ditangani dokter spesialis Gastro Anak dan Neurologi Anak. Kami sudah lakukan pemeriksaan EEG. Mengenai detail hasilnya, tim dokter masih menyusun rilis resmi,” jelas Rosario.
Hasil Lab: 3 Bakteri Patogen Lampaui Ambang Batas
Misteri di balik ambruknya kesehatan ratusan siswa Karo perlahan terkuak. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara membeberkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan program MBG. Hasilnya mengejutkan: tiga jenis bakteri berbahaya ditemukan dalam kadar yang melebihi batas aman.
Berdasarkan surat hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Dinkes Sumut Nomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026, sampel nasi terbukti positif tercemar Bacillus cereus. Kemudian, sampel ikan dencis bersaus dinyatakan positif mengandung Staphylococcus aureus. Sementara itu, buah melon yang disajikan kepada para siswa terkonfirmasi positif tercemar Escherichia coli (E. coli).
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut Hamid Rizal menegaskan, keberadaan ketiga bakteri patogen tersebut telah melampaui ambang batas keamanan pangan (maximum residue limit) sehingga berubah menjadi toksin berbahaya bagi tubuh manusia. “Bakteri itu memang secara alami ada di mana-mana. Namun menjadi sangat berbahaya ketika volumenya melebihi ambang batas. Ketiga bakteri pada sampel MBG ini dinyatakan berbahaya karena sudah melampaui standar yang ditentukan,” tegas Hamid Rizal.
Hamid menjelaskan, Dinkes menerjunkan SOP penanganan luar biasa yang mencakup empat langkah simultan: penanganan kegawatdaruratan korban, penelusuran laboratorium, identifikasi dampak kesehatan jangka panjang, serta koordinasi lintas sektor bersama Dinas Pendidikan dan BGN.
Terkait desakan pertanggungjawaban, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD menegaskan komitmennya untuk menanggung seluruh biaya pengobatan para korban hingga sembuh total, termasuk bagi pasien yang tidak terkover BPJS Kesehatan.
Evaluasi Total “Hulu ke Hilir” dan Penerapan HACCP
Menanggapi keparahan dampak keracunan MBG di Karo, Pengamat Kesehatan Sumatera Utara, Destanul Aulia, angkat bicara. Ia memperingatkan pemerintah agar tidak menyederhanakan masalah ini sekadar insiden “makanan basi”, melainkan sebuah ancaman serius terhadap sistem keamanan pangan nasional.
“Kasus keracunan pada program MBG harus dipandang sebagai kejadian luar biasa dalam keamanan pangan. Keberadaan bakteri seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli dalam jumlah tinggi bisa memicu toksin yang merusak jaringan organ, terutama pada anak-anak yang rentan,” ujar Destanul.
Destanul mendesak pemerintah melakukan evaluasi total penyediaan menu MBG dari hulu ke hilir. Pengawasan tidak boleh hanya berfokus pada produk akhir yang diterima siswa, tetapi harus membedah seluruh rantai pasok.
“Evaluasi harus menyeluruh. Mulai dari pemilihan bahan baku, kualitas air bersih, higienitas penjamah makanan, proses memasak, pengemasan, rantai dingin (cold chain), hingga durasi waktu simpan sejak makanan matang sampai dikonsumsi siswa,” paparnya.
Guna mencegah tragedi serupa terulang pada program nasional ini, Destanul merekomendasikan penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) secara ketat di setiap dapur penyedia MBG. Sistem ini mewajibkan adanya pencatatan suhu masakan, tes kesehatan berkala bagi juru masak, serta kewajiban menyimpan sampel (sample retention) dari setiap menu yang disajikan.
“Penyimpanan sampel makanan dari setiap menu itu krusial. Jika terjadi kasus, investigasi bisa berjalan cepat tanpa saling tuduh. Hasil lab harus dijadikan momentum perbaikan total sistem pengolahan makanan anak sekolah,” pungkas Destanul. (deo/dwi/san/adz)

3 hours ago
7

















































