Poltekkes Kemenkes Medan Ajak Warga Pancurbatu Peduli Kolesterol dengan Manfaat Meniran

1 day ago 17

DELI SERDANG, sumutpos.co– Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kadar kolesterol sekaligus mengenalkan pemanfaatan tanaman obat terus dilakukan oleh Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan. Tim dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Tengah, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Juli 2026 tersebut mengangkat tema “Edukasi dan Pembuatan Infusa Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) sebagai Antihiperlipidemia pada Masyarakat Desa Tengah, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang.” Sebanyak 35 warga mengikuti kegiatan yang turut dihadiri Sekretaris Desa Tengah dan staf desa sebagai mitra pelaksanaan PKM.

Tim pengabdian diketuai oleh Dra. Masniah, M.Kes., Apt., dengan anggota Dra. Antetti Tampubolon, M.Si., Apt. dan Henny Yusnita, S.Si., M.Kom. Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman masyarakat mengenai hiperlipidemia atau kondisi meningkatnya kadar lipid dalam darah. Kolesterol tinggi perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan risiko terjadinya aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular. Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat tidak hanya diberikan informasi mengenai kolesterol tinggi, tetapi juga dikenalkan dengan pemanfaatan tanaman obat yang terdapat di sekitar mereka.

Salah satu tanaman yang diperkenalkan adalah meniran (Phyllanthus niruri L.). Tanaman ini cukup dikenal dalam pengobatan tradisional dan mudah dijumpai di lingkungan masyarakat. Berdasarkan literatur yang digunakan dalam kegiatan, herba meniran mengandung sejumlah senyawa, di antaranya lupeol dan rutin, yang memiliki potensi berkaitan dengan metabolisme lipid.

Berbeda dari penyuluhan kesehatan yang hanya berfokus pada penyampaian materi, kegiatan ini dirancang secara interaktif. Warga mendapatkan edukasi mengenai kolesterol tinggi, obat-obatan yang digunakan dalam penanganannya, tanaman obat tradisional, serta cara pemanfaatan herba meniran. Tim kemudian memberikan demonstrasi langsung pembuatan infusa herba meniran sehingga peserta dapat melihat dan mempraktikkan cara pengolahannya.

Dalam demonstrasi tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan teknik pembuatan infusa menggunakan herba meniran kering dan air. Proses pengolahan dilakukan dengan pemanasan menggunakan penangas air selama waktu tertentu, kemudian hasilnya disaring. Edukasi mengenai teknik pengolahan menjadi bagian penting agar masyarakat memahami bahwa pemanfaatan tanaman obat juga memerlukan cara pengolahan yang tepat.

Selain edukasi dan demonstrasi, tim pengabdian melakukan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah dan kadar kolesterol kepada peserta. Pemeriksaan tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk mengetahui kondisi kesehatannya sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan secara berkala.

Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya edukasi kesehatan yang disertai pemeriksaan langsung. Masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara teoritis, tetapi juga dapat mengetahui gambaran kondisi kesehatannya sehingga diharapkan lebih terdorong untuk menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut bila diperlukan.

Dampak edukasi juga terlihat dari perubahan tingkat pengetahuan peserta. Sebelum mendapatkan edukasi, peserta dengan tingkat pengetahuan kategori baik hanya sebesar 20%. Setelah mengikuti kegiatan, angka tersebut meningkat menjadi 64%. Sementara itu, peserta dengan pengetahuan kategori kurang mengalami penurunan dari 48% sebelum edukasi menjadi 12% setelah edukasi.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penyampaian informasi yang dikombinasikan dengan demonstrasi langsung dapat membantu masyarakat memahami materi kesehatan yang diberikan. Antusiasme warga juga terlihat selama sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan mengenai penggunaan obat, kolesterol tinggi, serta pemanfaatan tanaman obat tradisional.

Melalui kegiatan ini, tim Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan berharap masyarakat Desa Tengah semakin memahami pentingnya menjaga kadar kolesterol dan menggunakan tanaman obat secara tepat. Masyarakat juga diharapkan memiliki keterampilan dalam mengolah herba meniran dalam bentuk infusa sebagai salah satu bentuk pemanfaatan tanaman obat tradisional.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini sekaligus menjadi bentuk penerapan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi kepada masyarakat. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong masyarakat agar semakin aktif dalam menjaga kesehatannya.

Dengan mengenalkan potensi tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memberikan edukasi berbasis pengetahuan kefarmasian, Poltekkes Kemenkes Medan terus memperkuat perannya dalam mendekatkan pendidikan tinggi kesehatan dengan kebutuhan nyata masyarakat. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|