Dua Guru Besar FKIP UNS Purnatugas, Soroti Inklusivitas dan Kesetaraan Difabel dalam Orasi Kehormatan

2 months ago 48
Pose bersama usai orasi dua guru besar di ruang sidang II Gedung dr. Prakosa, UNS Surakarta | Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dua sosok intelektual yang telah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan resmi melepas masa tugasnya sebagai guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Prof. Drs. Gunarhadi, M.A., Ph.D., dan Prof. Dr. Munawir Yusuf, M.Psi., keduanya dikenal sebagai tokoh sentral dalam pengembangan pendidikan inklusif di tanah air, menyampaikan Orasi Kehormatan Purnabakti pada Selasa (24/6/2025) di Ruang Sidang II Gedung dr. Prakosa UNS. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Orasi Purnabakti Ke-10 yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor UNS.

Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya menyebut purnabakti kali ini sangat istimewa. Kedua profesor berasal dari satu fakultas yang sama dan sama-sama telah meninggalkan jejak kontribusi mendalam di ranah pendidikan luar biasa dan manajemen pendidikan inklusif.

“Yang patut disyukuri, beliau berdua melewati masa pengabdian panjang ini dalam kondisi sehat. Ini adalah anugerah sekaligus teladan,” ungkap Prof. Suranto, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si., M.Si., turut mengapresiasi keteladanan dua guru besar tersebut. Ia menilai, keberhasilan mereka bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga komitmen panjang untuk membangun inklusivitas dan memperjuangkan hak-hak kelompok difabel di dunia pendidikan tinggi.

Membuka Jalan untuk Karier Difabel

Dalam orasinya, Prof. Gunarhadi memaparkan refleksi panjang bertajuk “Perjalanan Karier Penyandang Difabilitas”. Ia menyoroti pentingnya mengubah paradigma lama tentang disabilitas menuju pendekatan yang lebih manusiawi dan memberdayakan.

“Konsep difabilitas yang berarti ‘different abilities’ memberi ruang bagi pengakuan atas potensi, bukan sekadar keterbatasan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa kemajuan karier bagi penyandang difabilitas membutuhkan intervensi nyata—baik dari sisi kebijakan, pelatihan, maupun dukungan teknologi. Ia mengapresiasi langkah-langkah UNS yang telah menyediakan sarana inklusif dan pendampingan untuk mahasiswa difabel melalui berbagai inisiatif lintas program studi.

Kampus Inklusif: Antara Kenyataan dan Tantangan

Orasi berikutnya disampaikan oleh Prof. Munawir Yusuf yang menekankan urgensi mewujudkan kampus yang benar-benar inklusif dan ramah terhadap penyandang disabilitas. Ia menjabarkan lima elemen pokok kampus inklusif, mulai dari akses setara, lingkungan fisik yang aman dan nyaman, hingga partisipasi penuh sivitas akademika.

“UNS punya sejarah panjang dalam pendidikan inklusif. Kami sudah memulai jauh sebelum undang-undang mengatur,” ungkapnya. Ia menyoroti kolaborasi FKIP dan Fakultas Kedokteran yang dinilainya sebagai fondasi penting dalam membangun budaya kampus inklusif.

Meski begitu, Prof. Munawir mengakui bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, mulai dari penguatan layanan disabilitas, peningkatan aksesibilitas di lingkungan kampus, hingga penyediaan beasiswa yang berpihak pada mahasiswa difabel.

Menutup orasinya, ia menyerahkan dua buah buku karyanya—Cah Angon dan Pembangunan Inklusif Disabilitas—sebagai kontribusi pemikiran yang ingin terus ia wariskan meski tak lagi aktif mengajar. Ucapan penuh haru ia sampaikan kepada keluarga yang telah mendampingi perjalanan kariernya.

Apresiasi dan Kenangan

Sebagai bentuk penghormatan, panitia memutar video berisi testimoni dan ucapan terima kasih dari rekan-rekan akademisi, kolega, dan pimpinan UNS. Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata dari Ketua Dewan Profesor kepada kedua guru besar yang telah menyelesaikan pengabdiannya dengan penuh dedikasi.

Keduanya boleh memasuki masa purnatugas, namun warisan pemikiran dan semangat juangnya di bidang pendidikan inklusif akan terus hidup di UNS dan dunia pendidikan Indonesia. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|