Makna Kembar Mayang dalam Pernikahan Adat Jawa

11 hours ago 4
kembar mayangKembar mayang | Wikipedia

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Dalam setiap pernikahan adat Jawa, ada satu elemen penting yang selalu hadir dan memberi warna sakral pada prosesi, yakni kembar mayang. Perangkat berupa sepasang hiasan dari janur dan dedaunan ini biasanya ditempatkan di sisi kanan dan kiri pelaminan, atau digunakan dalam prosesi panggih ketika kedua mempelai dipertemukan.

Meski sekilas tampak hanya sebagai hiasan, sejatinya kembar mayang menyimpan nilai filosofi yang dalam mengenai kesucian, keseimbangan, dan doa untuk kelanggengan rumah tangga sang pengantin.

Secara historis, simbol kembar mayang dapat ditelusuri hingga relief Kalpataru di Candi Prambanan yang melambangkan pohon kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kembar mayang tidak hanya berkaitan dengan pernikahan, tetapi juga dengan pandangan kosmologis masyarakat Jawa tentang kehidupan, kesuburan, dan kesinambungan (Sri Widayanti, 2008).

Di sisi lain, menurut Duwi Oktaviana (2022), kembar mayang berfungsi sebagai saksi transisi status seseorang dari bujangan atau perawan menuju kehidupan berumah tangga, sekaligus diyakini sebagai sarana penolak bala agar pasangan pengantin terhindar dari marabahaya.

Rangkaian kembar mayang disusun dari berbagai unsur yang masing-masing memiliki makna simbolik. Daun beringin misalnya, melambangkan perlindungan, tempat berteduh, dan harapan agar mempelai kelak mampu menjadi pelindung bagi keluarga. Daun alang-alang dipakai sebagai simbol kekuatan dan ketahanan, doa agar pasangan selalu berada dalam lindungan Tuhan.

Ada pula daun yang disebut apa-apa, yakni dedaunan tambahan seperti puring atau udan emas, yang merepresentasikan kelancaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sementara janur yang dipilin hingga membentuk ornamen indah dimaknai sebagai simbol kesiapan manusia untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Selain itu, terdapat pula elemen lain dalam kembar mayang seperti pecut-pecutan yang melambangkan semangat kreatif, keris sebagai tanda kewaspadaan, kupat luar sebagai simbol keselamatan, walang-walangan yang bermakna kelincahan, hingga kembang pudak dan kembang potro menggolo yang masing-masing merepresentasikan kesucian, keberanian, dan kelembutan hati.

Keseluruhan rangkaian ini membentuk gambaran simbolik mengenai doa dan harapan masyarakat Jawa terhadap pasangan yang baru menikah.

Dalam perspektif budaya, Gondowasito (1965) menyebut kembar mayang sebagai buket janur dan bunga pinang yang melambangkan pohon kehidupan—sebuah simbol yang diyakini dapat memenuhi segala harapan.

Hal senada juga ditegaskan Sindoesastra (1938) yang menyebut istilah lain untuk kembar mayang sebagai megar mayang atau gagar mayang, yang berarti mekarnya bunga pinang, sebuah metafora tentang masa muda yang gugur dan berubah menjadi fase baru, yakni berumah tangga.

Kehadiran kembar mayang tidak berhenti pada aspek estetika semata, melainkan juga menyimpan nilai edukatif. Menurut Faizah dan Kasnadi (2022), simbolisme dalam kembar mayang dapat dijadikan bahan pembelajaran seni budaya, karena di dalamnya terkandung pesan moral, filosofi hidup, serta tata nilai masyarakat Jawa yang sarat makna.

Dengan demikian, kembar mayang tidak hanya penting dalam ritual pernikahan, tetapi juga menjadi media pewarisan budaya kepada generasi berikutnya. Pada akhirnya, kembar mayang merupakan doa yang diwujudkan dalam bentuk simbolis: doa tentang kesucian niat, keseimbangan antara suami dan istri, keberlanjutan keturunan, serta perlindungan dari marabahaya.

Seperti halnya dua batang kembar mayang yang berdiri beriringan, rumah tangga pun diharapkan dapat berjalan berpasangan dalam harmoni, saling melengkapi, dan saling menguatkan di sepanjang perjalanan hidup. [Hamdani MW]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|