MEDAN, sumutpos.co– Tim mahasiswa dari Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil menciptakan inovasi kemasan pangan fungsional berupa edible film (lapisan pelindung yang dapat dimakan) berbasis nanokomposit. Inovasi ini dirancang khusus untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan cabai merah dalam kondisi kelembapan tinggi, terutama pascabencana banjir.
Tim riset ini diketuai oleh Inggrid Auralya Sandy, dengan anggota yang terdiri dari Elfrida Yohana Sigalingging, Marthayuda Anwarta, Crisya Lestari Siregar, dan Novaldo Imanuel Haloho, serta didampingi oleh dosen pembimbing Juli Novita Sari, S.Si, M.Sc.
Berkat urgensi dan nilai kebaruannya, riset ini sukses meraih pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kehilangan pascapanen (post-harvest loss) cabai merah di Indonesia yang mencapai 18,8 persen.

Situasi ini kerap diperburuk oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir di Sumatra Utara, yang memutus jalur distribusi dan memicu lonjakan harga cabai hingga Rp100.000 per kilogram akibat merosotnya pasokan sampai 50 persen. Pada kondisi kelembapan tinggi, cabai merah sangat rentan membusuk akibat serangan jamur Colletotrichum sp. dan bakteri Pectobacterium carotovorum.
Ketua Tim PKM-RE USU, Inggrid Auralya Sandy menjelaskan, gagasan ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap kerugian petani dan konsumen saat banjir melanda daerah Sumatra Utara. “Kami melihat potensi besar dari limbah lokal yang melimpah di Sumatra Utara namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan memadukan serat kelapa sawit dan ekstrak kulit rambutan, kami menciptakan pelindung organik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menahan laju pembusukan cabai akibat kelembapan tinggi dan serangan mikroba pascabanjir,” ujar Inggrid.
Guna mengatasi persoalan tersebut, tim mahasiswa USU memanfaatkan dua jenis limbah lokal yang melimpah di Sumatra Utara, yaitu Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.). Dua bahan ini diolah menjadi formula edible film aktif dengan performa mekanis yang tangguh.
Mekanisme kerja inovasi ini terletak pada perpaduan materialnya. Serat TKKS diisolasi melalui proses alkalinasi, steam explosion, hingga ultrasonikasi untuk menghasilkan cellulose nanofiber (CNF). CNF ini berfungsi sebagai penguat matriks kitosan yang meningkatkan ketahanan mekanis serta memperkuat dinding penghalang (barrier) uap air.
Sementara itu, ekstrak kulit rambutan diintegrasikan karena kandungan senyawa polifenolnya—seperti flavonoid, tanin, dan saponin—memiliki aktivitas antimikroba alami yang tinggi dengan kadar fenolik total mencapai 179,40 mg GAE/g ekstrak.
Inggrid menambahkan, keunggulan edible film nanokomposit ini berada pada tingkat ketahanan dan kepraktisannya jika dibandingkan dengan solusi yang ada saat ini. “Kemasan plastik konvensional menambah beban sampah lingkungan, sementara metode pencelupan (coating) biasa sering kali cepat rusak di udara lembap. Inovasi nanokomposit kami menawarkan proteksi ganda: CNF membuat lapisan lebih kuat menahan uap air, dan ekstrak kulit rambutan aktif membunuh bakteri serta jamur pembusuk,” tambahnya.
Kehadiran edible film nanokomposit ini menjadi jawaban atas keterbatasan kemasan plastik konvensional yang tidak ramah lingkungan, serta metode edible coating pencelupan biasa yang terbukti rentan rusak pada lingkungan dengan kelembapan tinggi.
Riset yang berbasis di berbagai laboratorium terpadu USU ini ditargetkan tidak hanya menghasilkan produk kemasan aktif fungsional yang teruji, tetapi juga berkontribusi pada publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA serta pengajuan usulan Hak Paten Sederhana. Melalui dukungan pendanaan PKM 2026, inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung sistem pascapanen berkelanjutan serta memperkuat ketahanan pangan nasional. (adz)
MEDAN, sumutpos.co– Tim mahasiswa dari Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil menciptakan inovasi kemasan pangan fungsional berupa edible film (lapisan pelindung yang dapat dimakan) berbasis nanokomposit. Inovasi ini dirancang khusus untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan cabai merah dalam kondisi kelembapan tinggi, terutama pascabencana banjir.
Tim riset ini diketuai oleh Inggrid Auralya Sandy, dengan anggota yang terdiri dari Elfrida Yohana Sigalingging, Marthayuda Anwarta, Crisya Lestari Siregar, dan Novaldo Imanuel Haloho, serta didampingi oleh dosen pembimbing Juli Novita Sari, S.Si, M.Sc.
Berkat urgensi dan nilai kebaruannya, riset ini sukses meraih pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kehilangan pascapanen (post-harvest loss) cabai merah di Indonesia yang mencapai 18,8 persen.

Situasi ini kerap diperburuk oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir di Sumatra Utara, yang memutus jalur distribusi dan memicu lonjakan harga cabai hingga Rp100.000 per kilogram akibat merosotnya pasokan sampai 50 persen. Pada kondisi kelembapan tinggi, cabai merah sangat rentan membusuk akibat serangan jamur Colletotrichum sp. dan bakteri Pectobacterium carotovorum.
Ketua Tim PKM-RE USU, Inggrid Auralya Sandy menjelaskan, gagasan ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap kerugian petani dan konsumen saat banjir melanda daerah Sumatra Utara. “Kami melihat potensi besar dari limbah lokal yang melimpah di Sumatra Utara namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan memadukan serat kelapa sawit dan ekstrak kulit rambutan, kami menciptakan pelindung organik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menahan laju pembusukan cabai akibat kelembapan tinggi dan serangan mikroba pascabanjir,” ujar Inggrid.
Guna mengatasi persoalan tersebut, tim mahasiswa USU memanfaatkan dua jenis limbah lokal yang melimpah di Sumatra Utara, yaitu Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.). Dua bahan ini diolah menjadi formula edible film aktif dengan performa mekanis yang tangguh.
Mekanisme kerja inovasi ini terletak pada perpaduan materialnya. Serat TKKS diisolasi melalui proses alkalinasi, steam explosion, hingga ultrasonikasi untuk menghasilkan cellulose nanofiber (CNF). CNF ini berfungsi sebagai penguat matriks kitosan yang meningkatkan ketahanan mekanis serta memperkuat dinding penghalang (barrier) uap air.
Sementara itu, ekstrak kulit rambutan diintegrasikan karena kandungan senyawa polifenolnya—seperti flavonoid, tanin, dan saponin—memiliki aktivitas antimikroba alami yang tinggi dengan kadar fenolik total mencapai 179,40 mg GAE/g ekstrak.
Inggrid menambahkan, keunggulan edible film nanokomposit ini berada pada tingkat ketahanan dan kepraktisannya jika dibandingkan dengan solusi yang ada saat ini. “Kemasan plastik konvensional menambah beban sampah lingkungan, sementara metode pencelupan (coating) biasa sering kali cepat rusak di udara lembap. Inovasi nanokomposit kami menawarkan proteksi ganda: CNF membuat lapisan lebih kuat menahan uap air, dan ekstrak kulit rambutan aktif membunuh bakteri serta jamur pembusuk,” tambahnya.
Kehadiran edible film nanokomposit ini menjadi jawaban atas keterbatasan kemasan plastik konvensional yang tidak ramah lingkungan, serta metode edible coating pencelupan biasa yang terbukti rentan rusak pada lingkungan dengan kelembapan tinggi.
Riset yang berbasis di berbagai laboratorium terpadu USU ini ditargetkan tidak hanya menghasilkan produk kemasan aktif fungsional yang teruji, tetapi juga berkontribusi pada publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA serta pengajuan usulan Hak Paten Sederhana. Melalui dukungan pendanaan PKM 2026, inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung sistem pascapanen berkelanjutan serta memperkuat ketahanan pangan nasional. (adz)

22 hours ago
11

















































