Mantan Panglima Militer Israel Siap Tantang Netanyahu di Pemilu

1 day ago 10

JAKARTA- Mantan Panglima Militer Israel atau mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Gadi Eisenkot, akan menjadi penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam Pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung paling lambat Oktober mendatang. Bahkan sejumlah survei terbaru menunjukkan popularitas Eisenkot terus meningkat, membuka peluang mengakhiri dominasi politik Netanyahu yang telah memimpin Israel selama bertahun-tahun.

Melansir Reuters, oenaikan elektabilitas Eisenkot terjadi di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Netanyahu setelah perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Meski Partai Likud masih diproyeksikan menjadi peraih kursi terbanyak di parlemen, partai baru Eisenkot, Yashar, disebut memiliki peluang lebih besar membangun koalisi pemerintahan.

Partai Yashar, yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘lurus’ atau ‘jujur’, diperkirakan menjadi kekuatan politik terbesar kedua di parlemen. Posisi tersebut dinilai cukup untuk membawa Eisenkot menjadi kandidat kuat perdana menteri jika berhasil menggalang dukungan dari partai-partai lain.

Gadi Eisenkot merupakan mantan Kepala Staf IDF yang menjabat pada 2015 hingga 2019. Pria berusia 66 tahun itu dikenal luas sebagai tokoh militer berpengalaman sekaligus sosok yang kehilangan putranya, Gal Meir Eisenkot, dalam operasi militer Israel di Gaza pada Desember 2023. Dua keponakannya juga gugur dalam konflik yang sama.Latar belakang tersebut membuat Eisenkot memperoleh simpati dari banyak warga Israel yang selama hampir tiga tahun terakhir hidup di bawah bayang-bayang konflik bersenjata.

Selain berasal dari keluarga imigran Maroko, Eisenkot juga mulai menarik dukungan pemilih Yahudi Mizrahi, kelompok keturunan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini menjadi salah satu basis pendukung Netanyahu. Meski maju sebagai alternatif bagi Netanyahu, Eisenkot tidak menawarkan perubahan besar dalam pendekatan keamanan Israel. Ia dikenal sebagai penggagas ‘Doktrin Dahiyeh’, strategi militer yang menekankan penggunaan kekuatan secara besar-besaran terhadap wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata.

Strategi tersebut pertama kali diterapkan saat perang melawan Hizbullah di Lebanon pada 2006 melalui pemboman intensif di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan.Dalam sebuah konferensi pekan ini, Eisenkot mengatakan dirinya memang menerapkan strategi tersebut. “Saya menerapkan ‘Doktrin Dahiyeh’ dengan serangan yang tidak proporsional.”

Ia juga menilai militer Israel seharusnya bebas menyerang Hizbullah di seluruh wilayah Lebanon. Menurutnya, gencatan senjata yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menciptakan ‘realitas yang gila’ karena membatasi ruang gerak pasukan Israel. Setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, Eisenkot sempat bergabung dalam kabinet perang Israel selama delapan bulan sebelum mengundurkan diri karena mengkritik kepemimpinan Netanyahu.

Baca Juga:Pengungkapan Kasus Narkoba Sepanjang 2026, 32.792 Orang Tersangka dan Rp 10,4 Triliun Barang Bukti. Menurut Direktur Begin-Sadat Center for Strategic Studies di Bar-Ilan University, Eitan Shamir, kekuatan utama Eisenkot justru berasal dari citranya sebagai sosok yang sederhana. “Dia terlihat sebagai pribadi yang tulus. Dia sangat mudah disukai, bukan seorang politikus, melainkan orang biasa yang bisa menjadi tetangga atau rekan kerja Anda. Dia tidak terlalu rumit. Orang-orang merasa bisa berhubungan dengannya,” kata Shamir.

Meski demikian, kubu Netanyahu mempertanyakan kemampuan bahasa Inggris Eisenkot yang dinilai penting untuk menjaga hubungan strategis Israel dengan negara-negara Barat. Walaupun tren survei menunjukkan dukungan terhadap Eisenkot terus menguat, peluang Netanyahu mempertahankan jabatannya belum sepenuhnya tertutup. Peneliti senior Israel Democracy Institute, Tamar Hermann, menilai Netanyahu memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dalam politik Israel.

“Netanyahu ibarat Houdini dalam dunia politik. Dia selalu berhasil keluar dari situasi yang tampaknya mustahil,” ujar Hermann. Dengan sistem parlementer Israel yang mengharuskan pembentukan koalisi, hasil pemilu nanti tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi yang diraih masing-masing partai, tetapi juga kemampuan mereka membangun dukungan di parlemen.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAKARTA- Mantan Panglima Militer Israel atau mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Gadi Eisenkot, akan menjadi penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam Pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung paling lambat Oktober mendatang. Bahkan sejumlah survei terbaru menunjukkan popularitas Eisenkot terus meningkat, membuka peluang mengakhiri dominasi politik Netanyahu yang telah memimpin Israel selama bertahun-tahun.

Melansir Reuters, oenaikan elektabilitas Eisenkot terjadi di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Netanyahu setelah perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Meski Partai Likud masih diproyeksikan menjadi peraih kursi terbanyak di parlemen, partai baru Eisenkot, Yashar, disebut memiliki peluang lebih besar membangun koalisi pemerintahan.

Partai Yashar, yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘lurus’ atau ‘jujur’, diperkirakan menjadi kekuatan politik terbesar kedua di parlemen. Posisi tersebut dinilai cukup untuk membawa Eisenkot menjadi kandidat kuat perdana menteri jika berhasil menggalang dukungan dari partai-partai lain.

Gadi Eisenkot merupakan mantan Kepala Staf IDF yang menjabat pada 2015 hingga 2019. Pria berusia 66 tahun itu dikenal luas sebagai tokoh militer berpengalaman sekaligus sosok yang kehilangan putranya, Gal Meir Eisenkot, dalam operasi militer Israel di Gaza pada Desember 2023. Dua keponakannya juga gugur dalam konflik yang sama.Latar belakang tersebut membuat Eisenkot memperoleh simpati dari banyak warga Israel yang selama hampir tiga tahun terakhir hidup di bawah bayang-bayang konflik bersenjata.

Selain berasal dari keluarga imigran Maroko, Eisenkot juga mulai menarik dukungan pemilih Yahudi Mizrahi, kelompok keturunan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini menjadi salah satu basis pendukung Netanyahu. Meski maju sebagai alternatif bagi Netanyahu, Eisenkot tidak menawarkan perubahan besar dalam pendekatan keamanan Israel. Ia dikenal sebagai penggagas ‘Doktrin Dahiyeh’, strategi militer yang menekankan penggunaan kekuatan secara besar-besaran terhadap wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata.

Strategi tersebut pertama kali diterapkan saat perang melawan Hizbullah di Lebanon pada 2006 melalui pemboman intensif di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan.Dalam sebuah konferensi pekan ini, Eisenkot mengatakan dirinya memang menerapkan strategi tersebut. “Saya menerapkan ‘Doktrin Dahiyeh’ dengan serangan yang tidak proporsional.”

Ia juga menilai militer Israel seharusnya bebas menyerang Hizbullah di seluruh wilayah Lebanon. Menurutnya, gencatan senjata yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menciptakan ‘realitas yang gila’ karena membatasi ruang gerak pasukan Israel. Setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, Eisenkot sempat bergabung dalam kabinet perang Israel selama delapan bulan sebelum mengundurkan diri karena mengkritik kepemimpinan Netanyahu.

Baca Juga:Pengungkapan Kasus Narkoba Sepanjang 2026, 32.792 Orang Tersangka dan Rp 10,4 Triliun Barang Bukti. Menurut Direktur Begin-Sadat Center for Strategic Studies di Bar-Ilan University, Eitan Shamir, kekuatan utama Eisenkot justru berasal dari citranya sebagai sosok yang sederhana. “Dia terlihat sebagai pribadi yang tulus. Dia sangat mudah disukai, bukan seorang politikus, melainkan orang biasa yang bisa menjadi tetangga atau rekan kerja Anda. Dia tidak terlalu rumit. Orang-orang merasa bisa berhubungan dengannya,” kata Shamir.

Meski demikian, kubu Netanyahu mempertanyakan kemampuan bahasa Inggris Eisenkot yang dinilai penting untuk menjaga hubungan strategis Israel dengan negara-negara Barat. Walaupun tren survei menunjukkan dukungan terhadap Eisenkot terus menguat, peluang Netanyahu mempertahankan jabatannya belum sepenuhnya tertutup. Peneliti senior Israel Democracy Institute, Tamar Hermann, menilai Netanyahu memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dalam politik Israel.

“Netanyahu ibarat Houdini dalam dunia politik. Dia selalu berhasil keluar dari situasi yang tampaknya mustahil,” ujar Hermann. Dengan sistem parlementer Israel yang mengharuskan pembentukan koalisi, hasil pemilu nanti tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi yang diraih masing-masing partai, tetapi juga kemampuan mereka membangun dukungan di parlemen.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|