Tangani 1.572 Kasus, 11 Markas KKB Diduduki

14 hours ago 10

JAYAPURA – Enam bulan pertama Tahun 2026 menjadi periode yang sarat tantangan bagi Kepolisian Daerah (Polda) Papua. Di tengah dinamika keamanan yang masih dipengaruhi aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB), meningkatnya berbagai bentuk kejahatan konvensional, hingga tingginya angka kecelakaan lalu lintas, Polda Papua menilai kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) secara umum tetap berada dalam situasi yang kondusif.

Ini disampaikan Kapolda Papua, Ijen Pol Patrige Renwarin dalam acara syukuran HUT Ke-80 Bhayangkara di Mapolda Papua, Rabu (1/7). Meski mengakui masih terdapat sejumlah gejolak di beberapa daerah, Patrige menilai seluruh dinamika tersebut mampu dikendalikan melalui langkah cepat jajaran Polres di wilayah masing-masing.

Refleksi kinerja tersebut sekaligus menjadi momentum evaluasi menyeluruh, bukan hanya memaparkan keberhasilan, tetapi juga mengidentifikasi tantangan yang diperkirakan masih akan dihadapi pada semester berikutnya. Dalam aspek operasional, berbagai upaya preventif terus diperkuat. Fungsi Samapta, misalnya, mengintensifkan pengaturan lalu lintas pada titik-titik rawan kemacetan melalui program strong point, patroli malam blue light patrol, patroli dialogis, serta patroli rutin guna memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Di sisi lain, fungsi Pembinaan Masyarakat (Binmas) lebih banyak menyentuh aspek pelayanan publik melalui peningkatan pembinaan keamanan lingkungan, termasuk pelaksanaan pendidikan satuan pengamanan (Satpam) di Kota Jayapura sebagai bagian dari peningkatan kapasitas pengamanan swakarsa.

Namun, di balik berbagai upaya preventif tersebut, data kecelakaan lalu lintas masih menjadi perhatian serius. Selama Semester I Tahun 2026 tercatat 912 kasus kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah itu, 53 orang meninggal dunia, 508 orang mengalami luka berat, dan 843 orang mengalami luka ringan, dengan total kerugian materi mencapai Rp2,46 miliar.

“Sementara itu, pelanggaran lalu lintas mencapai 14.887 kasus, terdiri atas 972 tilang dan 13.915 teguran, dengan total penerimaan denda sebesar Rp145,83 juta,” beber Patrige dihadapan tamu undangan. Selain menjaga keamanan, Polda Papua juga terlibat aktif dalam berbagai operasi kemanusiaan. Korps Brimob, misalnya, diterjunkan dalam penanganan korban perang suku di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, hingga pencarian korban ledakan bom sisa Perang Dunia II di kawasan Perikanan Fandoi, Kabupaten Biak Numfor.

Sementara itu, Bidang Kedokteran dan Kesehatan bersama Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura terus memperluas pelayanan kesehatan gratis melalui kegiatan bakti sosial di berbagai titik. Diakui bidang penegakan hukum, angka kriminalitas masih menunjukkan tantangan yang cukup besar.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Polda Papua menangani 1.572 perkara tindak pidana konvensional, namun baru 194 perkara yang berhasil diselesaikan. “Kasus yang paling dominan adalah pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sebanyak 911 kasus, disusul pencurian dengan pemberatan (211 kasus), pengeroyokan (209 kasus), pencurian dengan kekerasan (168 kasus), penganiayaan berat (39 kasus), serta 34 kasus pembunuhan.

Di sektor kejahatan transnasional, aparat menangani 117 perkara, terdiri atas 104 kasus narkotika dan 13 kasus kejahatan siber,” jelas Pria berbintang II tersebut. Sedangkan pada kejahatan yang merugikan kekayaan negara, polisi menangani dua kasus illegal fishing, dua kasus illegal oil, serta satu perkara dugaan tindak pidana korupsi.

Sepanjang Semester I Tahun 2026 juga tercatat 11 konflik antarkelompok atau perang suku, serta 73 aksi unjuk rasa yang berlangsung di berbagai wilayah hukum Polda Papua. Dalam mendukung pembuktian ilmiah, Bidang Laboratorium Forensik telah menangani 42 perkara dengan total 1.859 barang bukti yang diperiksa.

Di wilayah perairan, Direktorat Polairud menangani 9 perkara, dengan 7 kasus di antaranya telah berhasil diselesaikan. Sorotan utama tentu tertuju pada pelaksanaan Operasi Damai Cartenz 2026 yang masih menjadi ujung tombak penanganan kelompok bersenjata di Papua. Sepanjang Semester I Tahun 2026, operasi tersebut mencatat keberhasilan penegakan hukum terhadap 112 orang, terdiri atas 67 anggota maupun simpatisan KKB, 22 pelaku jaringan pemasok senjata dan amunisi, dua narapidana KKB yang melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan, serta 21 pelaku kejahatan luar biasa lainnya.

Selain itu, aparat berhasil menyita dua pucuk senjata api, enam laras senjata, 1.018 butir amunisi, 10 pucuk senapan angin, 66 perangkat komunikasi, 42 dokumen, tiga bendera Bintang Kejora, serta 681 barang bukti lainnya yang berkaitan dengan aktivitas kelompok bersenjata.

Operasi tersebut juga berhasil menguasai 11 markas yang selama ini diduga digunakan sebagai basis aktivitas kelompok kriminal bersenjata di wilayah Papua Raya. Di bidang pembinaan organisasi, Polda Papua mencatat kekuatan personel sebanyak 13.048 anggota dari kebutuhan ideal 23.084 personel.

Selama Semester I Tahun 2026, sebanyak 774 personel mengikuti pendidikan pengembangan spesialisasi maupun pelatihan fungsi. Institusi juga memberikan penghargaan kepada 14 personel Polres Keerom dan satu personel Satgas Operasi Damai Cartenz atas keberhasilan mengungkap jaringan penyelundupan senjata api kepada KKB. Penghargaan turut diberikan kepada sejumlah Polres yang dinilai berprestasi dalam bidang kehumasan.

Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia, Polda Papua juga membuka berbagai jalur rekrutmen anggota Polri. Di luar tugas pokok kepolisian, Polda Papua turut menjalankan program strategis nasional melalui pengembangan pertanian jagung. Meski demikian, persoalan keamanan Papua belum sepenuhnya mereda. Data Polda Papua menunjukkan aksi kelompok kriminal bersenjata selama Semester I Tahun 2026 mencapai 67 kejadian, yang menyebabkan 25 orang meninggal dunia dan 17 orang mengalami luka-luka.

Selain itu, aparat berhasil menyita sembilan pucuk senjata api, terdiri atas tujuh senjata organik dan dua senjata rakitan, disertai 1.304 butir amunisi, lima magazen, serta 11 bahan peledak. “Memasuki Semester II Tahun 2026, kami memprediksi ancaman keamanan masih akan didominasi aktivitas kelompok bersenjata di sejumlah wilayah,” kata pria berkacamata tersebut.

Pengungkapan berbagai jaringan pemasok senjata sepanjang tahun ini menunjukkan bahwa rantai distribusi logistik kelompok tersebut masih aktif meskipun terus ditekan melalui operasi penegakan hukum. “Pola penyelundupan diperkirakan akan semakin memanfaatkan jaringan sipil sebagai perantara sehingga membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi dari aparat keamanan,” ujar Patrige.

Kapolda Papua menegaskan, seluruh capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan. Namun demikian, ia juga mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam pelayanan maupun pelaksanaan tugas kepolisian. “Selaku Kapolda dan seluruh keluarga besar Polda Papua, kami menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kinerja, perilaku, perkataan maupun pelayanan Polri yang belum memenuhi harapan masyarakat,” pungkasnya (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|