Polisi Bongkar Jejak Uang di Balik Kerusuhan 27 Agustus, Ada Badan Hukum yang Diduga Jadi Penyandang Dana

16 hours ago 11
Ilustrasi aksi demontrasi | Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kerusuhan yang mewarnai aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026 mulai menguak sisi lain. Polisi menduga pengerahan massa tidak seluruhnya berlangsung spontan, melainkan ada pihak yang menyiapkan uang untuk menggerakkan orang turun ke jalan.

Polda Metro Jaya bahkan menemukan dugaan adanya badan hukum yang memesan pengerahan massa melalui seorang koordinator lapangan. Polisi kini masih menelusuri siapa pihak yang berada di balik badan hukum tersebut serta sejauh mana perannya dalam rangkaian kerusuhan pascademonstrasi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengungkapkan, salah satu jalur pendanaan ditelusuri melalui koordinator lapangan berinisial ER, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta.

Menurut Iman, ER disebut mendapatkan pesanan dari sebuah badan hukum yang hingga kini identitasnya masih dirahasiakan penyidik.

“ER mendapatkan order dari salah satu badan hukum yang sedang kami dalami. Badan hukum itu yang menyediakan anggaran dan meminta ER untuk menyiapkan orang-orang,” ujarnya dalam konferensi pers, Sabtu, 12 September 2026.

Besaran uang yang dijanjikan kepada massa bervariasi. ER, kata Iman, menjanjikan bayaran Rp70.000 untuk setiap orang. Namun, dalam praktiknya terdapat pula massa yang hanya memperoleh Rp40.000 hingga Rp50.000 per orang.

Polisi belum membuka identitas badan hukum tersebut. Iman beralasan, informasi itu berkaitan langsung dengan proses penyelidikan dan penyidikan yang masih berjalan. Polisi baru akan mengungkapnya setelah memperoleh alat bukti yang dinilai cukup dan dapat dipertanggungjawabkan.

Meski demikian, Iman memberikan sedikit petunjuk mengenai lokasi badan hukum yang tengah ditelusuri tersebut.

“Domisilinya, ya sekitar Jakarta, kalau itu saya jawab,” kata Iman.

Temuan tersebut membuat polisi kini tidak hanya mengejar pelaku di lapangan, tetapi juga mencoba membongkar aliran perintah dan uang yang diduga berada di belakang pengerahan massa.

Iman menggambarkan pola tersebut sebagai sebuah rantai. Uang dari pihak yang memesan pengerahan massa kemudian turun melalui sejumlah tingkatan sebelum sampai kepada orang-orang yang berada di lapangan.

“Nah, ini semacam skema. Jadi dari pengorder menyiapkan sekian puluh ribu, kemudian ke bawah turun menjadi sekian puluh ribu, ke bawah lagi turun menjadi sekian puluh ribu dengan sejumlah orang yang diorder tersebut,” tutur Iman.

“Kami terus menelusurinya supaya hal ini tidak terjadi berulang yang merugikan kita semua”.

Jejak pendanaan itu, lanjut Iman, tidak berhenti pada satu jalur. Polisi menemukan sedikitnya tiga klaster yang diduga berkaitan dengan pembiayaan pengerahan massa dalam kerusuhan setelah demonstrasi 27 Agustus.

Klaster lain melibatkan korlap berinisial JT. Ia disebut menerima bayaran Rp40.000 untuk setiap orang yang dikerahkan. JT mendapatkan permintaan dari seseorang berinisial PKL.

PKL kemudian disebut memperoleh pesanan dari KHT alias HY. Dari penelusuran polisi, KHT alias HY disebut kembali mendapatkan order dari seseorang berinisial SO.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa penyidik kini tengah mencoba mengurai siapa sebenarnya pihak yang berada di lapisan paling atas dari rantai pengerahan massa tersebut.

Selain dua jalur pendanaan itu, polisi juga mengungkap adanya tiga tersangka yang diduga membiayai pengerahan massa dari kalangan anak-anak.

Dengan demikian, penyidikan kerusuhan 27 Agustus kini berkembang dari sekadar mengidentifikasi pelaku yang berada di lapangan menjadi upaya mengungkap kemungkinan adanya pihak yang membiayai dan mengorganisasi pengerahan massa. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|