JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang hanya cukup untuk 20 hari bukanlah kondisi darurat. Menurutnya, kapasitas tersebut sudah sesuai dengan standar nasional yang selama ini diterapkan.
“Itu kemampuan kita, jadi standar nasionalnya minimal 20 sampai 21 hari,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026.
Pernyataan itu muncul setelah penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Bahlil menjelaskan, secara teknis kapasitas penyimpanan BBM di dalam negeri memang memiliki batas. Daya tampung maksimal tangki penyimpanan nasional hanya sekitar 25 hari.
“Kenapa kita enggak melakukan persediaan lebih dari 25 hari? karena kalau ada pun kita mau simpan di mana? Storage-nya enggak cukup,” ujar Ketua Umum Partai Golkar itu.
Meski begitu, pemerintah mengakui ketahanan energi nasional perlu diperkuat. Bahlil menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembangunan fasilitas penyimpanan baru agar cadangan energi bisa diperpanjang hingga tiga bulan.
“Sekarang ini pemerintah di bawah arahan Bapak Presiden Prabowo, memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage, supaya ketahanan energi kita ada,” tuturnya.
Sebelumnya, pada Senin (2/3/2026), Bahlil juga memastikan pasokan BBM nasional masih mencukupi di tengah memanasnya situasi Timur Tengah.
“Masih cukup (untuk) 20 hari,” kata Bahlil usai rapat bersama Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia menambahkan, hingga saat ini subsidi energi belum terdampak langsung oleh konflik tersebut. “Sampai hari ini (subsidi BBM) enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa penutupan Selat Hormuz perlu menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat Indonesia masih mengandalkan impor BBM, termasuk menjelang periode Lebaran.
Di pasar global, tensi geopolitik langsung tercermin pada lonjakan harga minyak. Berdasarkan data Trading Economics, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent pada 3 Maret 2026 menyentuh US$ 84 per barel, tertinggi sejak Januari. Pada pembukaan perdagangan 4 Maret 2026, Brent berada di level US$ 82 per barel, sementara minyak jenis WTI diperdagangkan sekitar US$ 75 per barel.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel versus Iran membuat pasar energi global kembali siaga.
“Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi energi global,” demikian analisis tertulis Kiwoom Sekuritas, Rabu, 4 Maret 2026.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun pemerintah menilai stok 20 hari sebagai hal yang normal, dinamika global tetap menjadi faktor krusial yang dapat memengaruhi stabilitas energi nasional dalam waktu dekat. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 hours ago
2















































