Banjir-Longsor Telan 116 Korban Jiwa, Sumut Berstatus Tanggap Darurat Bencana

1 hour ago 1

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) M. Bobby Afif Nasution menetapkan Sumatera Utara (sumut) dalam status tanggap darurat bencana. Hal ini dilakukan melihat sebagian besar wilayah di Sumut mengalami banjir, longsor dan juga gempa bumi.

Status tanggap darurat bencana ini ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Sumut Nomor 188.44/836/KPTS/2025. Pada SK Gubernur Sumut tersebut tertulis penetapan status tanggap darurat bencana ini akan berlaku selama 14 hari terhitung dari tanggal 27 November hingga 10 desember 2025.

Bobby Nasution melalui SK ini menugaskan instansi/perangkat daerah terkait untuk segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani banjir, tanah longsor dan gempa bumi. Ini sebagai tindakan penanggulangan untuk mengurangi risiko bencana alam yang terjadi di Sumut.

“Melalui SK Gubernur ini diharapkan seluruh instansi/perangkat daerah mengambil langkah yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana alam yang terjadi, mengurangi dampaknya, menolong saudara-saudara kita yang terdampak dan juga mencegah bertambahnya korban jiwa,” kata Kadis Kominfo Pemprov Sumut, Erwin Hotmansyah Harahap di Kantornya, Jalan HM Said, Nomor 27, Medan, 28 November 2025.

Adapun perkembangan situasi kondisi bencana hingga Jumat (28/11/2025), akses darat menuju Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) hingga kini masih terputus akibat banjir bandang dan longsor.

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution terbang langsung menggunakan pesawat Hercules membawa logistik dan obat-obatan ke wilayah yang terisolir tersebut, Jumat (28/11/2025).

Pesawat Hercules yang ditumpangi Bobby menuju Bandara Pinangsori, Tapteng, yang sudah beberapa hari tidak beroperasi karena bencana. Bandara itu rencananya kembali diaktifkan, dengan prioritas penyediaan bahan bakar untuk genset dan kebutuhan operasional lain.

Setibanya di sana, rombongan juga akan mencoba menembus sejumlah titik yang hingga kini belum dapat dijangkau. “Masih terisolir (Tapteng dan Sibolga), makanya kita coba nanti sampai dan kita coba tembus sore ini,” ujar Bobby sebelum keberangkatan dari Lanud Soewondo Medan.

Bobby menyebut, pihaknya terus berupaya membuka akses darat. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan memperbaiki jalur yang rusak. “Masih ada longsoran. Jalur putus ini ada yang karena tertutup material, ada yang memang putus karena jalan amblas,” kata Bobby.

Adapun logistik yang dibawa meliputi paket sembako, beras, air mineral, makanan ringan, pakaian, handuk, minyak goreng, sabun, mi instan, ikan sarden kaleng, dan berbagai kebutuhan harian lainnya.

Selain bantuan logistik, Bobby juga membawa tim penyedia layanan komunikasi untuk memperbaiki jaringan di wilayah terdampak. Dalam tahap awal akan digunakan Starlink sebagai solusi komunikasi sementara, sebelum jaringan permanen diperbaiki secara menyeluruh.

Korban Meninggal 116 Korban Jiwa

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara dan sejumlah provinsi lain di Pulau Sumatera sejak 24–28 November 2025 menimbulkan dampak besar.

Berdasarkan laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Jumat sore (28/11), tercatat 174 orang meninggal dunia di tiga provinsi, dengan Sumatera Utara sebagai daerah terparah, mencatat 116 korban meninggal dan 42 orang masih dalam pencarian.

Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa angka tersebut kemungkinan bertambah karena masih ada beberapa wilayah yang belum dapat diakses dan pendataan masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa kondisi medan dan cuaca ekstrem menjadi hambatan dalam proses evakuasi dan pencarian.

“Yang pertama untuk Provinsi Sumatera Utara, per hari ini, per sore ini, kami mendata untuk seluruh Provinsi Sumatera Utara, korban meninggal dunia ada 116 jiwa, kemudian 42 jiwa masih dalam pencarian,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Jumat (29/11/2025).

BNPB merinci, korban meninggal di Sumatera Utara berasal dari tujuh kabupaten/kota, yaitu Tapanuli Tengah 47 jiwa, Tapanuli Selatan 32 jiwa, Sibolga 17 jiwa, Tapanuli Utara 11 jiwa, Humbang Hasundutan 6 jiwa, Pakpak Bharat 2 jiwa, dan Padangsidimpuan 1 jiwa. Ribuan warga turut terdampak, dengan lebih dari 12.000 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

“Tentu data ini akan berkembang terus karena kami informasikan juga masih ada titik-titik yang belum bisa ditembus, yang masih dalam proses penanganan, yang diindikasikan di tempat-tempat longsoran yang belum bisa tembus itu, mungkin juga ada korban jiwa manusia, sehingga setiap hari akan kami update untuk sementara datanya itu,” ucap dia.

Poldasu Kerahkan 1.754 personel

Sementara itu, Polda Sumut mencatat 367 kejadian bencana di 20 wilayah Polres sejak 24–27 November. Sebanyak 1.754 personel dikerahkan untuk membantu evakuasi, membuka akses jalan, mendistribusikan bantuan, hingga pencarian korban hilang.

Berdasarkan data Poldasu, total 62 korban jiwa tercatat dari laporan kepolisian, sedangkan 65 warga masih dinyatakan hilang. Data laporan hilang ini berbeda dengan data BNPB yang menyatakan ada 42 orang hilang.

Daerah yang paling parah terdampak menurut Polda Sumut adalah Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, serta Kota Medan.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan, menyebutkan bahwa wilayah Sibolga mencatat korban meninggal terbanyak dari sisi data kepolisian.”Sejak awal cuaca ekstrem melanda, Polda Sumut telah menurunkan total 1.754 personel dari seluruh fungsi. Kami bergerak serentak melakukan evakuasi, pencarian korban hilang, pembukaan akses jalan, dan distribusi bantuan. Penanganan dilakukan siang malam karena keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama,” ujarnya, Jumat (28/11).

Dari total kejadian yang dipetakan, lanjutnya, bencana didominasi oleh banjir sebanyak 214 kejadian, disusul tanah longsor 135 kejadian, pohon tumbang 16 kejadian, serta angin puting beliung 2 kejadian. “Wilayah terdampak terparah meliputi Kabupaten Tapanulitengah (Tapteng), Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuliutara (Taput), Kabupaten Tapanuliselatan (Tapsel), serta wilayah Kota Medan,” katanya.

Ferry menegaskan, bahwa Polda Sumut telah melakukan pemetaan rinci dan penguatan personel di wilayah dengan jumlah korban tertinggi. “Paling banyak korban tercatat di wilayah Polres Sibolga, Tapsel, dan Humbanghasundutan (Humbahas). Kapolda Sumut sudah memerintahkan seluruh jajaran untuk mempercepat pencarian korban hilang dan memprioritaskan penanganan wilayah terisolasi,” tegasnya.

Adapun, dalam laporan resmi, Polda Sumut mencatat 7 wilayah tambahan yang kini ikut terdampak, termasuk Medan, Deliserdang, Tanah Karo, Tebingtinggi, Batubara, Asahan, dan Binjai. Intensitas hujan tinggi menjadi penyebab utama bencana beruntun dalam beberapa hari terakhir.

“Korban meninggal terbanyak berada di Sibolga. Kurang lebih jumlahnya ada 33 orang dan puluhan warga belum ditemukan membuat proses pencarian menjadi prioritas utama seluruh tim SAR di lapangan,” ungkapnya.

Diakuinya, longsor parah yang terjadi di beberapa ruas utama membuat jalur bantuan fisik dan mobilisasi personel tertahan. “Karena kami juga berusaha untuk bisa tembus ke daerah Sibolga. Kemudian kami sudah memberikan bantuan, tetapi hanya masalahnya bantuan kami untuk saat ini tertahan di daerah longsor ke arah menuju daerah Sibolga,” jelasnya.

Meski akses terputus, lanjutnya, upaya penyelamatan tidak pernah berhenti. Tim SAR gabungan, Brimob, Polres Jajaran, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, serta warga lokal bekerja siang dan malam untuk menyisir sungai, lereng bukit, dan pemukiman yang tertimbun material longsor. “Perahu karet, alat berat, hingga jalur alternatif melalui perkampungan digunakan demi mencapai lokasi-lokasi yang bahkan tidak bisa dijangkau kendaraan,” tegasnya.

Ferry mengungkapkan, setiap proses evakuasi berlangsung penuh haru, terutama ketika keluarga korban menunggu di pinggir jalan yang berlumpur, berharap ada kabar baik dari tim penyelamat.

Menurutnya, situasi medan yang ekstrem tidak menyurutkan semangat pasukan SAR. Mereka bergerak di tengah cuaca yang masih sering berubah, arus air yang deras, serta ancaman longsor susulan. Komunikasi darurat didorong tetap berjalan menggunakan perangkat pendukung yang tersedia, sementara jalur logistik terus diupayakan melalui berbagai rute alternatif.

Selain itu, Biddokkes Polda Sumut memberikan pelayanan kesehatan, pemeriksaan medis, serta memastikan sanitasi lokasi pengungsian tetap terjaga. Ditlantas juga melakukan rekayasa lalu lintas pada titik banjir dan memberikan imbauan jalur alternatif hingga pengawalan ambulans dan logistik kemanusiaan. “Bhayangkari Daerah Sumut juga turut menyalurkan bantuan ke daerah paling terdampak, yaitu Tapteng, Sibolga, dan Taput berupa beras, air mineral, mie instan, roti, susu anak, selimut, sarung, handuk, pembalut, pampers dan Kasur lipat,” terangnya.

Sebagai langkah lanjutan, Polda Sumut berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk meminta bantuan heli BKO guna mendukung proses evakuasi dan distribusi logistik terutama ke wilayah terisolasi.

“Polda juga mengajukan permohonan tambahan sarana prasarana, serta bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk penyediaan lokasi pengungsian yang lebih representatif. Upaya pencarian korban yang masih hilang juga terus diperkuat melalui operasi SAR terpadu,” pungkasnya.

19 Kecamatan di Kota Medan Diterjang Banjir

Di Kota Medan, banjir hebat merendam 19 dari 21 kecamatan. Meski sebagian wilayah mulai surut, sejumlah daerah masih tergenang hingga setinggi dada orang dewasa, terutama di Medan Utara, Medan Polonia, dan Medan Helvetia, Medan Tembung, Medan Maimun, dan sejumlah wilayah lainnya di Kota Medan. Bahkan, genangan air pada sejumlah wilayah di Kota Medan terbilang masih sangat tinggi, bahkan mencapai dada orang dewasa.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang surut. Meskipun begitu, masih ada beberapa wilayah yang tergenang,” ucap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Yunita Sari kepada Sumut Pos, Jumat (28/11/2025).

Dikatakan Yunita, pihaknya sudah melakukan banyak evakuasi warga pada lokasi-lokasi yang terdampak parah. “Sampai hari ini, evakuasi dan pertolongan terus kita berikan kepada warga yang terdampak,” ujarnya. Posko-posko pengungsian juga telah disiapkan di sejumlah wilayah yang banjir. “Banyak juga warga yang memiliki mengungsi ke rumah sanak keluarga yang rumahnya aman dari banjir,” katanya.

Dijelaskan Yunita, untuk posko utama bencana banjir kali ini, Pemko Medan membukanya di Gedung TP PKK Kota Medan di Kecamatan Medan Petisah. Selain itu, Pemko Medan juga membuka posko di lokasi-lokasi banjir. “Posko bencana dan dapur-dapur umum terus dibuka sampai kondisi benar-benar terkendali,” jelasnya.

Diterangkan Yunita, pihaknya terus berupaya untuk memastikan setiap warga dalam kondisi aman dari banjir. Meskipun banjir tampak mulai surut pada beberapa lokasi, namun BPBD Kota Medan terus meminta masyarakat untuk tetap waspada. “Kita juga terus memantau ketinggian permukaan air sungai, khususnya yang kemarin sempat meluap. Ini harus terus dipantau,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, menginstruksikan seluruh camat memastikan proses evakuasi berjalan cepat dan aman serta memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Pemerintah Kota juga disebut bersiap menetapkan status darurat bila kondisi memburuk.

Hal ini disampaikan Rico Waas saat memimpin rapat koordinasi penanganan banjir di Rumah Dinas Wali Kota bersama unsur Forkopimda, para asisten, dan pimpinan perangkat daerah, Kamis (27/11). Para camat mengikuti rapat tersebut secara daring.

Dalam rapat itu, pihak Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan juga menyatakan siap bekerja sama menyiapkan makanan bagi para pengungsi. Warga yang dievakuasi sementara ditempatkan di masjid, kantor lurah, maupun kantor kecamatan.

Rico Waas menyampaikan, Pemko Medan berada dalam masa kesiagaan menghadapi cuaca ekstrem, menyusul hujan deras yang terus berlangsung. Ia menyebutkan, beberapa titik banjir yang ditinjau pada pagi hari menunjukkan kondisi cukup berat, termasuk jalan-jalan yang tidak dapat dilalui dan kawasan yang sudah meluap sehingga warga mulai mengevakuasi diri.

Rico Waas menegaskan pentingnya sinergi antara camat dan BPBD dalam proses evakuasi maupun pemenuhan kebutuhan dasar warga di pengungsian, terutama bagi anak-anak dan lansia. Ia juga menyampaikan, Pemko Medan akan menetapkan status darurat apabila situasi banjir terus memburuk. (san/dwi/map/ila)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|