Penampilan 21 Dalang dalam rangka Hari Wayang Nasional di omah Londo, Gondang, Sragen, Jawa Tengah pada Sabtu (22-23/11/2025) Huri Yanto
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2025 puluhan dalang wayang kulit dihadirkan untuk menghibur warga masyarakat nemampilkan pagelaran wayang kulit di omah Londo Gondang, Sragen, Jawa Tengah selama 2 hari nonstop sejak Sabtu (22-23/11/2025).
Tidak hanya itu, pagelaran wayang kulit dengan 21 dalang dan seniman yang tergabung dalam Paguyuban Padmorogo juga dalam momen memperingati Hari Pahlawan Nasional.
Pada JOGLOSEMARNEWS.COM Agung Budi Santoso ketua paguyuban Padmorogo mengatakan bahwa konsep acara tahun ini melestarikan budaya dan nguri nguri merangkul seniman.
“Iya kami bersama Paguyuban Padmorogo disini konsepnya melestarikan budaya, nguri-nguri, ngurut dan ngrangkul seniman untuk berkarya. Intinya mengembangkan seni yang ada di Gondang Sragen, lakon yang diambil lakon sumeni,” kata Agung.
Pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional 7 November itu memang rutin diselenggarakan di Kabupaten Sragen. Namun untuk di Kecamatan Gondang ini baru pertama kali.
“Alhamdulillah di Gondang ini baru perdana. Semoga semakin baik, nguri-uri budaya khususnya wayang kulit. Ini lakon Sumeni, kebetulan bersamaan dengan Hari Pahlawan, kita ingin tokoh ini (Sumeni pejuang perempuan yang lahir di Sragen) menjadi pahlawan wanita,” jelasnya.
Agung mengatakan, regenerasi dalang di Kabupaten Sragen cukup baik. Khususnya di Gondang bahkan banyak dalang bocah, yang membutuhkan support dan panggung untuk pertunjukan.
“Regenerasi di Gondang, dalang bocah dan remaja itu banyak. Kita pingin regenerasi pengurus di bidang seni pedalangan intinya bisa lestari di kabupaten Sragen,” kata dia.
Upaya pelestarian budaya dan seni wayang kulit diakui Agung menuai tantangan serius di era digital. Tidak hanya masivnya penggunaan gawai pada anak-anak, namun dari segi bahasa.
“Anak milenial ini tentunya banyak media gadget dan hiburan yang lain. Wayang di sini Bahasa Jawa dan kromo inggil, sedangkan di daerah kita anak kecil sudah berbahasa Indonesia sehingga kesulitan untuk mengerti wayang,” katanya membeberkan.
Pada kesempatan kali ini juga dihadiri langsung mantan bupati Sragen Untung Wiyono, ia mengakui dirinya sangat menyukai wayang. Mantan bupati dua periode itu, mengaku dirinya dibesarkan dan dibranding dari wayang. Filosofi wayang itu menurutnya gambar perjalanan hidup manusia.
“Bahkan lakon wayang itu sing ono becik lan olo. Nek kepingin dadi satrio ya dadio Pandowo, nek pingin dadi wong srei dengki ya dadio Kurawa. (Lakon wayang itu ya bagus dan jelak. Kalau mau jadi kesatria ya menirulah watak Pandawa, kalau mau jadi orang jelek tirulah Kurawa). Maka tinggal pilih saja,” ujarnya.
Huri Yanto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 days ago
15

















































