Bukan Sekadar Kegiatan Tambahan, SMPN 2 Giritontro Bongkar Strategi Kokurikuler untuk Bentuk 8 Karakter Lulusan

5 hours ago 3
IHTIHT di SMPN 2 Giritontro Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Program kokurikuler di sekolah tidak lagi dipandang sebatas kegiatan pelengkap pembelajaran. SMP Negeri 2 Giritontro, Kabupaten Wonogiri, mulai mematangkan strategi agar kegiatan tersebut benar-benar menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah karakter, keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Upaya itu dilakukan melalui In House Training (IHT) Pemantapan Program Kokurikuler yang digelar di Ruang Media SMPN 2 Giritontro, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan diikuti puluhan guru dengan menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Joko Purwanto, sebagai narasumber.

Kepala SMPN 2 Giritontro, Retno Wulandari, mengatakan IHT tersebut menjadi momentum untuk menyamakan persepsi para guru sekaligus memperkuat pemahaman mengenai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi program kokurikuler.

“Melalui IHT ini diharapkan seluruh guru memiliki pemahaman yang sama mengenai program kokurikuler, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Dengan demikian, program yang disusun benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” ungkap Retno.

Menurut Retno, kokurikuler mempunyai posisi penting dalam mendukung pembelajaran intrakurikuler. Pengalaman belajar siswa diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi akademik, tetapi berkembang pada pembentukan karakter serta kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, guru didorong menyusun kegiatan yang lebih terarah, kontekstual dan kolaboratif. Program juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik sehingga kegiatan yang dijalankan tidak sekadar memenuhi agenda sekolah.

Dalam pemaparannya, Joko Purwanto memberikan penguatan mengenai hubungan program kokurikuler dengan 8 dimensi profil lulusan. Delapan dimensi tersebut mencakup:

✓ Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
✓ Kewargaan
✓ Penalaran kritis
✓ Kreativitas
✓ Kolaborasi
✓ Kemandirian
✓ Kesehatan
✓ Komunikasi

Joko menjelaskan, kokurikuler perlu dirancang sebagai bagian dari proses pendidikan yang sistematis. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi siswa untuk membawa pengetahuan dari kelas ke berbagai persoalan dan situasi nyata.

Di dalamnya, siswa dapat belajar bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, menghasilkan gagasan, bertanggung jawab hingga mengembangkan kemandirian.

“Pemantapan kokurikuler harus diarahkan agar kegiatan yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan dampak nyata terhadap perkembangan peserta didik. Delapan dimensi profil lulusan harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan,” jelas Joko.

Ia menekankan bahwa tujuan kokurikuler bukan sekadar menambah aktivitas siswa di luar pembelajaran utama. Program tersebut harus mampu memperkuat, memperdalam dan memperkaya pengalaman belajar melalui kegiatan yang relevan dengan pembelajaran.

Dengan konsep tersebut, kokurikuler dapat menjadi penghubung antara apa yang dipelajari siswa di dalam kelas dengan persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Guru pun dituntut mampu merancang kegiatan yang memberikan ruang lebih besar bagi peserta didik untuk aktif. Kegiatan yang kontekstual dan kolaboratif dinilai dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus membangun karakter.

IHT di SMPN 2 Giritontro juga diisi dengan diskusi mengenai implementasi program kokurikuler di satuan pendidikan. Para guru berkesempatan menyampaikan pertanyaan dan tanggapan untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan narasumber.

Melalui kegiatan tersebut, SMPN 2 Giritontro menargetkan para guru semakin siap menyusun program kokurikuler yang terarah, efektif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Pada akhirnya, pembelajaran yang ingin dibangun tidak hanya mengejar capaian akademik. Sekolah juga berupaya membentuk lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi, mandiri, sehat, memiliki karakter serta nilai keimanan yang kuat.

Dengan pendekatan itu, kokurikuler bukan lagi sekadar aktivitas tambahan di sekolah, melainkan bagian penting dalam menyiapkan siswa menghadapi kehidupan setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|