Dari kiri ke kanan, Kepala KB Sinar Kasih, Ernawati Ambarningrum, Ketua Yayasan PPKSK, Pdt. Wahyu Purwaningtyas dan Founder SeKata, Didik Kartika dalam sebuah perbincangan | SuhamdaniSOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dongeng, sejauh ini masih menjadi kebutuhan mendasar yang diperlukan oleh orangtua. Dan gadget, sekalipun perkembangannya cukup massif, tak bisa menggantikan posisi dongeng dalam tumbuh kembang anak.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Yayasan Perkumpulan PAUD Sinar Kasih (PPSK) GKJ Nusukan, Solo, Pdt. Wahyu Purwaningtyas, M.Si dalam perbincangan dengan Yayasan SeKata di kompleks KB Sinar Kasih, Nusukan, Rabu (25/2/2026).
Perbincangan yang dipandu oleh host Didik Kartika, founder SeKata itu dihadiri pula oleh Kepala KB Sinar Kasih, Ernawati Ambarningrum, S.H sebagai narasumber.
Lebih lanjut, Wahyu Purwaningtyas menjelaskan, dongeng tidak selamanya identik dengan cerita-cerita masa silam, sekalipun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap aktual era sekarang.
“Tapi yang tidak boleh dilupakan, kita hidup di era digital, di mana nilai-nilai kebajikan tidak bisa didepat hanya dari cerita masa silam. Perlu dihadirkan cerita-cerita yang kontekstual,” papar Tyas.
Karena itulah, kehadiran antologi Dongeng-dongeng Kebajikan dari Negeri Sinar Kasih menemukan relevansinya. Apalagi, dongeng-dongeng tersebut ditulis oleh orangtua siswa sendiri dan guru-guru, sehingga bisa mengarahkan pesan-pesan moral apa yang akan disisipkan dalam cerita.
Tyas menjelaskan, kelahiran buku antologi dongeng tersebut dia yakin, bisa menginspirasi orangtua siswa yang lain, dan dari sekolah lain untuk melakukan hal serupa.
Ia yakin, ada kerinduan dari para orang tua untuk bercerita pada anak-anaknya. Sayang, kondisi saat ini, waktu mereka lebih banyak diambil alih oleh kemajuan teknologi, seperti gadget.
Karena itulah menurutnya, kehadiran buku antologi dongeng tersebut menjadi semacam oase di tengah kerinduan orangtua siswa untuk bercerita pada anak-anaknya.
“Sejauh ini, mereka mendongeng kepada anak-anak dalam bentuk cerita tutur, dan mereka kesulitan untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, karena adanya rambu-rambu, perlu tata bahasa yang baik. Karena itu kami sangat bersyukur, mereka
Sementara itu, Ernawati Ambarningrum mengaku program penulisan dongeng untuk orangtua siswa dan guru-guru di Sinar Kasih baru pertama kali dilakukan.
Melihat pentingya dongeng di era digital ini, pihaknya tanpa pikir panjang menyetujui ketika ditawarkan workshop penulisan dongeng untuk orangtua siswa.
“Kebetulan program ini selaras dengan kegiatan yang sedang kami lakukan di Oktober-November kemarin. Dan karena ini baru pertama kali, langsung kita sambut baik,” paparnya.
Dan hasilnya menurut Ernawati, sungguh di luar ekspektasi karena berhasil menelurkan sebuah antologi dongeng yang cukup menarik. Yang lebih membuat terkejut dan membanggakan, Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, S.E., S.S., M.B.A ikut menyumbangkan sebuah dongeng dan melakukan launching secara langsung di sekolah.
“Ini benar-benar jauh di luar ekspektas kami, jauh dari pemikiran kami, kami sungguh bersyukur dan berterima kasih,” ujarnya. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 hours ago
1
















































