MEDAN, sumutpos.co– Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan Dodi Robert Simangunsong SH mengajak masyarakat untuk memperkuat benteng pertahanan keluarga melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila. Langkah ini dinilai krusial guna melindungi generasi muda dari ancaman pergaulan bebas, dampak negatif media sosial, hingga paham intoleransi, radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme.
Pesan tersebut disampaikan Dodi dalam kegiatan Penyelenggaraan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bertajuk “Mencegah Penyebaran Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme di Indonesia” di Jalan Pintu Air Gang Selamat, Kelurahan Sitirejo, Kecamatan Medan Kota, pada Sabtu (8/8/2026)
Dalam pemaparannya, Dodi Simangunsong menggarisbawahi pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak dini. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini menjadi tantangan terbesar bagi para orang tua karena dapat merusak moral anak jika tidak diawasi secara bijak.
“Pengalaman saya pribadi, pengawasan sejak SD hingga SMP itu mutlak dilakukan. Di usia kita sekarang, pencegahan jauh lebih mudah daripada memperbaiki moral yang telanjur rusak. Istilahnya, jangan sampai terlambat,” ujarnya.
Dodi juga menyoroti pergeseran etika pada Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alfa yang cenderung menginginkan hasil instan tanpa kerja keras. Tanpa pengawasan ketat, remaja sangat rentan terjerumus ke dalam lingkaran negatif seperti geng motor dan narkoba. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter dan penanaman nilai Pancasila di lingkungan keluarga menjadi kunci utama pencegahan.
Senada dengan hal tersebut, pembicara lainnya Pendeta Rijen Sihombing menjelaskan, ancaman radikalisme dan ekstrimisme di tengah masyarakat kerap dipicu oleh beberapa faktor mendasar. Di antaranya adalah kurangnya wawasan pendidikan yang mengajarkan keberagaman, ketidakadilan ekonomi, lemahnya penegakan hukum, serta sikap intoleransi antar sesama.
“Sikap intoleransi yang dibiarkan, mulai dari hal kecil di lingkungan tetangga hingga ujaran kebencian berbasis suku, ras, dan agama (SARA), dinilai dapat tumbuh menjadi paham radikal yang ingin mengubah sesuatu secara drastis melalui pemaksaan kehendak atau ekstrimisme,” ujarnya.
Sebagai solusi konkret, Rijen mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali esensi materi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dalam tindakan nyata sehari-hari, bukan sekadar menghafalnya. “Pengamalan Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) harus diwujudkan dengan menghormati perbedaan keyakinan dan menghentikan aksi saling menjatuhkan antar-denominasi atau umat beragama,” bebernya.
“Sementara, Sila Kedua dan Ketiga menjadi landasan untuk saling menolong tanpa pandang bulu serta menyelesaikan perselisihan lewat musyawarah, bukan dengan aksi main hakim sendiri,” imbuhnya.
Waspada Hoaks dan Fitur Keamanan Digital
Selain penguatan ideologi, Rijen Sihombing berharap para orang tua juga harus melek teknologi guna membatasi akses digital anak-anak mereka. Orangtua disarankan memanfaatkan fitur penguncian akun dan deteksi aktivitas gawai guna mencegah anak mengakses konten pornografi maupun situs negatif lainnya secara tidak sengaja.
“Kita harus bisa menyaring informasi dengan bijak dan tidak terjebak menyebarkan berita bohong (hoaks) di media sosial yang dapat dijerat hukum pidana,” tandasnya.
Di akhiri paparannya, Rijen menyerukan bahwa musuh terbesar bangsa saat ini bukan hanya bom atau kekerasan fisik, melainkan kebencian yang dibiarkan tumbuh diam-diam di dalam hati. “Oleh karena itu, penerapan Pancasila sebagai perilaku sehari-hari di dalam rumah tangga harus menjadi gerakan utama demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya. (adz)
MEDAN, sumutpos.co– Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan Dodi Robert Simangunsong SH mengajak masyarakat untuk memperkuat benteng pertahanan keluarga melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila. Langkah ini dinilai krusial guna melindungi generasi muda dari ancaman pergaulan bebas, dampak negatif media sosial, hingga paham intoleransi, radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme.
Pesan tersebut disampaikan Dodi dalam kegiatan Penyelenggaraan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bertajuk “Mencegah Penyebaran Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme di Indonesia” di Jalan Pintu Air Gang Selamat, Kelurahan Sitirejo, Kecamatan Medan Kota, pada Sabtu (8/8/2026)
Dalam pemaparannya, Dodi Simangunsong menggarisbawahi pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak dini. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini menjadi tantangan terbesar bagi para orang tua karena dapat merusak moral anak jika tidak diawasi secara bijak.
“Pengalaman saya pribadi, pengawasan sejak SD hingga SMP itu mutlak dilakukan. Di usia kita sekarang, pencegahan jauh lebih mudah daripada memperbaiki moral yang telanjur rusak. Istilahnya, jangan sampai terlambat,” ujarnya.
Dodi juga menyoroti pergeseran etika pada Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alfa yang cenderung menginginkan hasil instan tanpa kerja keras. Tanpa pengawasan ketat, remaja sangat rentan terjerumus ke dalam lingkaran negatif seperti geng motor dan narkoba. Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter dan penanaman nilai Pancasila di lingkungan keluarga menjadi kunci utama pencegahan.
Senada dengan hal tersebut, pembicara lainnya Pendeta Rijen Sihombing menjelaskan, ancaman radikalisme dan ekstrimisme di tengah masyarakat kerap dipicu oleh beberapa faktor mendasar. Di antaranya adalah kurangnya wawasan pendidikan yang mengajarkan keberagaman, ketidakadilan ekonomi, lemahnya penegakan hukum, serta sikap intoleransi antar sesama.
“Sikap intoleransi yang dibiarkan, mulai dari hal kecil di lingkungan tetangga hingga ujaran kebencian berbasis suku, ras, dan agama (SARA), dinilai dapat tumbuh menjadi paham radikal yang ingin mengubah sesuatu secara drastis melalui pemaksaan kehendak atau ekstrimisme,” ujarnya.
Sebagai solusi konkret, Rijen mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali esensi materi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dalam tindakan nyata sehari-hari, bukan sekadar menghafalnya. “Pengamalan Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) harus diwujudkan dengan menghormati perbedaan keyakinan dan menghentikan aksi saling menjatuhkan antar-denominasi atau umat beragama,” bebernya.
“Sementara, Sila Kedua dan Ketiga menjadi landasan untuk saling menolong tanpa pandang bulu serta menyelesaikan perselisihan lewat musyawarah, bukan dengan aksi main hakim sendiri,” imbuhnya.
Waspada Hoaks dan Fitur Keamanan Digital
Selain penguatan ideologi, Rijen Sihombing berharap para orang tua juga harus melek teknologi guna membatasi akses digital anak-anak mereka. Orangtua disarankan memanfaatkan fitur penguncian akun dan deteksi aktivitas gawai guna mencegah anak mengakses konten pornografi maupun situs negatif lainnya secara tidak sengaja.
“Kita harus bisa menyaring informasi dengan bijak dan tidak terjebak menyebarkan berita bohong (hoaks) di media sosial yang dapat dijerat hukum pidana,” tandasnya.
Di akhiri paparannya, Rijen menyerukan bahwa musuh terbesar bangsa saat ini bukan hanya bom atau kekerasan fisik, melainkan kebencian yang dibiarkan tumbuh diam-diam di dalam hati. “Oleh karena itu, penerapan Pancasila sebagai perilaku sehari-hari di dalam rumah tangga harus menjadi gerakan utama demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya. (adz)

14 hours ago
9

















































