Ketua IAGI Pengda Papua Soal Dampak Anomali El Nino di Kota Jayapura
Fenomena anomali iklim El Niño yang melanda berbagai kawasan Indonesia memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas lingkungan, termasuk di Kota Jayapura. Meski fenomena ini umumnya identik dengan fenomena penurunan curah hujan dan kemarau, kondisi geologi dan geomorfologi, namun wilayah Kota Jayapura justru melahirkan ancaman bencana yang jauh lebih kompleks, mulai dari krisis air, kebakaran lahan, hingga potensi banjir dan tanah longsor.
Laporan: Jimianus Karlodi-Jayapura
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Papua, Marcelino Yonas, S.T., M.Eng., menyampaikan bahwa fenomena El Nino merupakan bentuk anomali interaksi laut atmosfer di Pasifik ekuatorial yang mengubah pola sirkulasi atmosfer serta distribusi hujan secara regional maupun global. Penurunan curah hujan serta bertambahnya periode hari tanpa hujan menjadi dampak utama akibat bergesernya pusat konveksi ke Pasifik tengah dan timur.
Namun, untuk wilayah Kota Jayapura, dampak yang timbul tidak bisa hanya disederhanakan dengan rumus “El Nino sama dengan kekeringan”. Karakter fisik kota yang terbentuk dari perbukitan curam, lembah sempit, dataran aluvial, hingga kawasan pesisir dan drainase yang terbatas membuat wilayah ini rentan menghadapi dua kondisi ekstrem secara bergantian.
“Untuk Kota Jayapura, persoalannya lebih kompleks daripada sekadar El Niño sama dengan kekeringan,” kata Ketua IAGI Pengda Papua, Marcelino Yonas.
Menurutnya, secara geologi, kota Jayapura memiliki kombinasi perbukitan curam, lembah sempit, dataran aluvial dan rawa pesisir, DAS pendek, kawasan terbangun yang padat, serta sistem drainase yang pada beberapa lokasi tidak mampu mengalirkan limpasan secara efektif.
Karena itu, kata Marcelino, pada tahun El Nino sekalipun, Jayapura tetap dapat menghadapi dua ekstrem secara bergantian yakni defisit air selama periode kering, banjir hingga longsor ketika hujan ekstrem lokal muncul.
Ketua IAGI Pengda Papua Soal Dampak Anomali El Nino di Kota Jayapura
Fenomena anomali iklim El Niño yang melanda berbagai kawasan Indonesia memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas lingkungan, termasuk di Kota Jayapura. Meski fenomena ini umumnya identik dengan fenomena penurunan curah hujan dan kemarau, kondisi geologi dan geomorfologi, namun wilayah Kota Jayapura justru melahirkan ancaman bencana yang jauh lebih kompleks, mulai dari krisis air, kebakaran lahan, hingga potensi banjir dan tanah longsor.
Laporan: Jimianus Karlodi-Jayapura
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Papua, Marcelino Yonas, S.T., M.Eng., menyampaikan bahwa fenomena El Nino merupakan bentuk anomali interaksi laut atmosfer di Pasifik ekuatorial yang mengubah pola sirkulasi atmosfer serta distribusi hujan secara regional maupun global. Penurunan curah hujan serta bertambahnya periode hari tanpa hujan menjadi dampak utama akibat bergesernya pusat konveksi ke Pasifik tengah dan timur.
Namun, untuk wilayah Kota Jayapura, dampak yang timbul tidak bisa hanya disederhanakan dengan rumus “El Nino sama dengan kekeringan”. Karakter fisik kota yang terbentuk dari perbukitan curam, lembah sempit, dataran aluvial, hingga kawasan pesisir dan drainase yang terbatas membuat wilayah ini rentan menghadapi dua kondisi ekstrem secara bergantian.
“Untuk Kota Jayapura, persoalannya lebih kompleks daripada sekadar El Niño sama dengan kekeringan,” kata Ketua IAGI Pengda Papua, Marcelino Yonas.
Menurutnya, secara geologi, kota Jayapura memiliki kombinasi perbukitan curam, lembah sempit, dataran aluvial dan rawa pesisir, DAS pendek, kawasan terbangun yang padat, serta sistem drainase yang pada beberapa lokasi tidak mampu mengalirkan limpasan secara efektif.
Karena itu, kata Marcelino, pada tahun El Nino sekalipun, Jayapura tetap dapat menghadapi dua ekstrem secara bergantian yakni defisit air selama periode kering, banjir hingga longsor ketika hujan ekstrem lokal muncul.


















































