NTT Digoyang 4.258 Gempa Susulan, Korban Jiwa Jadi 83 Orang, 110 Ribu Mengungsi

17 hours ago 13

JAKARTA– Dampak guncangan hebat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Sabtu (15/8) lalu terus meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penambahan jumlah korban jiwa maupun angka kerusakan infrastruktur yang cukup signifikan. Di saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa ribuan aktivitas gempa susulan masih terus membayangi kawasan tersebut dan diproyeksikan bertahan hingga sebulan ke depan.

Dalam konferensi pers resmi yang digelar di Jakarta, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan bahwa hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB, angka kematian akibat bencana ini telah melonjak menjadi 83 jiwa. Jumlah ini bertambah 8 orang jika dibandingkan dengan pembaruan data sehari sebelumnya yang berada di angka 75 jiwa.

“Pada hari ini pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026, jumlah yang meninggal menjadi 83 jiwa. Yang semula, yang kemarin kami sampaikan 75 jiwa bertambah 8 jiwa dengan rincian bahwa yang meninggal adalah akibat dampak tidak langsung dari gempa,” ujar Berton.

Penambahan korban meninggal dunia tersebut tersebar di beberapa wilayah kabupaten. Antara lain dua jiwa di Kabupaten Manggarai, dua jiwa di Kabupaten Manggarai Timur, dua jiwa di Kabupaten Nagekeo, dan satu jiwa di Kabupaten Ngada.

Selain korban meninggal dunia, lonjakan data juga terjadi pada sektor korban luka-luka dan pengungsi. BNPB mencatat jumlah korban luka-luka kini menembus angka 986 jiwa, atau bertambah 79 orang dari laporan terdahulu. Sementara itu, gelombang warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya bertambah drastis sebanyak 18.050 jiwa. Total pengungsi di seluruh titik lokasi penampungan saat ini membengkak hingga mencapai 110.785 jiwa dari yang sebelumnya tercatat 92.735 jiwa.

Kerusakan fisik pada hunian warga pun menunjukkan skala bencana yang terbilang masif. Data BNPB membeberkan total rumah rusak telah menyentuh angka 44.946 unit. Angka tersebut terbagi dalam tiga kategori tingkat kerusakan, yakni 17.176 unit rusak berat, 9.758 unit rusak sedang, dan 18.013 unit rusak ringan. Kerusakan terparah dan konsentrasi unit terbanyak dilaporkan berada di tiga wilayah utama, yaitu Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai.

Kondisi psikologis pengungsi dan warga terdampak kini makin diuji oleh tingginya frekuensi gempa susulan (aftershocks). BMKG melaporkan bahwa sejak gempa utama M 7,7 mengguncang pada 15 Agustus lalu hingga Jumat (21/8) sore, telah terjadi sebanyak 4.258 kali aktivitas gempa susulan. Dari ribuan rentetan getaran tersebut, sebanyak 118 kejadian gempa dirasakan langsung guncangannya oleh warga, dan 31 kejadian di antaranya memiliki kekuatan di atas M 5,0. Gemini gempa susulan terbesar tercatat berada pada magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa fase awal rangkaian gempa susulan ini memperlihatkan pola temporal yang amat kompleks dan dinamis. Rangkaian gelombang susulan diperkirakan masih akan terus terjadi dalam rentang waktu 3 hingga 4 minggu ke depan.

“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan. Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam,” beber Wijayanto dalam keterangannya.

Beberapa guncangan susulan dengan skala intensitas cukup kuat, yakni IV–VI MMI, sempat memicu kepanikan warga dalam beberapa hari terakhir. Gempa signifikan tersebut di antaranya terjadi pada Rabu (19/8) pukul 23.17 WIB dengan kekuatan M 5,6, serta Kamis (20/8) pukul 05.45 WIB berdaya M 5,8. Tak berhenti di situ, guncangan susulan kembali menghentak pada Kamis (20/8) pukul 09.47 WIB dengan magnitudo 5,8. Guncangan beruntun inilah yang disinyalir memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan, meretakkan jembatan, hingga memicu bencana tanah longsor di beberapa titik rawan.

Hasil analisis relokasi titik episenter yang dilakukan BMKG memperlihatkan bahwa penyebaran gempa susulan tidak berlangsung secara homogen, melainkan membentuk beberapa klaster patahan. Klaster utama teridentifikasi berada di sekitar zona sumber gempa utama di utara Nagekeo, membentang mengikuti struktur Flores Back-arc Thrust. Sementara itu, klaster susulan lainnya terbentuk di sisi barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai.

Wijayanto menambahkan, tren seismisitas harian menunjukkan adanya pergeseran pola fokus aktivitas dari waktu ke waktu. Jika pada hari pertama hingga kelima pasca-gempa utama gempa susulan terdistribusi merata dari timur ke barat, kini terjadi perubahan karakteristik. Pada hari kelima dan keenam, pusat kekuatan gempa mengumpul dan terkonsentrasi di klaster bagian barat, sementara aktivitas seismik di klaster bagian timur perlahan menunjukkan penurunan intensitas.

Melihat dinamika geologis yang masih labil, BMKG mengimbau masyarakat di Pulau Flores dan sekitarnya untuk tidak terpancing oleh isu bohong atau disinformasi yang beredar. Warga diminta mewaspadai bangunan yang sudah retak atau berstruktur rapuh serta menghindari lereng perbukitan yang rawan longsor saat gempa susulan terjadi.

“Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG mempublikasikan pembaruan data aktivitas gempa bumi susulan secara rutin dua kali sehari, yaitu setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB,” pungkas Wijayanto. (jpc/adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|