Penanganan Medis Menuai Sorotan, Dinyatakan Sembuh, Korban MBG Kejang-kejang Lagi

17 hours ago 14

BERASTAGI– Penanganan medis terhadap ratusan pelajar korban keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, menuai sorotan tajam. Pasalnya, sejumlah siswa yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, justru mendadak mengalami kambuh (relapse) dengan gejala yang kian mengkhawatirkan. Keluhan fisik seperti kejang-kejang, mual, pusing hebat, sesak napas, hingga kekakuan saraf kembali menyerang para siswa.

Kondisi tersebut tak pelak memicu kepanikan luar biasa di kalangan orang tua korban. Kepanikan ini kian memuncak lantaran hingga kini belum ada rilis resmi mengenai jenis racun atau zat berbahaya yang mengontaminasi menu MBG yang disantap para pelajar pada Kamis (13/8) lalu.

Salah satu cerita pilu datang dari Hermanto Ginting, warga Desa Kutambaru, Kecamatan Munte. Putrinya, Inka Kristy br Ginting, merupakan salah satu korban keracunan massal yang sempat dirujuk dari RSUD Kabanjahe ke Rumah Sakit Umum (RSU) Bina Kasih Medan. Setelah lima hari menjalani perawatan intensif, Inka dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang pada Selasa (18/8).

Anehnya, sebelum melangkah keluar dari rumah sakit, Inka diminta oleh pihak pengelola untuk membuat video testimoni mengenai kesembuhannya. Video yang lantas beredar luas di media sosial tersebut berisi apresiasi dan pujian terhadap kualitas pelayanan RSU Bina Kasih Medan. Namun, kebahagiaan keluarga itu tak bertahan lama. Hanya berselang dua hari, tepatnya pada Kamis (20/8), kondisi fisik Inka kembali merosot drastis hingga mengalami kejang-kejang.

“Kata dokter anak saya sudah sembuh, makanya kami diizinkan pulang. Bahkan sempat diminta bikin video testimoni. Tapi semalam anak saya kejang-kejang lagi hingga terpaksa kami larikan kembali ke RSU Kabanjahe. Perutnya panas, tenggorokan seperti terbakar, dan sakit kepala hebat. Kalau sudah dinyatakan sembuh, kenapa bisa kambuh lagi?” ujar Hermanto dengan nada cemas dan kecewa, Jumat (21/8).

Nasib serupa dialami Lia Malemta br Sitepu, siswi SMK Swasta Bersama Berastagi. Setelah sempat dinyatakan pulih, Lia harus kembali dilarikan ke RS Amanda Berastagi pada Selasa (18/8) malam akibat keluhan kesehatan yang berulang.

Fenomena trauma fisik dan gangguan saraf juga membayangi korban lainnya. Krismas Dayanti Sihite (18), siswi SMAN 1 Berastagi yang dirujuk ke RSU Haji Medan, sempat menjadi perhatian publik lantaran mengalami gejala kekakuan fisik dan gangguan saraf otak yang teramat parah.

“Lehernya seperti terjepit. Untuk minum air saja lehernya harus ditarik manual terlebih dahulu agar air bisa masuk. Anak saya mengeluhkan rasa panas yang membakar dari ulu hati hingga perut. Dia juga mengalami histeris pada malam hari, muntah, dan kejang,” tutur orang tua Krismas, Sihite.

Beruntung, setelah sepekan menjalani perawatan intensif di unit Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSU Haji Medan, kondisi Krismas dilaporkan menunjukkan perbaikan signifikan dan diizinkan pulang pada Jumat (21/8) siang. “Insyaallah siang ini pasien atas nama Krismas sudah diperbolehkan pulang,” konfirmasi Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan, drg Fitrady Ulianda Siregar.

Secara keseluruhan, petaka keracunan massal ini menimpa sedikitnya 391 pelajar yang tersebar dari SMKN 1 Berastagi, SMK Swasta Bersama Berastagi, SMA Swasta Bersama Berastagi, hingga SMP Swasta Bersama Berastagi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara per Jumat (21/8), tersisa 28 siswa yang masih menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit.

“Total masih ada 28 siswa yang menjalani perawatan, termasuk tiga siswi di RSU Haji Medan. Kondisi seluruh pasien secara umum berangsur membaik dan terus kami pantau perkembangannya secara ketat,” jelas Sekretaris Dinkes Sumut, Hamid Rijal, mewakili Kadinkes Faisal Hasrimy.

Sebelumnya, investigasi internal Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan dugaan awal pemicu petaka ini berasal dari kelalaian fatal pada pengelolaan rantai dingin (cold chain) bahan baku makanan. Kepala BGN, Sudaryono, yang turun langsung menjenguk para korban dan menyampaikan permohonan maaf, membeberkan adanya ratusan ekor bahan baku ikan yang tidak disimpan di dalam lemari pendingin (freezer).

“Ada sekitar 200 hingga 300 ekor ikan yang ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu lebih dari 12 jam sebelum diolah. Ini kelalaian pada proses pengolahan,” aku Sudaryono.

Secara medis, pembiaran ikan kelompok scombroid (seperti tongkol, tuna, atau cakalang) pada suhu ruangan dalam durasi lama memicu pembentukan senyawa histamin akibat aktivitas bakteri. Racun histamin ini bersifat tahan panas dan tidak akan hilang meski telah dimasak hingga matang, sehingga memicu reaksi alergi berat, pusing, mual, hingga gangguan sirkulasi darah pada manusia.

Meski BGN telah membeberkan indikasi kelalaian cold chain, para orang tua korban dan masyarakat luas mendesak agar hasil uji laboratorium independen segera diumumkan secara transparan. Pemerintah diminta bertanggung jawab penuh atas pemulihan fisik maupun psikologis para siswa serta menjamin evaluasi total pada sistem pengawasan program MBG agar tragedi serupa tak kembali terulang. (deo/bbs/adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|