Polemik Dapur MBG di Sragen Disamping Kandang Babi, Angga: Pemilik Dapur Justru Pendatang Baru Malah Ingin Mengusir Kami

1 day ago 8
Penampakan bangunan dapur MBG berdampingan dengan kandang Babi di jalan raya Sragen - Ngawi Jawa Timur tepatnya di Dukuh Kedung Banteng RT 41, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada Senin (5/1/2026) || Huri Yanto

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Viral polemik keberadaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Program Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sragen ramai dan jadi perbincangan masyarakat luas, pasalnya dapur MBG yang disebut-sebut milik pengusaha pupuk asal Kecamatan Ngrampal itu mendirikan bangunan dapur MBG berdampingan dengan kandang Babi di Dukuh Kedung Banteng RT 41, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Polemik dapur MBG bersebelahan dengan kandang Babi itu kini ramai dan jadi topik hangat di Sragen lantaran pemilik dapur MBG dituding kurang beretika karena bikin dapur program presiden Prabowo Subianto berdiri tepat di samping kandang babi milik warga yang sudah beroperasi selama setengah abad.

​Meskipun bangunan baru berdiri, pihak SPPG dikabarkan berniat menutup usaha peternakan tersebut. Padahal, peternakan milik Angga Wiyana Mahardika, (44) warga Kedungbanteng, RT 41, itu mengantongi izin lengkap dan telah mendapat dukungan tertulis dari sejumlah Kepala Keluarga (KK) di lingkungan sekitar.

​”Kalau usaha peternakan kandang babi ini sudah ada sebelum saya lahir. Ini warisan bapak saya, usianya sudah 50 tahunan, sudah ada izin dan warga selama ini tidak masalah,” kata Angga pada JOGLOSEMARNEWS.COM Senin (5/1/2026).

​Dia menyayangkan sikap pengelola SPPG yang terkesan eksklusif dan enggan berkomunikasi. Sejak awal pembangunan yang kabarnya semula izin untuk minimarket. Namun ternyata lahan tersebut menjadi dapur MBG, selain itu tidak ada proses kulon nuwun (permisi) kepada dirinya sebagai tetangga langsung maupun kepada warga RT setempat.

​”Tiba-tiba ada niat menutup usaha saya. Saya tahu itu dari Pak RT. Padahal kami sangat terbuka untuk komunikasi. Kalau mau apa-apa bicaralah, jangan tiba-tiba menjatuhkan usaha orang,” bebernya.

​Tak hanya soal etika, Angga juga membeberkan fakta mengejutkan di lapangan. Meski pihak SPPG disebut-sebut mempermasalahkan keberadaan kandangnya, justru limbah pembuangan dari bangunan dapur MBG tersebut dibuang ke lahan miliknya yang berada di bagian belakang.

​Sikap kukuh pemilik kandang babi ini didukung penuh oleh warga sekitar. Berdasarkan pertemuan warga, mayoritas menyatakan tidak keberatan dengan aktivitas kandang babi yang berisi kurang dari 100 ekor tersebut karena kebersihannya selalu terjaga.

Sementara Kepala Desa Banaran, Susilo, membenarkan adanya tensi di wilayahnya. Menurutnya, pemilik kandang bersikeras tidak akan pindah kecuali ada pembicaraan mengenai ganti rugi yang layak.

“Sampai sekarang bangunan dapur MBG sudah berdiri dan jadi. Tapi warga, terutama RT sekitar, tetap tidak keberatan kandang itu terus berlangsung,” ujarnya.

​Hingga berita ini ditulis, pihak penanggung jawab dapur MBG atau SPPG Banaran belum bisa dikonfirmasi. Saat disambangi ke lokasi, kondisi pintu dalam keadaan terkunci rapat dan tidak ada satu pun penanggung jawab yang memberikan keterangan terkait polemik konflik sosial yang terjadi. Huri Yanto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|