MEDAN, SUMUTPOS.CO – Curah hujan tinggi yang melanda Sumatera Utara sejak beberapa hari terakhir menyebabkan banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Ribuan warga terpaksa mengungsi, fasilitas umum rusak, dan beberapa korban jiwa tercatat akibat bencana ini.
Di Kecamatan Padangtualang, Kabupaten Langkat, banjir setinggi dada orang dewasa memaksa masyarakat mengevakuasi diri sendiri karena bantuan pemerintah belum sampai.
Puluhan warga berjalan perlahan menuju Jalan Lintas Batangserangan dan Jalan Tol Binjai-Langsa untuk menghindari genangan air. Beberapa warga berhasil dievakuasi ke Rest Area KM 41. “Sudah puluhan tahun tinggal di sini, baru kali ini banjir setinggi ini. Tanggul jebol di dusun sebelah membuat air meluap,” kata seorang warga Desa Jatisari, Jumat (28/11).
Sedangkan BPBD Kabupaten Langkat mencatat, 12.130 jiwa terdampak banjir. Kepala Pelaksana BPBD Langkat, Muhammad Ansyari, menyebut tujuh kecamatan, 12 desa, dan empat kelurahan terdampak. Selain rumah warga, lahan pertanian dan perkebunan terendam. Jalan Lintas Sumatera juga tak bisa dilalui. Evakuasi dilakukan dengan perahu, distribusi sembako, serta pendirian posko pengungsian.
Dalam laporan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) Multi Sektor Kabupaten Langkat, jumlah pengungsi diprediksi akan terus bertambah. Mengingat, debit air semakin tinggi pada sejumlah kecamatan, Rabu (28/11/2025). “Sejak tanggal 25 November 2025, tingginya curah hujan di Kabupaten Langkat, sehingga mengakibatkan banjir setinggi 50-100 cm,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Langkat, Muhammad Ansyari dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (28/11/2025).
Dia menyebut, ada 7 kecamatan, 12 desa dan 4 kelurahan yang terdampak banjir. Buntut cuaca ekstrem ini, fasilitas umum seperti sekolah pun diliburkan sementara.
Juga lahan pertanian atau perkebunan, peternakan, juga itu terdampak banjir. Bahkan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan-Aceh tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. “Jembatan penghubung antara Desa Sei Tualang, Kecamatan Brandan Barat, terputus.
Ada sekitar 180 orang tak bisa keluar di Bukit Gajah Desa Securai Utara, Kecamatan Babalan. Tidak ada korban jiwa akibat banjir,” ujarnya.
Dari belasan ribuan jiwa masyarakat yang mengungsi, 435 orang di Kecamatan Brandan Barat, 7.105 orang di Kecamatan Babalan, dan 4.520 orang di Kecamatan Gebang.
BPBD Langkat mengalami sejumlah kendala selama evakuasi yaitu, hujan yang masih turun dengan intensitas tinggi, partisipasi masyarakat saat penanganan bencana yang belum maksimal, serta akses jalan menuju lokasi kejadian sangat sulit dilalui dan terputus.
Di Kota Binjai, luapan Sungai Mencirim, Bingai, dan Bangkatan menggenangi 25 kelurahan, mempengaruhi 24.961 jiwa. Satu korban meninggal, Dedi (54), terjebak banjir akibat menolak evakuasi. Banjir yang mengepung Kota Binjai karena meluapnya debit air pada Sungai Mencirim, Sungai Bingai dan Sungai Bangkatan. “Almarhum meninggal dunia diduga karena ada riwayat penyakit dan mungkin kedinginan,” ujar Febri (43) warga Kelurahan Setia.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Binjai, Rudi Iskandar mengetahui kabar tersebut. Menurutnya, korban mulanya menolak untuk dievakuasi. Kepada petugas, korban yang menolak evakuasi memilih naik ke atas rumahnya yang bertingkat.
Pantauan wartawan, banjir pada tiga aliran sungai yang mengalir di Kota Binjai berangsur surut. Rudi melanjutkan, bencana alam yang menimpa Kota Binjai akibat curah hujan yang cukup tinggi sejak 3 hari belakangan.
Wilayah yang paling terdampak di Kecamatan Binjai Kota dan Binjai Utara. Adapun Kecamatan Binjai Kota yang terdampak karena meluapnya air Sungai Bingai dan Mencirim.
Sementara Kecamatan Binjai Utara karena kondisi geografis. Ada 7 kelurahan di Binjai Kota yang terdampak banjir. Yakni, Setia, Satria, Kartini, Tangsi, Berngam, Pekan Binjai dan Binjai. “Untuk Kecamatan Binjai Utara, ada 7 kelurahan yang terdampak banjir. Masing-masing, Kebun Lada, Pahlawan, Cengkehturi, Nangka, Damai, Jatiutomo dan Jatimakmur,” ujarnya.
Dia menambahkan, ada 6 kelurahan di Kecamatan Binjai Selatan turut terdampak banjir. Adapun kelurahan dimaksud yakni, Rambungbarat, Binjai Estate, Pujidadi, Rambungtimur, Rambungdalam dan Tanahmerah.
“Seluruhnya yang terdampak banjir adalah, 7.672 kepala keluarga atau 24.961 Jiwa di 25 kelurahan dari 5 kecamatan. Banjir terjadi akibat luapan sungai dan genangan drainase,” bebernya.
Meski banjir berangsur surut, Satgas BPBD dibantu Polri dan TNI tetap siaga. Bahkan, BPBD Binjai terus berkoordinasi dengan kelurahan dan kecamatan untuk melakukan data terbaru terkait situasi bencana.
“Satgas BPBD Binjai masih berada di kelurahan terdampak banjir dan stand by di lokasi bencana banjir untuk membantu masyarakat apabila membutuhkan dalam melakukan evakuasi. Juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Binjai untuk pelayanan kesehatan apabila masyarakat membutuhkan bantuan dan obat-obatan,” bebernya.
Dia menyebut, Bidang Logistik BPBD Binjai sudah mendirikan dapur umum untuk konsumsi masyarakat yang terdampak banjir di Jalan T Imam Bonjol, Kelurahan Setia, Binjai Kota.
Tebingtinggi juga terendam banjir hingga 70 cm di beberapa titik. Polres Tebingtinggi bersama BPBD dan Damkar mengevakuasi 21 kepala keluarga ke lokasi aman. Petugas menggunakan perahu karet untuk menjangkau permukiman yang terendam.
“Sebanyak 21 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir dapat dievakuasi ke rumah kosong yang dianggap aman dari genangan air. Seluruhnya berhasil dipindahkan tanpa kendala,” ujar Kabag Ops.
Di Kabupaten Karo menyebabkan longsor dan pohon tumbang. Di Kelurahan Gung Negeri, longsor menimpa dua rumah dengan kerugian material Rp30 juta, namun tidak menelan korban jiwa. Di Desa Perbaji dan Desa Selandi, pohon tumbang sempat menghambat jalan, namun petugas cepat membersihkan sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Tragedi paling memilukan terjadi di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara. Tanah longsor menimpa rumah warga, menewaskan enam orang, termasuk satu keluarga dari Rantauprapat, Selasa (25/11/2025). Mereka semula dalam perjalanan menuju Medan untuk pemeriksaan kesehatan. Sopir dan mobil selamat, tetapi rumah mereka tertimbun longsor.
Enam orang diantaranya, merupakan satu keluarga Jalan Multatuli Binaraga, Rantau Utara, Labuhanbatu. Yakni, Amelia Azhari Lubis (11), Nurjannah (36), Nurasiah (45), Uswatun Hasanah (67) dan Sumiati (63). Sedangkan seorang lainnya Opung Nerla Simanjuntak warga Kampung Tempel Rantauprapat.
Informasi yang dihimpun, para korban sejak awal berangkat dari Rantauprapat, Senin malam (24/11/2025) menuju kota Medan. Tujuan, Chek up ke salah satu RS di Kota Medan untuk pemeriksaan kesehatan korban Sumiati. Para menumpangi Toyota Calya putih nopol BK1986 AFF.
“Mereka ke Medan naik mobil yang dirental. Untuk berobat,” ungkap Yendrik Lubis (37) merupakan mantan suami Nurjannah dan juga ayah kandung Amelia Azhari Lubis.
Tapi, sesudah dari Medan para korban bersama sopir Acong memilih berliburan dengan memilih melintasi jalan lintas barat Sumut di kawasan Tapanuli Utara.
Namun, saat di kawasan Desa Sibalanga, Taput para korban beristirahat di salah satu rumah warga lokal. Sedangkan sopir dan mobil berada di seberang jalan. Dan, saat itu naas. Musibah terjadi. Insiden tanah perbukitan di belakang rumah warga longsor. Langsung menimbun seisi rumah.
11 Kecamatan di Sergai Terendam
Plt Kepala BPBD Serdang Bedagai, Abdul Rahman Purba, melaporkan bahwa sedikitnya 2.000 Kepala Keluarga terdampak banjir yang merendam 11 kecamatan, yaitu Sipispis, Tebing Syahbandar, Dolok Masihul, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin, Sei Rampah, Tebing Tinggi, Tanjung Beringin, Bandar Khalipah, dan Sei Bamban.
“Sedikitnya 2.000 Kepala Keluarga terdampak banjir yang melanda 11 kecamatan di Serdang Bedagai. Data ini masih bisa bertambah karena pendataan masih kita lakukan di lapangan,” ujar Rahman Purba.
Ia menjelaskan bahwa BPBD terus melakukan pemantauan, evakuasi, serta koordinasi dengan OPD terkait untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
Wakil Bupati Serdang Bedagai Dr H Adlin Tambunan, meninjau sejumlah lokasi banjir di Kecamatan Sei Rampah, Sei Bamban, Tebing Tinggi, dan Teluk Mengkudu, Jumat (28/11/2025). Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai bergerak cepat melakukan penanganan bencana dengan mengerahkan tim gabungan dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, aparat kecamatan dan desa, serta unsur terkait lainnya untuk melakukan pemantauan, evakuasi, dan penyaluran bantuan kepada warga terdampak.
Dalam tinjauannya, Adlin Tambunan menegaskan agar seluruh tenaga kesehatan di puskesmas, RSUD, serta petugas kebencanaan tetap siaga dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Kita sudah minta seluruh nakes untuk siaga, turun ke posko dan lokasi banjir untuk memberikan layanan kesehatan. Petugas lainnya juga harus siap melakukan tindakan di posko, dapur umum, maupun permukiman warga,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi naiknya debit air mengingat cuaca yang masih tidak stabil. Warga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah serta melapor segera jika terjadi kondisi darurat. “Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Hindari area rawan banjir dan patuhi arahan petugas demi keselamatan bersama,” tambahnya.
Adlin menegaskan bahwa Pemkab Sergai terus memantau situasi dan melakukan penanganan terpadu selama masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan. “Dengan kerja sama seluruh pihak, kita berharap banjir segera surut dan aktivitas masyarakat kembali normal. Mari saling membantu dan bergotong royong menghadapi musibah ini,” katanya. (ted/fdh/deo/mag-3/fat/ila)

2 hours ago
1

















































