Survei LPEM UI: Ekonomi Mandek, Inflasi Naik, Stagflasi Mengintai

11 hours ago 5
feb.ui.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sinyal peringatan bagi perekonomian nasional kian menguat. Di tengah klaim perbaikan di sejumlah sektor, hasil survei terbaru justru menunjukkan mayoritas ekonom melihat kondisi ekonomi Indonesia belum beranjak membaik, bahkan cenderung memburuk.

Temuan tersebut terungkap dalam Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Semester I 2026 yang melibatkan 85 responden dari kalangan ahli ekonomi.

Sebanyak 41 responden atau sekitar 48 persen menilai kondisi ekonomi memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, 32 responden (38 persen) menyebut kondisi stagnan, dan hanya 12 responden atau 14 persen yang melihat adanya perbaikan.

“Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan, dengan skor keyakinan yang tinggi sebesar 7,37 dari 10,” tulis laporan Survei LPEM Ahli Ekonomi Semester I 2026.

Tren pesimistis ini bukan hal baru. Dalam tiga survei berturut-turut selama 18 bulan terakhir, para ekonom konsisten menilai belum ada perbaikan signifikan dalam kondisi ekonomi nasional.

Di sisi lain, tekanan inflasi justru dinilai semakin meningkat. Sebanyak 57 responden atau sekitar 67 persen menyatakan inflasi naik dalam tiga bulan terakhir. Hanya sebagian kecil yang menilai tekanan harga mereda.

Dengan rata-rata respons sebesar +0,71—lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya—indikasi kenaikan harga dinilai semakin kuat dan berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Tak hanya itu, pasar tenaga kerja juga dinilai masih lesu. Lebih dari separuh responden atau 56 persen menilai kondisi lapangan kerja semakin ketat. Hanya sebagian kecil yang melihat adanya pelonggaran.

Rata-rata respons sebesar -0,55 menunjukkan kondisi yang cenderung stagnan, dengan kekhawatiran terhadap meningkatnya pengangguran dan lambatnya pertumbuhan upah.

Kondisi tersebut dinilai bisa berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga, sekaligus memperlemah konsumsi masyarakat.

” Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian,” tulis laporan tersebut.

Sentimen negatif juga tercermin dari penilaian terhadap lingkungan bisnis. Sebanyak 61 persen responden menilai kondisi usaha memburuk, sementara hanya sebagian kecil yang melihat perbaikan.

Rata-rata respons yang tercatat sebesar -0,67 menunjukkan penurunan dibandingkan survei sebelumnya, sekaligus menandakan optimisme pelaku usaha belum pulih.

Secara keseluruhan, survei ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berjalan di tempat, dengan tekanan inflasi menjadi faktor yang paling mencolok.

Survei ini dilakukan secara daring pada Februari hingga 9 Maret 2026, melibatkan 85 ekonom dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, peneliti, hingga praktisi di sektor swasta dan organisasi internasional. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|