JAKARTA, SUMUTPOS–Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Sumatera Utara, Pdt Penrad Siagian kembali memfasilitasi penyelamatan dan pemulangan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Para korban yang terjebak sindikat perusahaan online scam internasional tersebut berhasil dievakuasi dan tiba di tanah air pada Rabu (15/7/2026) malam.
Dalam misi kemanusiaan ini, perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, yakni dua orang ibu bersama bayi mereka yang baru lahir di tengah situasi eksploitatif. Para korban tersebut adalah Nepa Maya Sari asal Kota Tebingtinggi dan Shella Puspita Sari warga Medan Marelan, Kota Medan.
Proses pemulangan berhasil dilakukan berkat koordinasi intensif antara tim advokasi Pdt Penrad Siagian, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, serta kementerian dan lembaga terkait. “Kami memberikan perhatian dan penanganan ekstra karena melibatkan ibu dan bayi. Kondisi psikologis dan fisik mereka harus menjadi prioritas utama. Syukur kepada Tuhan, saat ini mereka telah berhasil dievakuasi dan kembali dengan selamat,” ujar Pdt. Penrad Siagian dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, para korban langsung diterbangkan menuju Sumatera Utara. Pada Kamis pagi, tim advokasi menyambut mereka di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, untuk kemudian mengantarkan dan menyerahkan para korban langsung kepada pihak keluarga. Saat ini, para korban dan bayi mereka tengah menjalani proses pemulihan trauma (trauma healing).
Kasus ini bermula saat para korban tergiur lowongan kerja bergaji besar di media sosial. Namun sesampainya di Kamboja, paspor dan dokumen keimigrasian mereka ditahan. Mereka dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring (online scam) dengan jam kerja yang tidak manusiawi di bawah tekanan tinggi. Situasi kian pelik karena para korban harus melahirkan dalam kondisi keterbatasan akses kesehatan.
Menyikapi maraknya kejahatan siber internasional yang menyasar pekerja migran, Senator asal Sumut ini menegaskan bahwa fenomena ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang terorganisir, bukan sekadar masalah administrasi prosedural. Ia mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata secara radikal.
“Negara harus hadir untuk memutus mata rantai perekrutan sejak dari hulu, memperketat pengawasan perbatasan, serta tidak mempersulit perlindungan bagi WNI yang tidak memiliki dokumen lengkap saat mereka menjadi korban eksploitasi,” tegas Penrad.
Melalui jalur parlemen, Pdt Penrad Siagian berkomitmen untuk terus mengawal isu TPPO ini dan membuka posko pengaduan seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya warga Sumatera Utara yang menghadapi persoalan serupa di luar negeri. (adz)
JAKARTA, SUMUTPOS–Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Sumatera Utara, Pdt Penrad Siagian kembali memfasilitasi penyelamatan dan pemulangan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Para korban yang terjebak sindikat perusahaan online scam internasional tersebut berhasil dievakuasi dan tiba di tanah air pada Rabu (15/7/2026) malam.
Dalam misi kemanusiaan ini, perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, yakni dua orang ibu bersama bayi mereka yang baru lahir di tengah situasi eksploitatif. Para korban tersebut adalah Nepa Maya Sari asal Kota Tebingtinggi dan Shella Puspita Sari warga Medan Marelan, Kota Medan.
Proses pemulangan berhasil dilakukan berkat koordinasi intensif antara tim advokasi Pdt Penrad Siagian, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, serta kementerian dan lembaga terkait. “Kami memberikan perhatian dan penanganan ekstra karena melibatkan ibu dan bayi. Kondisi psikologis dan fisik mereka harus menjadi prioritas utama. Syukur kepada Tuhan, saat ini mereka telah berhasil dievakuasi dan kembali dengan selamat,” ujar Pdt. Penrad Siagian dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, para korban langsung diterbangkan menuju Sumatera Utara. Pada Kamis pagi, tim advokasi menyambut mereka di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, untuk kemudian mengantarkan dan menyerahkan para korban langsung kepada pihak keluarga. Saat ini, para korban dan bayi mereka tengah menjalani proses pemulihan trauma (trauma healing).
Kasus ini bermula saat para korban tergiur lowongan kerja bergaji besar di media sosial. Namun sesampainya di Kamboja, paspor dan dokumen keimigrasian mereka ditahan. Mereka dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring (online scam) dengan jam kerja yang tidak manusiawi di bawah tekanan tinggi. Situasi kian pelik karena para korban harus melahirkan dalam kondisi keterbatasan akses kesehatan.
Menyikapi maraknya kejahatan siber internasional yang menyasar pekerja migran, Senator asal Sumut ini menegaskan bahwa fenomena ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang terorganisir, bukan sekadar masalah administrasi prosedural. Ia mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata secara radikal.
“Negara harus hadir untuk memutus mata rantai perekrutan sejak dari hulu, memperketat pengawasan perbatasan, serta tidak mempersulit perlindungan bagi WNI yang tidak memiliki dokumen lengkap saat mereka menjadi korban eksploitasi,” tegas Penrad.
Melalui jalur parlemen, Pdt Penrad Siagian berkomitmen untuk terus mengawal isu TPPO ini dan membuka posko pengaduan seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya warga Sumatera Utara yang menghadapi persoalan serupa di luar negeri. (adz)

6 hours ago
7

















































