Sidak Bupati Wonogiri Setyo Sukarno dan Ketua DPRD Wonogiri Sriyono berserta para wakil rakyat di PT AAA. Istimewa WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sidak mendadak yang dilakukan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama DPRD Wonogiri ke PT Arena Agro Andalan pada Kamis (27/11/2025) berujung pada sederet rekomendasi tegas. Fokusnya satu: memastikan keluhan bau limbah tak terulang dan dampak lingkungan ditekan semaksimal mungkin, tanpa mengabaikan keberlangsungan tenaga kerja lokal.
Sidak ini merupakan tindak lanjut atas laporan warga yang sempat menggeruduk pabrik akibat bau menyengat dari aktivitas produksi. Dalam pemaparan di lokasi, manajemen menyampaikan langkah teknis yang sudah dan sedang dijalankan. Rombongan juga turun langsung meninjau titik penanganan limbah untuk memverifikasi progres di lapangan.
Bupati Wonogiri menegaskan, inti aspirasi warga adalah sederhana: bau harus tuntas ditangani. Ia mencatat adanya perbaikan dan komunikasi yang mulai terbangun antara manajemen dan masyarakat.
“Keluhan sudah tertangani, dan masyarakat tidak lagi mencium bau. Ini tentu perlu dijaga konsistensinya,” tegas Setyo Sukarno.
Ia juga mengingatkan, pabrik menyerap 800 lebih tenaga kerja, mayoritas dari warga sekitar, sehingga keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi menjadi kunci.
Sejalan dengan itu, DPRD Wonogiri melalui Ketua DPRD Wonogiri Sriyono menilai masih ada potensi yang bisa dimaksimalkan agar keberadaan industri memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat, khususnya dari hasil sampingan produksi. Misalnya untuk keperluan pakan ternak atau pemupukan tanaman.
Daftar Rekomendasi Bupati & DPRD Wonogiri untuk PT AAA
Berikut daftar rekomendasi inti hasil sidak yang menjadi fokus pengawasan ke depan:
✓ Optimalkan teknologi pengendalian bau, termasuk pemanfaatan evaporator dan sistem pendukung lain agar emisi bau ditekan sejak sumbernya.
✓ Pastikan alur IPAL berjalan penuh dan konsisten, terutama saat musim hujan ketika risiko bau meningkat.
✓ Percepat pengadaan dryer baru agar proses produksi CGF kembali normal dan tidak memicu penumpukan CSL.
✓ Batasi volume produksi secara adaptif sampai sistem baru berfungsi optimal, demi mencegah dampak lingkungan.
✓ Pengelolaan CSL harus terstandar, tidak lagi dibuang terbuka di lahan saat kondisi cuaca berisiko.
✓ Bangun skema pelibatan masyarakat, memanfaatkan hasil sampingan untuk pupuk, pakan ternak, atau kebutuhan produktif lain.
✓ Perkuat kanal komunikasi dan respons cepat, agar setiap komplain warga ditangani segera tanpa eskalasi.
Dari sisi teknis, General Manager Plant PT AAA Wonogiri menjelaskan sumber bau berasal dari corn steep liquor (CSL)—hasil fermentasi jagung—yang seharusnya diproses menjadi corn gluten feed (CGF). Insiden kebakaran pada dryer membuat sebagian CSL tak terolah dan sempat dibuang ke lahan. Pada musim hujan, proses fermentasi itulah yang memicu bau hingga ke permukiman.
Perusahaan mengklaim telah mengurangi kadar air, menyalurkan CSL ke IPAL, menambah alat berat untuk penanganan lahan, serta menekan produksi CGF dari 90 ton/hari menjadi 40 ton/hari sambil menunggu dryer baru. Evaluasi berkelanjutan disebut akan terus dilakukan untuk memastikan dampak ke lingkungan benar-benar terkendali.
Dengan rekomendasi yang sudah disepakati, Pemkab dan DPRD memastikan akan memantau implementasi di lapangan. Targetnya jelas: aktivitas industri tetap berjalan, lingkungan terlindungi, dan kepercayaan warga tetap terjaga plus peningkatan kesejahteraannya. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

1 day ago
7

















































