Remaja SMK Dharma Patra Belajar Atur Uang dan Jaga Kesehatan Mental

2 months ago 43

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Gaya hidup konsumtif di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Dari mengikuti tren gadget, belanja online impulsif, hingga nongkrong di kafe kekinian

Hal ini pula dialami para siswa SMK Dharma Patra Pangkalan Susu yang kerap terjebak dalam kebiasaan keuangan yang tidak sehat. Tak jarang, kondisi ini berdampak pada stres, utang pribadi, bahkan menurunnya semangat belajar.

Melihat kondisi tersebut, sekelompok dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Medan, Universitas Bina Bangsa Getsempena, dan Politeknik Bosowa Makassar turun tangan lewat program edukasi bertajuk “Financial Planning Education”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 16 November 2024, dengan peserta siswa kelas 12 jurusan Manajemen Bisnis SMK Dharma Patra.

Kegiatan edukatif ini bukan hanya membahas soal cara mencatat pengeluaran dan menabung. Lebih dari itu, tim pengabdi membekali siswa dengan pemahaman tentang keterkaitan langsung antara manajemen keuangan dan kesehatan mental.

“Banyak siswa yang malu datang ke sekolah karena terjerat utang dengan teman, bahkan uang SPP pun dipakai untuk keperluan konsumtif,” ujar Desi Irfiani, guru SMK Dharma Patra dalam keterangannya yang diterima Sumut Pos, Rabu (25/6/2025).

Desi juga mengungkapkan, belum ada edukasi formal mengenai perencanaan keuangan di sekolah. “Melalui sesi edukasi yang interaktif, para siswa diajak memahami pentingnya mencatat pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan dana darurat,” kata Desi.

“Tak kalah penting, mereka juga belajar bagaimana stres akibat masalah keuangan bisa memengaruhi konsentrasi belajar dan kepercayaan diri,” imbuhnya.

Dosen pembimbing kegiatan Marlya Fatira AK mengungkapkan, sebelum pelatihan, hanya 52% siswa yang terbiasa mencatat pengeluaran secara detail. Bahkan, lebih dari separuh siswa mengaku pengeluaran mereka sering kali melebihi pendapatan. “Tak heran, 41% siswa mengalami gangguan kesehatan mental seperti gelisah, kurang tidur, atau tidak semangat belajar,” jelasnya.

Namun setelah sesi edukasi, sebut Marlya, hasilnya membaik signifikan. Sebanyak 86% siswa mulai menerapkan kebiasaan keuangan sehat seperti mencatat pengeluaran, menabung, dan berbelanja bijak. Bahkan 94% siswa merasa lebih tenang, termotivasi, dan mampu fokus belajar karena memiliki rencana keuangan yang jelas.

“Perencanaan keuangan itu bukan hanya soal catatan uang masuk dan keluar. Ini adalah dasar untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab sejak dini,” ujar Marlya.

Program ini mendapat respons positif dari pihak sekolah. Kepala Sekolah dan guru berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin dan dijadikan bagian dari kurikulum pelengkap, terutama bagi siswa jurusan bisnis dan akuntansi.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kegiatan ini menjadi bukti bahwa membangun kebiasaan keuangan yang sehat bisa dimulai dari sekolah dan dampaknya bukan hanya pada dompet, tetapi juga pada kualitas hidup dan pendidikan remaja. (rel/adz)

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Gaya hidup konsumtif di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Dari mengikuti tren gadget, belanja online impulsif, hingga nongkrong di kafe kekinian

Hal ini pula dialami para siswa SMK Dharma Patra Pangkalan Susu yang kerap terjebak dalam kebiasaan keuangan yang tidak sehat. Tak jarang, kondisi ini berdampak pada stres, utang pribadi, bahkan menurunnya semangat belajar.

Melihat kondisi tersebut, sekelompok dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Medan, Universitas Bina Bangsa Getsempena, dan Politeknik Bosowa Makassar turun tangan lewat program edukasi bertajuk “Financial Planning Education”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 16 November 2024, dengan peserta siswa kelas 12 jurusan Manajemen Bisnis SMK Dharma Patra.

Kegiatan edukatif ini bukan hanya membahas soal cara mencatat pengeluaran dan menabung. Lebih dari itu, tim pengabdi membekali siswa dengan pemahaman tentang keterkaitan langsung antara manajemen keuangan dan kesehatan mental.

“Banyak siswa yang malu datang ke sekolah karena terjerat utang dengan teman, bahkan uang SPP pun dipakai untuk keperluan konsumtif,” ujar Desi Irfiani, guru SMK Dharma Patra dalam keterangannya yang diterima Sumut Pos, Rabu (25/6/2025).

Desi juga mengungkapkan, belum ada edukasi formal mengenai perencanaan keuangan di sekolah. “Melalui sesi edukasi yang interaktif, para siswa diajak memahami pentingnya mencatat pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan dana darurat,” kata Desi.

“Tak kalah penting, mereka juga belajar bagaimana stres akibat masalah keuangan bisa memengaruhi konsentrasi belajar dan kepercayaan diri,” imbuhnya.

Dosen pembimbing kegiatan Marlya Fatira AK mengungkapkan, sebelum pelatihan, hanya 52% siswa yang terbiasa mencatat pengeluaran secara detail. Bahkan, lebih dari separuh siswa mengaku pengeluaran mereka sering kali melebihi pendapatan. “Tak heran, 41% siswa mengalami gangguan kesehatan mental seperti gelisah, kurang tidur, atau tidak semangat belajar,” jelasnya.

Namun setelah sesi edukasi, sebut Marlya, hasilnya membaik signifikan. Sebanyak 86% siswa mulai menerapkan kebiasaan keuangan sehat seperti mencatat pengeluaran, menabung, dan berbelanja bijak. Bahkan 94% siswa merasa lebih tenang, termotivasi, dan mampu fokus belajar karena memiliki rencana keuangan yang jelas.

“Perencanaan keuangan itu bukan hanya soal catatan uang masuk dan keluar. Ini adalah dasar untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab sejak dini,” ujar Marlya.

Program ini mendapat respons positif dari pihak sekolah. Kepala Sekolah dan guru berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin dan dijadikan bagian dari kurikulum pelengkap, terutama bagi siswa jurusan bisnis dan akuntansi.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kegiatan ini menjadi bukti bahwa membangun kebiasaan keuangan yang sehat bisa dimulai dari sekolah dan dampaknya bukan hanya pada dompet, tetapi juga pada kualitas hidup dan pendidikan remaja. (rel/adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|