WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Banyak orang mengenal Desa Karangtengah sebagai salah satu desa di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Wonogiri, Jateng. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa sejarah lahirnya desa ini ternyata memiliki kaitan erat dengan perjalanan hidup seorang tokoh besar dalam sejarah Jawa, yakni Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.
Jejak sejarah tersebut masih tersimpan dalam catatan yang dimuat di laman Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonogiri di laman perpusda.wonogirikab.go.id. Di balik perkembangan Desa Karangtengah saat ini, terdapat kisah panjang yang dimulai sejak masa perjuangan Raden Mas Said pada abad ke-18.
Berdasarkan catatan sejarah, Raden Mas Said lahir di Kartasura pada Minggu Legi, 4 Ruwah 1650 Tahun Jimakir atau bertepatan dengan 8 April 1725. Putra Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan ini kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang berjuang melawan penjajahan sekaligus pendiri Kadipaten Mangkunegaran.
Dalam salah satu perjalanan dari Ngori menuju Surakarta, Raden Mas Said sempat beristirahat di kawasan hutan yang kini dikenal dengan nama Wonoleren. Dari perjalanan itulah kemudian muncul cikal bakal terbentuknya wilayah yang kini menjadi Desa Karangtengah.
Sesampainya di Surakarta, Raden Mas Said memberikan tugas kepada Raden Sanarso bersama kerabatnya Nerang Kusumo untuk membuka dan membangun kawasan baru di Wonoleren.
Setibanya di lokasi, keduanya berpisah. Nerang Kusumo menetap di wilayah Karanganyar (bukan Kabupaten Karanganyar Jateng) sedangkan Raden Sanarso berada di wilayah Duren. Seiring waktu, Raden Sanarso dipercaya menjadi lurah pertama di wilayah tersebut.
Pada masa kepemimpinannya, kawasan itu dibagi menjadi sembilan kamituwan, yaitu:
✓ Pandanwangi
✓ Tamanan
✓ Sampang
✓ Wonoleren
✓ Karanganyar
✓ Niten
✓ Ngampel Ombo
✓ Posong
✓ Duren
Setelah cukup lama memimpin, Raden Sanarso dipanggil kembali ke keraton. Tongkat kepemimpinan kemudian diserahkan kepada seorang tokoh masyarakat bernama Remin, yang dikenal memiliki kedekatan dengan Nerang Kusumo.
Pusat pemerintahan kala itu berada di Karanganyar. Setelah masa kepemimpinan Remin berakhir, jabatan diteruskan oleh Karyo Sumarto yang berkedudukan di Dusun Sampang.
Pada era pemerintahan Karyo Sumarto inilah lahir keputusan penting yang mengubah perjalanan desa.
Melalui rembug desa, nama Karanganyar resmi diubah menjadi Desa Karangtengah. Bersamaan dengan itu dilakukan penataan wilayah menjadi delapan dusun setelah Pandanwangi dan Tamanan digabung menjadi Dusun Timbangan yang dipimpin Karyo Sukarso.
Perubahan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah administratif Desa Karangtengah hingga dikenal dengan nama yang digunakan sampai sekarang.
Perjalanan pemerintahan desa terus berlanjut. Setelah wafatnya Karyo Sumarto, kepemimpinan diteruskan oleh Renggo Sutjitro hingga tahun 1960. Selanjutnya dijabat Djojo Daljono pada periode 1961–1979, kemudian Muchayat, Ambar Mulyadi, Muchayat untuk periode kedua, Saptono, Pj. Suyatno, Bambang Daryono, Plt. Purwoko, Pj. Wiyono, hingga kini dipimpin Agus Mustakin, untuk masa jabatan 2023–2031.
Dalam perjalanan administrasi pemerintahan, Desa Karangtengah juga mengalami sejumlah perubahan wilayah.
Pada 12 Oktober 1972, desa ini ditetapkan menjadi bagian dari Kecamatan Batuwarno. Kemudian berubah menjadi Perwakilan Kecamatan Batuwarno di Karangtengah.
Barulah pada 4 April 1992, Kecamatan Karangtengah resmi dibentuk sehingga Desa Karangtengah memperoleh status administratif seperti yang dikenal masyarakat hingga sekarang.
Selain menyimpan sejarah panjang, Desa Karangtengah juga dikenal masih menjaga berbagai tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa tradisi yang hingga kini masih dikenal masyarakat antara lain:
• Rasulan atau Bersih Dusun sebagai ungkapan syukur setelah panen dan tradisi merti desa.
• Tayub, seni tari tradisional yang melambangkan kesuburan, rasa syukur, sekaligus kerukunan warga.
• Sadranan Punden, tradisi ziarah dan membersihkan makam para leluhur menjelang Ramadan.
• Megengan sebagai penyambutan bulan suci Ramadan melalui doa bersama, sedekah makanan, serta tahlil.
• Selikuran yang digelar pada malam ke-21 Ramadan dengan doa bersama, sedekah sego gunungan, ingkung, dan zikir.
• Suronan atau Malam 1 Suro sebagai momentum refleksi diri, tirakat, doa, serta memohon keselamatan.
• Nyangoni berupa tradisi nyekar dan kirim doa kepada leluhur menjelang Idulfitri.
• Genduren atau kenduri sebagai bentuk syukur, doa bersama, dan mempererat hubungan antarwarga.
Sementara itu, tradisi Pologoro, yaitu pungutan adat sebesar lima persen dari transaksi jual beli tanah, tercatat pernah berlaku di Desa Karangtengah. Namun, tradisi tersebut telah dihentikan sejak tahun 2017.
Dalam catatan sejarah yang dipublikasikan Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonogiri disebutkan bahwa, “Sejarah berdirinya Desa Karangtengah tidak bisa terlepas dari perjuangan dan perjalanan hidup Raden Mas Said atau dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa.”
Kalimat tersebut menjadi penegas bahwa perjalanan seorang tokoh besar Jawa ternyata meninggalkan jejak yang masih dapat ditelusuri hingga kini melalui sejarah berdirinya Desa Karangtengah.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, kisah lahirnya Desa Karangtengah menjadi bukti bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh waktu, tetapi juga oleh perjuangan, nilai budaya, dan warisan para pendahulu yang tetap hidup dalam tradisi masyarakat hingga sekarang. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

16 hours ago
9


















































