Angkat Isu Deforestasi, Poster Mahasiswa DKV ISI Surakarta Lolos Pameran Internasional

17 hours ago 12
Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta, Frian Abadi bersama karya poster miliknya yang dipamerkan dalam Re:Rasa Poster International Biennale 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta | Foto: Dok. DKV ISI Surakarta

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Isu kehancuran hutan dan hilangnya habitat satwa dituangkan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta, Frian Abadi, melalui sebuah karya poster.

Karya berjudul “Displaced” itu berhasil lolos kurasi dan dipamerkan dalam Re:Rasa Poster International Biennale 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta.

Mahasiswa angkatan 2025 asal Batang, Jawa Tengah, tersebut berhasil membawa karyanya bersanding dengan 88 desainer, akademisi, praktisi, dan seniman dari 25 negara dalam ajang yang mengusung tema “Re: Think, Re: Make, Re: Act” tersebut.

Pameran berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di kampus Universitas Paramadina, Jakarta. Ajang tersebut digagas Program Studi DKV, Fakultas Ilmu Rekayasa Universitas Paramadina.

Re:Rasa International Poster Biennale 2026 merupakan hasil kolaborasi Universitas Paramadina dengan Kementerian Ekonomi Kreatif RI, ASPRODI DKV Indonesia, AIDIA (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), Selasar Art Space (Selasart), dan ASEDAS Malaysia.

Pameran tersebut secara resmi dibuka Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Bagi Frian, keberhasilan menembus kurasi ajang internasional tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Terlebih, karya yang dibuatnya secara mandiri selama sekitar tiga hari itu dapat dipajang sejajar dengan karya para desainer dan praktisi dari berbagai negara.

Poster “Displaced” dikerjakan Frian menggunakan teknik editing dan ilustrasi vektor. Melalui pendekatan visual monokromatik, ia mengangkat persoalan kerusakan alam dan hilangnya habitat satwa akibat deforestasi.

Di bagian tengah poster, Frian menampilkan seekor rusa yang meneteskan air mata. Sosok tersebut menjadi representasi satwa liar yang kehilangan habitat akibat kerusakan hutan.

Pesan tersebut diperkuat melalui bentuk tanduk rusa yang dibuat menyerupai dahan dan ranting pohon kering dengan daun-daun berguguran. Metafora itu menggambarkan keterkaitan antara keberlangsungan satwa liar dan kelestarian hutan sebagai satu kesatuan ekosistem.

Sementara di bagian latar, tampak tumpukan kayu gelondongan hasil tebangan yang membentang hingga cakrawala. Visual tersebut menggambarkan masifnya deforestasi sekaligus mempertegas persoalan yang ingin disampaikan melalui poster.

Pesan “SAVE THE EARTH” ditampilkan secara vertikal dengan tipografi tegas. Melalui keseluruhan komposisi tersebut, Frian ingin menyampaikan kritik bahwa hilangnya hutan bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan, tetapi juga berarti hilangnya ruang hidup bagi satwa yang bergantung pada hutan.

Frian mengaku senang sekaligus tidak menyangka karyanya dapat lolos dalam pameran internasional tersebut.

Keberhasilan itu menjadi dorongan baginya untuk lebih bersemangat dan produktif mengikuti berbagai pameran maupun kompetisi desain, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Frian, pengalaman tersebut juga memberinya kesempatan untuk melihat karya desain dalam lingkup yang lebih luas serta berhadapan langsung dengan karya para desainer profesional dari berbagai negara.

Sementara itu, dosen DKV FSRD ISI Surakarta sekaligus dosen pembimbing Frian, Basnendar Herry Prilosadoso, mengatakan mahasiswa perlu terus meningkatkan kompetensinya dan berani mengambil kesempatan di luar lingkungan kampus.

Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa dalam pameran maupun kompetisi, terutama yang berskala internasional, penting untuk menambah pengalaman sekaligus menguji kemampuan yang telah diperoleh selama proses pembelajaran di kampus.

“Kompetensi mahasiswa perlu ditingkatkan dan mahasiswa harus berani mengikuti kegiatan pameran maupun kompetisi di luar kampus, khususnya di tingkat internasional agar mempunyai pengalaman,” ujar Basnendar, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kemampuan mahasiswa DKV. Selain mengasah keterampilan teknis, mahasiswa juga dapat belajar membaca isu, menerjemahkan gagasan ke dalam bahasa visual, serta mempertanggungjawabkan karya di hadapan publik yang lebih luas.

Lolosnya karya “Displaced” dalam Re:Rasa Poster International Biennale 2026 sekaligus menunjukkan bahwa karya mahasiswa tidak hanya dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran di dalam kampus, tetapi juga mampu berkompetisi dan mendapat ruang di forum desain internasional.

Bagi Frian, kesempatan tersebut menjadi pijakan awal untuk terus berkarya dan mencoba berbagai ajang desain lainnya.

Dari Batang, gagasan tentang hutan, satwa, dan ancaman deforestasi itu akhirnya menemukan panggung yang lebih luas di Jakarta, berdampingan dengan karya-karya desainer dari berbagai penjuru dunia. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|