Dikelilingi Bangunan Sejarah Termasuk Supermarket Pertama di Indonesia

6 hours ago 6

Menyambangi Titik Nol Kota Jayapura yang Alami Perubahan dari Masa ke Masa (Bagian 2-Habis)

Sesi kedua laporan terkait Taman Imbi mengurai banyaknya cerita sejarah yang dimulai dari lokasi ini. Seperti ada garis merah diantara beberapa bangunan sejarah yang dibangun era Belanda dulu. Cenderawasih Pos coba menelusurinya.

Laporan: Laporan Karolus Daot_Jayapura

Orang mengenal Taman Imbi sebagai ruang terbuka tempat warga berkumpul, menikmati semangkuk mie pangsit, menyaksikan konser musik, atau sekadar melepas penat setelah seharian bekerja. Namun siapa sangka ada banyak jejak nyata dari sejarah bangunan tua di Jayapura yang mengelilingi tempat ini. Yang paling dekat adalah bangunan Sarinah.

Bangunan ini sebelumnya digunakan sebagai kantor Bawaslu Papua. Posisinya persis bersebelahan dengan pintu masuk gedung DPR Papua. Sarinah sendiri adalah nama pengasuh Soekarno sekaligus pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia yang didirikan untuk mendukung usaha rakyat dan perekonomian nasional. Ya nama Sarinah dijadikan sebagai tokoh di era Bung Karno.

Sarinah adalah gadis pembantu keluarga orangtua Soekarno yang memiliki peran penting dalam masa kecilnya. Ia mengajarkan Soekarno tentang cinta kasih, terutama terhadap rakyat jelata, dan menjadi sosok yang sangat dekat dengannya hingga dewasa. Sebagai bentuk penghormatan, Soekarno menamai pusat perbelanjaan modern pertamanya dengan nama Sarinah, yang juga menjadi inspirasi bagi pemikiran tentang peran perempuan dalam perjuangan sosial dan politik Indonesia.

Menariknya menurut Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Bentar Mano, saat itu, Indonesia hanya memiliki dua gedung Sarinah. Satu berada di kawasan Thamrin, Jakarta satunya lagi berada di Jayapura. “Jadi dulu konsepnya itu Sarinah itu hanya ada dua. Sarinah di Thamrin Jakarta dan Sarinah di Jayapura,” katanya.

Bangunan tersebut diproyeksikan menjadi etalase Indonesia di ujung timur Nusantara. Sebuah simbol bahwa Papua juga merupakan bagian penting dari wajah Indonesia. Jika diperhatikan lebih jauh, posisi bangunan-bangunan tersebut ternyata mengelilingi Taman Imbi.

Selain Sarinah ada gedung DPR Papua khususnya di bagian depan. Ini juga merupakan satu rangkaian dari bangunan lama yang masih terikat dengan titik nol Jayapura. Selanjutnya ada Gereja Pengharapan dan juga Gedung Kesenian Papua di Jl Irian yang juga disebut Gedung New Guinea Raad. Sayangnya dari semua ini lama kelamaan keaslian bangunan gedung mulai mengalami perubahan. Gedung Kesenian yang menjadi saksi sejarah berkibarnya Bintang Kejora berdampingan dengan Bendera Belanda ketika itu kini lebih banyak tertutup.

Bagian depannya juga terlihat telah disewakan untuk berjualan ikan bakar. Padahal gedung ini satu saksi agresi kolonial Belanda masa administrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga integrasi Papua ke dalam Indonesia. Gedung yang pernah menjadi pemerintahan kolonial Belanda yang kemudian digunakan sebagai gedung parlemen sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi gedung DPR Papua. Bangunan ini menyimpan sejarah yang sangat penting.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano menjelaskan bahwa kawasan Taman Imbi sejak awal memang dirancang bukan sekadar taman kota. Pemerintah kolonial Belanda telah menatanya sebagai pusat pemerintahan, ruang budaya, hingga kawasan rekreasi yang saling terhubung.

“Kalau kita lihat sekarang mungkin hanya sebuah taman biasa. Padahal dulu kawasan ini adalah pusat pemerintahan sekaligus pusat kehidupan masyarakat,” ujar Bentar, Selasa (7/7).

Kata Bentar ada beberapa bangunan masih berdiri dan mengalami perubahan namun sayangnya banyak generasi muda yang melintas tanpa mengetahui nilai sejarah yang dikandungnya. Kemudian tak jauh dari Taman Imbi, tepat di samping Kantor Klasis GKI Kota Jayapura, dahulu berdiri Gereja Pengharapan lama. Bangunan itu memiliki bentuk yang berbeda dari gereja-gereja lain. Atapnya melengkung dengan konstruksi seng berbentuk setengah lingkaran yang menjadi ciri khas arsitektur kolonial Belanda.

“Dulu gereja itu bentuknya unik. Atapnya bulat. Sayangnya kemudian dibongkar,” kenang Matias. Kini yang tersisa hanyalah cerita. Padahal, menurutnya, gereja tersebut merupakan bagian penting dari identitas kawasan Kota Tua Jayapura. Sedikit bergeser ke sisi lain taman, berdiri bangunan tua yang kini terbengkalai di samping kawasan Gelael. Bangunan itu dahulu dikenal sebagai Bioskop Imbi. Pada masanya, Bioskop Imbi menjadi pusat hiburan masyarakat Hollandia.

Masyarakat dari berbagai penjuru datang menonton film di tempat tersebut. “Semua orang datang nonton di situ,” ujar Matias. Seiring perkembangan kota, kawasan itu kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perbelanjaan pertama di Jayapura pada era 1970-an. Kini bangunan itu nyaris kehilangan identitasnya sebagai salah satu ikon sejarah kota.

Menurut Matias, kondisi itu bukanlah kebetulan dimana sejak awal kawasan tersebut memang dirancang seperti pusat pemerintahan. Taman Imbi berfungsi sebagai lapangan upacara. Sementara gedung-gedung pemerintahan berdiri mengelilinginya. Konsepnya menyerupai kawasan Istana Merdeka dan Monumen Nasional di Jakarta. “Taman itu sebenarnya lapangan upacara. Semua gedung pemerintahan menghadap ke situ,” jelasnya.

Melihat kekayaan sejarah yang dimiliki kawasan tersebut, Matias menilai Pemerintah Kota Jayapura seharusnya mulai memikirkan revitalisasi kawasan Kota Tua. Bukan dengan menghilangkan bangunan lama, melainkan mempertahankan identitas sejarahnya. Gedung Sarinah, misalnya, dapat dipugar menjadi galeri sejarah. Gedung New Guinea Raad tetap difungsikan sebagai bangunan budaya sekaligus monumen sejarah.

Begitu pula Gereja Pengharapan lama yang dapat dihadirkan kembali dalam bentuk replika atau monumen agar generasi mendatang mengetahui keberadaannya. “Kalau bangunan-bangunan ini tetap dipertahankan, sejarah kota tidak akan hilang,” ujarnya. Menurutnya, menjaga bangunan tua bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga investasi pariwisata. Semakin kuat identitas sejarah sebuah kota, semakin besar pula daya tarik wisatanya.

Gagasan menghidupkan kembali kawasan Kota Tua sebenarnya pernah muncul. Pemerintah Kota Jayapura sempat menyusun konsep penataan Jalan Irian hingga Taman Imbi menjadi kawasan wisata pejalan kaki. Konsep itu mengadopsi kawasan Malioboro di Yogyakarta. Dimana jalan Irian dirancang menjadi pusat wisata. Pada malam tertentu, kendaraan bermotor tidak diperbolehkan melintas.

Pengunjung memarkir kendaraan di Terminal Mesran, kemudian berjalan kaki menyusuri Jalan Irian hingga berakhir di Taman Imbi. Sepanjang jalan, masyarakat dapat menikmati pertunjukan musik akustik, pameran seni, kuliner khas Papua, hingga pedagang kecil yang ditata rapi. Trotoar dibersihkan, parkir liar dihilangkan. Pedagang kaki lima ditata agar tidak mengganggu pejalan kaki. “Konsepnya seperti Malioboro di Yogyakarta. Orang datang untuk berjalan kaki menikmati Kota Tua,” kata Matias.

Bahkan, konsep tersebut juga diharapkan mampu mengurangi gangguan keamanan. Dengan aktivitas masyarakat yang ramai, ditambah patroli aparat keamanan dan Satuan Polisi Pamong Praja, kawasan itu diyakini akan menjadi lebih aman dan nyaman. “Kalau ramai orang berkegiatan, orang yang mau membuat keributan juga akan berpikir dua kali,” katanya.

Taman Imbi bukan sekadar ruang terbuka hijau. Ia adalah halaman depan sejarah Kota Jayapura. Di sekelilingnya berdiri saksi-saksi bisu perjalanan panjang Papua, mulai dari masa kolonial Belanda, pemerintahan PBB, hingga Indonesia. Sayangnya, sebagian bangunan itu mulai terlupakan, sebagian lagi berubah fungsi, bahkan ada yang hilang. Padahal, apabila ditata kembali sebagai kawasan Kota Tua, Taman Imbi dan bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya dapat menjadi destinasi wisata sejarah yang unik di Tanah Papua. Di sanalah jejak masa lalu bertemu dengan harapan masa depan sebab kota yang menghargai sejarahnya, sesungguhnya sedang menjaga jati dirinya. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|