Menyelamatkan Tanah Pemberian Adat: Kisah Generasi Keempat Nubuai “Melawan” Abrasi Pantai
Bertahun-tahun Kampung Nubuai hidup dalam kecemasan, pasalnya ancaman abrasi tak ada kata berhenti, selalu saja mengintai.
Laporan Ismail-Waropen
Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sumber kehidupan sekaligus pelataran rumah tempat anak-anak tumbuh. Namun di Kampung Nubuai, dan disekitar dan hampir di wilayah pesisir Distrik Urfas selama bertahun-tahun, laut juga menjadi ancaman sunyi yang perlahan tapi pasti menelan jejak sejarah dan ruang hidup yang diwariskan oleh para leluhur.
Seperti Kisah Kampung Nubuai adalah kisah tentang sebuah penghormatan dan ikatan adat yang kuat. Berpuluh-puluh tahun lalu, para tetua, moyang, dan tete (kakek) warga Nubuai datang dan menumpang di wilayah tersebut setelah mengalami musibah besar di kampung asal mereka.
Kehadiran mereka disambut dengan kehangatan adat yang luar biasa. Sebagai bentuk penghargaan dan persaudaraan, masyarakat hukum adat Sanggei, khususnya dari keluarga besar Maranarauni, menyerahkan sebidang tanah ulayat. Selembar tanah harapan itu membentang sepanjang 800 meter dengan lebar 250 meter. Di atas tanah pemberian adat inilah, peradaban kecil Kampung Nubuai dibangun dan dirawat dari generasi ke generasi.
Namun kini, waktu dan alam mulai menguji ketahanan mereka. Memasuki era generasi keempat, tanah sejarah itu tidak lagi utuh.
“Hari ini kami generasi keempat ini, kami sudah terkikis kurang lebih 100 meter lah, sudah terambil daratannya oleh air laut,” tutur Musa Sawaki, perwakilan Tokoh Pemuda masyarakat hukum adat Kampung Nubuai, yang juga didampingi Tokoh Masyarakat Simon Warami, Pdt Markus Maniburi dan juga Kepala Suku Masyarakat Adat Nubuai Hendrik Maniagasi saat ditemui di Pesisir Pantai Kampung Nubuai yang sedang dilakukan pekerjaan pemasangan Beton Pengamanan Gelombang, Jumat (9/7).
Kehilangan 100 meter daratan bukan sekadar kehilangan tanah kosong. Bagi Kepala Suku Masyarakat Adat Nubuai, Hendrik Maniagasi dan para pemuda, masyarakat di kampung tersebut, setiap meter tanah yang ambles ke laut adalah hilangnya bagian dari sejarah penyerahan adat, ruang bermain masa kecil, dan lahan pemukiman bagi masa depan mereka.
Jauh di seberang sana, di antara rimbunnya hutan bakau, terdapat tanah kehidupan asli mereka yang kini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Sementara di tempat yang mereka diami sekarang, kepadatan penduduk terus melonjak tinggi seiring berjalannya waktu.
Kekhawatiran mendalam sempat menyelimuti benak para pemuda. Pertanyaan tentang di mana anak-cucu mereka akan mendirikan rumah di masa depan, terus membayangi.
Titik terang itu akhirnya datang. Hendrik Maniagasi menyambut dengan gembira dan sukacita kehadiran proyek besar pengamanan pantai dari Pemerintah Provinsi Papua, wujud nyata dari kunjungan Gubernur Papua Mathius D Fakhiri ke Waropen beberapa bulan lalu.
Bagi generasi muda Nubuai, proyek ini bukan sekadar urusan semen, batu, dan beton dari pihak kontraktor. Proyek ini adalah benteng pertahanan terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa warisan ulayat yang diberikan oleh keluarga besar Manaruri.
“Ini merupakan kerinduan dan harapan kami. Ketika nanti besok kami generasi muda ini akan menikmati dan akan menjaga pantai ini, untuk anak-cucu kami,” kata Musa Sawaki menyambut, menyiratkan beban berat yang perlahan terangkat dari pundaknya.
Di tengah deru mesin alat berat Eksavator dan kesibukan pekerja di tepi pantai, ada nyala api baru di mata para pemuda Nubuai. Mereka kini berdiri di barisan paling depan, siap mengawal dan ikut berkeringat membantu para pekerja kontraktor.
Bagi Hendrik Maniagasi, Musa Sawaki, Pdt Markus Maniburi dan kepala Kampung Nubuai Paulus Yenusi mewakili seluruh perwakilan masyarakat adat, mereka mengawal pembangunan pengaman pantai ini bukan lagi sekadar mendukung program pemerintah, melainkan sebuah sumpah suci generasi keempat untuk menjaga dan memperpanjang umur tanah pemberian adat yang telah menghidupi mereka sekian lama. (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Menyelamatkan Tanah Pemberian Adat: Kisah Generasi Keempat Nubuai “Melawan” Abrasi Pantai
Bertahun-tahun Kampung Nubuai hidup dalam kecemasan, pasalnya ancaman abrasi tak ada kata berhenti, selalu saja mengintai.
Laporan Ismail-Waropen
Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sumber kehidupan sekaligus pelataran rumah tempat anak-anak tumbuh. Namun di Kampung Nubuai, dan disekitar dan hampir di wilayah pesisir Distrik Urfas selama bertahun-tahun, laut juga menjadi ancaman sunyi yang perlahan tapi pasti menelan jejak sejarah dan ruang hidup yang diwariskan oleh para leluhur.
Seperti Kisah Kampung Nubuai adalah kisah tentang sebuah penghormatan dan ikatan adat yang kuat. Berpuluh-puluh tahun lalu, para tetua, moyang, dan tete (kakek) warga Nubuai datang dan menumpang di wilayah tersebut setelah mengalami musibah besar di kampung asal mereka.
Kehadiran mereka disambut dengan kehangatan adat yang luar biasa. Sebagai bentuk penghargaan dan persaudaraan, masyarakat hukum adat Sanggei, khususnya dari keluarga besar Maranarauni, menyerahkan sebidang tanah ulayat. Selembar tanah harapan itu membentang sepanjang 800 meter dengan lebar 250 meter. Di atas tanah pemberian adat inilah, peradaban kecil Kampung Nubuai dibangun dan dirawat dari generasi ke generasi.
Namun kini, waktu dan alam mulai menguji ketahanan mereka. Memasuki era generasi keempat, tanah sejarah itu tidak lagi utuh.
“Hari ini kami generasi keempat ini, kami sudah terkikis kurang lebih 100 meter lah, sudah terambil daratannya oleh air laut,” tutur Musa Sawaki, perwakilan Tokoh Pemuda masyarakat hukum adat Kampung Nubuai, yang juga didampingi Tokoh Masyarakat Simon Warami, Pdt Markus Maniburi dan juga Kepala Suku Masyarakat Adat Nubuai Hendrik Maniagasi saat ditemui di Pesisir Pantai Kampung Nubuai yang sedang dilakukan pekerjaan pemasangan Beton Pengamanan Gelombang, Jumat (9/7).
Kehilangan 100 meter daratan bukan sekadar kehilangan tanah kosong. Bagi Kepala Suku Masyarakat Adat Nubuai, Hendrik Maniagasi dan para pemuda, masyarakat di kampung tersebut, setiap meter tanah yang ambles ke laut adalah hilangnya bagian dari sejarah penyerahan adat, ruang bermain masa kecil, dan lahan pemukiman bagi masa depan mereka.
Jauh di seberang sana, di antara rimbunnya hutan bakau, terdapat tanah kehidupan asli mereka yang kini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Sementara di tempat yang mereka diami sekarang, kepadatan penduduk terus melonjak tinggi seiring berjalannya waktu.
Kekhawatiran mendalam sempat menyelimuti benak para pemuda. Pertanyaan tentang di mana anak-cucu mereka akan mendirikan rumah di masa depan, terus membayangi.
Titik terang itu akhirnya datang. Hendrik Maniagasi menyambut dengan gembira dan sukacita kehadiran proyek besar pengamanan pantai dari Pemerintah Provinsi Papua, wujud nyata dari kunjungan Gubernur Papua Mathius D Fakhiri ke Waropen beberapa bulan lalu.
Bagi generasi muda Nubuai, proyek ini bukan sekadar urusan semen, batu, dan beton dari pihak kontraktor. Proyek ini adalah benteng pertahanan terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa warisan ulayat yang diberikan oleh keluarga besar Manaruri.
“Ini merupakan kerinduan dan harapan kami. Ketika nanti besok kami generasi muda ini akan menikmati dan akan menjaga pantai ini, untuk anak-cucu kami,” kata Musa Sawaki menyambut, menyiratkan beban berat yang perlahan terangkat dari pundaknya.
Di tengah deru mesin alat berat Eksavator dan kesibukan pekerja di tepi pantai, ada nyala api baru di mata para pemuda Nubuai. Mereka kini berdiri di barisan paling depan, siap mengawal dan ikut berkeringat membantu para pekerja kontraktor.
Bagi Hendrik Maniagasi, Musa Sawaki, Pdt Markus Maniburi dan kepala Kampung Nubuai Paulus Yenusi mewakili seluruh perwakilan masyarakat adat, mereka mengawal pembangunan pengaman pantai ini bukan lagi sekadar mendukung program pemerintah, melainkan sebuah sumpah suci generasi keempat untuk menjaga dan memperpanjang umur tanah pemberian adat yang telah menghidupi mereka sekian lama. (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

















































