WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Indonesia kembali dihadapkan pada rangkaian bencana di sejumlah wilayah. Gempa bumi masih tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas gunung api meningkat, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan di sejumlah daerah.
Data BMKG pada Senin (7/9/2026) mencatat sejumlah aktivitas gempa di wilayah Indonesia. Salah satunya gempa berkekuatan magnitudo 4,2 di Laut Banda pada pukul 00.19 WIB dengan kedalaman 163 kilometer. Sebelumnya, gempa M5,4 yang berpusat di laut 77 kilometer tenggara Cilacap pada 4 September 2026 turut dirasakan hingga sejumlah wilayah, termasuk Wonogiri.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga masih berlangsung. BNPB melaporkan erupsi menerus yang dimulai sejak 4 September 2026 disertai suara gemuruh, dentuman dan fenomena lava fountain. Sebaran abu vulkanik bahkan sempat berdampak terhadap operasional sejumlah bandara.
Karhutla juga masih menjadi perhatian. BNPB menyebut kebakaran hutan dan lahan masih ditangani di sejumlah wilayah, termasuk enam provinsi prioritas yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Karhutla juga dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur.
Rangkaian peristiwa tersebut mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia hidup di wilayah yang memiliki beragam risiko bencana. Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mitigasi, tetapi juga bagaimana manusia menjaga ketenangan dan keteguhan hati ketika menghadapi musibah.
Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an memberikan sejumlah tuntunan yang dapat menjadi pegangan ketika bencana terjadi. Nilai yang ditekankan bukan hanya kesabaran dan doa, tetapi juga ikhtiar, menyelamatkan jiwa, membantu sesama serta melakukan evaluasi terhadap cara manusia memperlakukan lingkungan.
Berikut tujuh tuntunan menghadapi bencana yang dapat menjadi bahan renungan sekaligus pegangan dalam menghadapi situasi sulit, dilansir dari dompetdhuafa.org :
1. Tetap sabar dan menjadikan Allah sebagai sandaran
Ketika bencana datang secara tiba-tiba, kepanikan sangat mudah muncul. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk tetap bersabar dan mengingat Allah.
Allah berfirman:
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.’”
(QS. Al-Baqarah: 155–156)
Sabar dalam konteks bencana bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa pun. Ketenangan justru dibutuhkan agar seseorang mampu mengambil keputusan penyelamatan dengan tepat, mengikuti informasi resmi dan tidak bertindak gegabah.
2. Doa harus berjalan bersama ikhtiar
Menghadapi bencana membutuhkan tindakan nyata. Mempersiapkan tas darurat, mengetahui jalur evakuasi, mengikuti perintah petugas dan menjauh dari wilayah berbahaya merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga keselamatan.
Al-Qur’an berfirman:
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”
(QS. Al-Anfal: 60)
Ayat tersebut pada konteks aslinya berbicara tentang persiapan menghadapi ancaman. Dalam konteks kesiapsiagaan bencana, semangat persiapan dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak seharusnya menunggu bencana terjadi baru bertindak.
Doa memberikan keteguhan batin, sedangkan ikhtiar diwujudkan melalui tindakan yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri dan orang lain.
3. Tumbuhkan Rasa Saling Menolong
Ketika bencana terjadi, orang yang terdampak membutuhkan bantuan. Ada yang kehilangan rumah, kesulitan memperoleh makanan, kekurangan air bersih atau harus mengungsi.
Al-Qur’an mengajarkan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Maidah: 2)
Prinsip tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari membantu evakuasi, menyediakan makanan dan air bersih, memberikan tempat sementara hingga membantu kelompok rentan.
Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Bantuan dapat diberikan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
4. Menyelamatkan nyawa harus menjadi prioritas
Dalam situasi bencana, keselamatan manusia harus ditempatkan di depan harta benda.
Al-Qur’an menyebutkan:
“…barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”
(QS. Al-Maidah: 32)
Karena itu, ketika terjadi gempa, erupsi, kebakaran atau bencana lainnya, masyarakat perlu mengutamakan evakuasi dan menjauh dari sumber bahaya.
Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil dan kelompok rentan lainnya juga membutuhkan perhatian lebih dalam proses evakuasi.
Jangan kembali ke rumah atau lokasi berbahaya hanya untuk menyelamatkan barang jika kondisi belum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
5. Perbanyak doa dan istighfar
Bencana dapat memberikan tekanan psikologis yang berat. Kehilangan rumah, harta benda bahkan anggota keluarga bisa meninggalkan luka mendalam.
Dalam kondisi tersebut, doa dan ibadah dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga ketenangan batin.
Allah berfirman:
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya memohon ampun kepada Allah. Doa bukan pengganti tindakan penyelamatan, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual ketika manusia menghadapi situasi di luar kendalinya.
6. Ringankan beban korban bencana
Musibah dapat membuat seseorang kehilangan hampir seluruh hal yang sebelumnya dimiliki. Pada titik inilah kepedulian masyarakat menjadi sangat berarti.
Allah berfirman:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
(QS. Al-Insan: 8)
Semangat tersebut dapat diterapkan ketika terjadi bencana melalui bantuan makanan, air minum, pakaian, perlengkapan bayi, obat-obatan, tempat tinggal sementara maupun dukungan lainnya.
Bantuan juga tidak selalu harus berupa materi. Menguatkan korban, mendengarkan keluh kesah penyintas dan membantu menyebarkan informasi resmi juga dapat menjadi bentuk kepedulian.
7. Ambil pelajaran, hikmah, perbaiki diri, dan evaluasi hubungan manusia dengan alam
Bencana menjadi momentum untuk melakukan evaluasi. Manusia dapat memperbesar atau mengurangi dampak bencana melalui cara mengelola lingkungan dan membangun permukiman.
Kerusakan hutan, pembakaran lahan sembarangan, buruknya pengelolaan sampah, pembangunan yang tidak memperhatikan risiko dan pengabaian terhadap tata ruang dapat memperbesar kerentanan masyarakat terhadap bencana tertentu.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat tersebut dapat menjadi bahan muhasabah agar manusia tidak hanya sibuk menghadapi bencana setelah terjadi, tetapi juga berusaha mengurangi risiko sebelum musibah datang.
Dalam konteks Indonesia saat ini, pesan tersebut terasa relevan. BNPB masih menangani karhutla di berbagai wilayah. Di Jawa Timur, kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan pegunungan, sedangkan enam provinsi menjadi prioritas penanganan karhutla.
Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau ketat. BNPB melaporkan sebaran abu vulkanik berdampak pada sejumlah wilayah dan sempat mengganggu operasional penerbangan. Status aktivitas gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga, dengan rekomendasi masyarakat tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi.
Doa tetap penting. Kesabaran juga penting. Namun, keduanya perlu berjalan bersama pengetahuan dan tindakan nyata.
Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi, mengikuti arahan petugas, menyimpan nomor darurat, menyiapkan kebutuhan dasar dan hanya mempercayai informasi kebencanaan dari sumber resmi.
Dalam menghadapi gempa, misalnya, masyarakat perlu mengikuti prinsip keselamatan seperti berlindung dari benda yang dapat jatuh saat guncangan berlangsung dan menuju tempat aman setelah kondisi memungkinkan. Saat menghadapi abu vulkanik, penggunaan masker dan pelindung mata serta menghindari zona bahaya menjadi bagian penting dari perlindungan diri. BNPB juga mengingatkan masyarakat terdampak Anak Krakatau untuk tetap tenang, menggunakan masker dan pelindung mata, serta tidak mendekati kawasan dalam radius bahaya.
Pada akhirnya, menghadapi bencana bukan hanya tentang bagaimana manusia bertahan ketika musibah datang. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga diri, melindungi orang lain, merawat lingkungan dan belajar dari setiap kejadian.
Al-Qur’an memberikan landasan spiritual agar manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi musibah. Sementara ilmu pengetahuan dan sistem mitigasi memberikan bekal agar manusia mampu mengurangi risiko.
Doa dan ikhtiar bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan bersama ketika manusia berusaha menjaga kehidupan di tengah ancaman bencana. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

8 hours ago
7


















































