SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sejumlah tokoh kerajaan yang tergabung dalam Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) memberikan klarifikasi mengenai pertemuan sejumlah perwakilan raja dengan GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan Purboyo di Sasana Narendra Karaton Surakarta, Sabtu (5/9/2026) malam.
Klarifikasi tersebut disampaikan secara terpisah pada Minggu (6/9/2026), menyusul pernyataan mengenai pertemuan tersebut dan pandangan terhadap prosesi Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIV.
Tiga tokoh yang memberikan keterangan yakni Raja Kerajaan Muna YM La Ode Riago, SH, Raja Nusak Termanu Vico Amalo, serta Esther Mangiri, Putri Bungsu Puang Balusu III dari Toraja yang juga merupakan bagian hukum MAKN.
Dari keterangan ketiganya, terdapat penegasan bahwa pertemuan dengan GKR Timoer Rumbai dan Purboyo merupakan pertemuan nonformal dan tidak dimaksudkan sebagai forum resmi MAKN untuk membahas persoalan internal Karaton Surakarta.
Pertemuan dengan GKR Timoer Disebut Nonformal
Raja Nusak Termanu, Vico Amalo, menjelaskan bahwa pertemuan sejumlah perwakilan MAKN dengan GKR Timoer Rumbai dan PB XIV versi Purboyo merupakan pertemuan nonformal yang dilatarbelakangi hubungan sejarah antara para raja Nusantara dengan Sri Susuhunan Pakubuwono XII dan Pakubuwono XIII.
“Pertemuan perwakilan MAKN dengan YM Timoer dan Purboyo adalah pertemuan nonformal, mengingat hubungan sejarah di masa lalu para Raja Nusantara dengan PB XII dan PB XIII,” kata Vico dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Menurut Vico, perwakilan MAKN yang hadir datang dengan itikad baik untuk memenuhi undangan makan malam. Pembicaraan yang berlangsung juga disebut hanya berupa obrolan ringan antarpihak.
“Perwakilan dari MAKN yang hadir beritikad baik untuk memenuhi undangan makan malam dari Ibu Asih dan kawan-kawan. Pembicaraan yang ada pun merupakan obrolan ringan antara kedua pihak,” ujarnya.
Penjelasan senada disampaikan Esther Mangiri. Putri Bungsu Puang Balusu III tersebut menegaskan bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan persahabatan secara pribadi antara Sekretaris Jenderal MAKN dengan GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan Purboyo.
“Pertemuan itu hanyalah pertemuan persahabatan antara pribadi Sekjen dengan GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan juga Purboyo. Karena salah satu anak dari raja di MAKN bersahabat baik, jadi bukan agenda resmi dari MAKN,” kata Esther.
Esther menilai jumlah raja yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan itu bukan agenda resmi MAKN.
“Dibuktikan dengan kehadiran hanya beberapa raja saja, mungkin hanya lima raja. Sementara raja-raja yang hadir saat pelantikan ada 25 raja,” jelasnya.
Esther sendiri menyatakan tidak ikut dalam pertemuan tersebut karena merasa kurang pantas untuk menghadirinya.
Raja Kerajaan Muna YM La Ode Riago. AndoKerajaan Muna Tegaskan Tidak Hadir
Sementara itu, Raja Kerajaan Muna YM La Ode Riago, SH, memberikan klarifikasi secara khusus bahwa Kerajaan Muna tidak hadir dalam silaturahmi dengan GKR Timoer Rumbai dan Purboyo tersebut.
“Perlu saya sampaikan pula, bahwa atas pelaksanaan silaturahmi MAKN dalam hal ini yang dihadiri oleh Raja beserta kubu Gusti Purbaya, Kerajaan Muna tidak hadir dalam silaturahmi tersebut,” ujar La Ode Riago.
Meski tidak hadir dalam pertemuan tersebut, La Ode Riago menyampaikan ucapan selamat dan dukungan atas penaikan tahta SISKS Pakoe Boewono XIV.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas undangan serta pelayanan yang diberikan kepada Kerajaan Muna selama mengikuti rangkaian kegiatan di Karaton Surakarta.
Menurutnya, Kerajaan Muna turut bangga atas terlaksananya penaikan tahta tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga nilai-nilai luhur, budaya, dan kearifan leluhur.
Raja-raja Hadir untuk Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIV
Vico Amalo menegaskan bahwa Kerajaan Nusak Termanu, Rote, Nusa Tenggara Timur, bersama keluarga kerajaan Nusantara lainnya yang tergabung dalam MAKN, hadir dalam acara adat Jumenengan atau penobatan SISKS Pakoe Boewono XIV pada Sabtu (5/9/2026).
Menurut Vico, kehadiran tersebut merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus sebagai keluarga besar MAKN.
Ia juga memberikan pandangannya mengenai prosesi adat yang disaksikan secara langsung.
“Menurut kami, prosesi dan ritual adat pengukuhan atas suatu keraton atau kerajaan memang harus diabadikan sebagai bukti dan dokumentasi sejarah atas perjalanan dari sebuah kerajaan,” ujarnya.
Berdasarkan pelaksanaan acara tersebut, Vico berpandangan bahwa SISKS Pakoe Boewono XIV telah dikukuhkan secara sah menurut adat yang diwariskan.
“Berdasarkan acara kemarin, menurut kami PB XIV sudah dikukuhkan secara sah secara adat yang sudah diwariskan (paugeran) dan diakui masyarakat adatnya dan masyarakat umum,” tegasnya.
Sementara Esther Mangiri menegaskan bahwa para raja yang hadir di Surakarta datang secara khusus untuk menghadiri Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIV Hangabehi.
“Para raja yang datang juga ke sana bukan datang untuk SISKS Pakoe Boewono XIV versi Purboyo, melainkan untuk SISKS Pakoe Boewono XIV Hangabehi,” kata Esther.
Menurut Esther, para raja telah meluangkan waktu secara khusus untuk menghadiri Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIV yang sebelumnya bernama KGPH Hangabehi, putra tertua PB XIII.
Pertanyaan soal Kementerian Tidak Dibahas
Esther juga memberikan klarifikasi mengenai pertanyaan yang disebut diajukan GKR Timoer Rumbai berkaitan dengan Kementerian Kebudayaan.
Menurut Esther, pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban dari Sekjen MAKN maupun para raja yang hadir karena kedatangan mereka bukan untuk membahas persoalan kerajaan ataupun agenda kelembagaan MAKN.
“Adapun pertanyaan yang diajukan oleh GKR Timoer Rumbai berkaitan dengan kementerian, itu tidak diberi jawab oleh Sekjen dan para raja, karena makna kedatangan bukan berkaitan tentang kerajaan, melainkan hanya hubungan persahabatan,” jelas Esther.
Vico juga memilih tidak memberikan tanggapan terhadap pendapat GKR Timoer Rumbai mengenai pertemuan tersebut karena dirinya mengaku tidak melakukan pembicaraan langsung dengan GKR Timoer.
“Secara pribadi, kami tidak ada pembicaraan langsung dengan GKR Timoer, sehingga kami tidak bisa menanggapi apa pun tentang pendapat beliau soal pertemuan tadi malam,” ungkap Vico.
MAKN Tegaskan Tidak Campuri Konflik Internal Karaton Surakarta
Vico menegaskan bahwa Kerajaan Nusak Termanu maupun MAKN tidak ikut campur dalam konflik internal yang terjadi di Karaton Surakarta.
“Kami tegaskan bahwa sebagai Kerajaan Nusak Termanu, ataupun sebagai organisasi MAKN, kami tidak ikut campur dalam konflik internal Keraton Surakarta,” tegasnya.
Esther juga menyampaikan bahwa MAKN tidak mencampuri urusan internal kerajaan.
Menurutnya, kehadiran para raja Nusantara dalam rangkaian Jumenengan merupakan bentuk silaturahmi, penghormatan terhadap tradisi, serta hubungan persaudaraan antarkerajaan Nusantara.
Sementara itu, Kerajaan Muna melalui La Ode Riago menyatakan keinginannya untuk membangun sinergi dengan Karaton Surakarta Hadiningrat.
“Kami berharap dapat membangun sinergi yang erat antara Kerajaan Muna dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, demi memperkokoh persaudaraan sesama kerabat kerajaan se-Nusantara, serta menjaga warisan luhur para leluhur demi kemuliaan bangsa kita bersama,” ungkapnya.
Klarifikasi yang disampaikan pada Minggu (6/9/2026) tersebut memperjelas kapasitas kehadiran masing-masing tokoh dalam rangkaian kegiatan di Karaton Surakarta.
Pertemuan dengan GKR Timoer Rumbai dan Purboyo disebut sebagai pertemuan nonformal dan bukan agenda resmi MAKN. Sementara kehadiran para raja Nusantara di Surakarta pada 5 September 2026 ditegaskan berkaitan dengan Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIV, sekaligus menjadi momentum silaturahmi dan persaudaraan antarkerajaan Nusantara.
Para tokoh tersebut juga menegaskan bahwa persoalan internal Karaton Surakarta bukan merupakan ranah yang hendak dicampuri oleh MAKN maupun kerajaan-kerajaan yang hadir. Ando
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

18 hours ago
13


















































