Resmi Bertakhta, PB XIV Hangabehi Ucapkan Ikrar Raja Keraton Surakarta di Watu Gilang

18 hours ago 19
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono (PB) XIV Hangabehi mengikrarkan diri sebagai Raja Keraton Surakarta melalui serangkaian prosesi adat sakral pada Sabtu (5/9/2026). Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Suksesi kepemimpinan Keraton Surakarta Hadiningrat resmi bergulir. Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono (PB) XIV Hangabehi mengikrarkan diri sebagai Raja Keraton Surakarta melalui serangkaian prosesi adat sakral pada Sabtu (5/9/2026).

Prosesi utama dimulai saat Sinuhun PB XIV miyos keluar dari kedhaton menuju Pagelaran, lalu berlanjut ke Manguntur Tangkil di Sitihinggil tepat di depan Meriam Nyai Setomi. Di atas Watu Gilang, Sinuhun mengumandangkan ikrar kesanggupan untuk menjalankan hukum adat, mengayomi abdi dalem, serta meneruskan benang merah sejarah dari era Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram.

Sinuhun didampingi para pengiring, kerabat, serta perangkat upacara yang telah ditentukan dalam tata adat Karaton Surakarta.

Rangkaian tersebut turut disertai ampilan dalem berupa pusaka dan perangkat kesenian yang menjadi bagian penting dalam prosesi adat.

Dalam ikrarnya, Sinuhun menyatakan telah dinobatkan dengan gelar Kanjeng Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama kaping 14.

“Ingsun ngundangake ana sanduwure Sela Tri Denta, yen ingsun wis kajumbunngake ing ari tumpak kasih 22 mulud 1960 kanthi jejuluk Kanjeng Dalem ingkang sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama kaping 14. Sabanjure ingsun kang mbacutake minangka pangreksaning hukum adat, lan sakabehe kang padha suwitani ngadep ing Kraton Surakarta padha nindakake gawa gawe. Rahayu, rahayu, rahayu,” ujar PB XIV dalam ikrarnya di Watu Gilang.

Ikrar tersebut menegaskan bahwa kedudukan raja dalam tradisi Keraton Surakarta tidak semata-mata berkaitan dengan kekuasaan atau kedudukan. Tetapi juga mengandung amanah untuk menjaga hukum adat, tata kehidupan keraton, serta meneruskan warisan leluhur.

Setelah Sinuhun menempati tempat yang telah ditentukan, rangkaian upacara dilanjutkan dengan wilujengan atau doa bersama.

Wilujengan diikuti para Konco Haji dan dipimpin Abdi Dalem Buru Suranoto. Peserta terdiri atas sentana dan abdi dalem yang telah menunaikan ibadah haji maupun umrah.

Dalam prosesi tersebut, para Bupati Nayaka turut hadir dengan mengenakan dodot sebagai bagian dari ketentuan busana adat.

Menurut, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng, Bupati Nayaka merupakan para pemimpin atau ketua pokokso yang berada di kabupaten-kabupaten tempat struktur paguyuban Kawila Karaton Surakarta (PAKASA) berada.

Sejumlah pejabat pemerintahan di lingkungan Karaton Surakarta juga hadir dalam rangkaian upacara.

Gending Menjadi Penuntun Prosesi

Salah satu ciri utama prosesi adat Karaton Surakarta adalah tidak digunakannya protokoler modern seperti pembawa acara atau master of ceremony (MC).

Setiap tahapan upacara berjalan berdasarkan tata adat dan dituntun oleh gending.

“Gending menjadi tuntunan utama yang memberikan tanda mengenai tahapan apa yang harus dilakukan setelah satu prosesi selesai,” jelas Gusti Moeng.

Dengan demikian, perpindahan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya tidak ditentukan oleh instruksi protokoler modern, melainkan mengikuti tanda musikal serta tata upacara yang telah diwariskan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perangkat kesenian dalam tradisi Karaton Surakarta tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menjadi bagian penting dari struktur dan jalannya upacara adat.

13 Gamelan dan Bedaya Ketawang

Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuntaskan seluruh rangkaian prosesi adat pada Sabtu (5/9/2026). Persiapan prosesi dilakukan selama sekitar satu pekan untuk memastikan seluruh tata cara adat berjalan sesuai ketentuan.

Dalam rangkaian tersebut, Karaton mengeluarkan 13 perangkat gamelan. Sejumlah gamelan memiliki sejarah panjang, di antaranya Kyai Udan Arum dan Kyai Udan Asih yang berasal dari masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwono IX pada 1872.

Gusti Moeng menjelaskan, prosesi diawali dengan mios dan kemudian dilanjutkan dengan Bedaya. Sinuhun menjalani prosesi dari Watu Gilang menuju Pagelaran dan mengucapkan sumpah untuk meneruskan benang merah sejarah dari Majapahit, Demak, Pajang hingga Mataram.

Prosesi juga diiringi ampyangan dalem serta sejumlah pusaka keraton yang dikumpulkan dari berbagai tempat penyimpanan.

Menurut Gusti Moeng, sumpah tersebut menjadi simbol tekad Sinuhun untuk menjadi pengayom sekaligus pengikat seluruh sentana dan abdi dalem.

Dalam prosesi kali ini, jumlah abdi dalem yang hadir dibatasi sekitar 2.500 orang.

Setelah prosesi ikrar, rangkaian dilanjutkan dengan Bedaya Ketawang. Gusti Moeng menyebut Bedaya Ketawang merupakan bagian penting dari tradisi yang diwariskan sejak masa Sinuhun ke-12.

Pelaksanaan Bedaya Ketawang disebut menjadi salah satu penanda penting bagi Sinuhun yang bertakhta di Mataram Surakarta. Karena itu, kemampuan melaksanakan prosesi tersebut tanpa kesalahan menjadi bagian dari tradisi yang dijaga hingga kini.

Kirab Belum Digelar

Berbeda dengan sejumlah prosesi sebelumnya, rangkaian kali ini tidak dilanjutkan dengan kirab.

Gusti Moeng mengatakan keputusan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah untuk kemudian diteruskan kepada Presiden.

“Kirabnya itu setelah selesai revitalisasi, insyaallah,” ujar Gusti Moeng.

Perbedaan juga terlihat pada busana yang dikenakan Sinuhun dalam beberapa tahapan prosesi.

Saat berada di Sitihinggil Manguntur Tangkil, Sinuhun mengenakan ageman Kepana Agem. Sementara ketika menjalani prosesi di Pagelaran, Sinuhun menggunakan ageman Takwa.

Menurut Gusti Moeng, ageman tersebut biasanya berkaitan dengan rangkaian kirab. Karena kirab belum dilaksanakan, prosesi kali ini berakhir di Pagelaran.

Perwakilan Kerajaan Nusantara Hadir

Rangkaian prosesi adat tersebut juga dihadiri sejumlah perwakilan kerajaan dan kesultanan dari berbagai wilayah Nusantara.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) KPH Eddy Wirabhumi menyebut para tamu datang dari sejumlah daerah, antara lain Rote, Permani, Jailolo, Bone, Lampung, Mempawah, Sulawesi, Sumedang Larang, Sumenep, Cirebon, serta Mangkunegaran.

Perwakilan Kadipaten Pakualaman juga hadir melalui putra Kanjeng Gusti Pakualaman. Sementara dari Kesultanan Yogyakarta hadir sejumlah kerabat kesultanan karena Sultan Yogyakarta tidak dapat hadir secara langsung.

Kehadiran para perwakilan kerajaan dan kesultanan tersebut menjadi bagian dari penghormatan sekaligus memperkuat hubungan antarkerajaan Nusantara dalam rangkaian prosesi adat Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dengan selesainya rangkaian prosesi tersebut, PB XIV Hangabehi menegaskan kedudukannya sebagai penerus takhta sekaligus pemangku amanah untuk menjaga tata adat dan warisan leluhur Karaton Surakarta. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|