JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peta kekuatan partai politik kembali bergeser. Survei terbaru Indekstat Konsultan Indonesia menunjukkan Partai Gerindra melesat jauh meninggalkan para pesaingnya, sementara sejumlah partai besar justru terpaut cukup jauh dalam angka elektabilitas.
Dalam pemaparan hasil survei yang disiarkan melalui kanal YouTube @indekstat, Kamis (12/2/2026), Head of Politics Indekstat Konsultan Indonesia Saiful Muhjab menyampaikan bahwa Gerindra memimpin dengan selisih signifikan.
“Urutan kedua ada PDIP dengan 7,8 persen dan PKB di urutan ketiga dengan 7,0 persen,” kata Saiful.
Ia menyebutkan, elektabilitas Gerindra mencapai 33,7 persen. Sementara itu, Partai Demokrat berada di angka 6,2 persen, disusul Golkar 5,5 persen, PKS 5,3 persen, PAN 3,5 persen, dan NasDem 3,1 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 11–25 Januari 2026 terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Seluruh responden berusia minimal 17 tahun dan memiliki hak pilih pada Pemilu 2029. Metode yang digunakan adalah wawancara tatap muka dengan enumerator terlatih serta teknik multistage random sampling. Margin of error survei ini diklaim sekitar 2,9 persen.
Saiful menjelaskan, pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka atau top of mind. Responden ditanya: Jika pemilu legislatif dilakukan hari ini, partai apa yang akan Anda pilih?
Namun, ia juga mengakui bahwa basis pemilih yang belum menentukan pilihan masih cukup besar.
“Responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 21,4 persen dan undecided voters 24,5 persen,” kata dia.
Dalam forum yang sama, Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra Mohamad Hekal Bawazier mengaku tidak menyangka dengan capaian tersebut. Ia juga menyinggung tingginya elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi calon presiden 2029.
Elektabilitas Prabowo disebut mencapai 47,2 persen, unggul atas sejumlah nama lain seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.
Hekal menyebut hasil survei itu menjadi bahan evaluasi bagi partainya.
“Dari apa yang dipaparkan Indekstat dalam survei ini, insyAllah memperlihatkan kebijakan dan apa yang dilakukan Presiden Prabowo berikut administrasi yang dilakukan kabinet pemerintahan rasanya sudah cukup benar dijalankan,” kata Hekal.
Meski demikian, hasil survei tersebut tidak luput dari sorotan. Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Hanteru Sitorus menilai terdapat sejumlah hal yang patut dipertanyakan dalam metodologi maupun penyajian hasil survei tersebut.
Menurutnya, tidak terlihat adanya insentif elektoral yang diperoleh partai-partai pendukung pemerintah, termasuk PDIP.
Ia juga menyoroti absennya penghitungan efek ekor jas serta tidak disertakannya data tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah.
“Ketika unsur itu dipotong dalam diskusi ini, maka hasilnya akan jomplang. Itu yang menjadi kontradiktif dalam survei ini,” ujar Deddy.
Dengan angka pemilih yang belum menentukan sikap masih di atas 20 persen, dinamika politik menuju Pemilu 2029 diperkirakan masih sangat cair. Hasil survei ini pun berpotensi menjadi bahan perdebatan sekaligus konsolidasi bagi masing-masing partai politik. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

3 hours ago
2















































